Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tradisi Putri Mandalika Jadi Magnet Pariwisata NTB, Festival Bau Nyale 2026 The Power of a Legend

Lombok Post Online • Senin, 9 Februari 2026 | 16:30 WIB
BAU NYALE: Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat memberikan sambutan pada Festival Bau Nyale 2026 di Pantai Seger, kawasan Kuta Mandalika, Sabtu (7/2).
BAU NYALE: Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat memberikan sambutan pada Festival Bau Nyale 2026 di Pantai Seger, kawasan Kuta Mandalika, Sabtu (7/2).

LombokPost - Festival Bau Nyale 2026 bertajuk The Power of a Legend kembali membuktikan diri sebagai magnet pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tradisi tahunan yang berakar pada legenda pengorbanan Putri Mandalika ini tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

Melalui Festival Bau Nyale 2026, Pemerintah Provinsi NTB berharap warisan budaya lokal terus terjaga. Sekaligus memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi pariwisata berbasis tradisi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang hadir bersama Ketua TP PKK NTB Sinta Agathia Soedjoko menyampaikan bahwa nilai pengorbanan Putri Mandalika merupakan kearifan lokal yang sarat makna spiritual dan sosial bagi masyarakat NTB.

“Pengorbanan seperti yang dilakukan Putri Mandalika dalam legenda adalah kearifan lokal yang mengiringi doa kita dalam membangun NTB Makmur Mendunia,” ujar gubernur saat memberikan sambutan di Pantai Seger, kawasan Kuta Mandalika, Sabtu (7/2).

Festival tahun ini dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah di NTB. Mereka berbaur dengan wisatawan mancanegara. Pembukaan acara dengan kesenian tradisional Betandak mampu membawa pengunjung larut dalam suasana budaya masa lampau yang bersahaja.

Beberapa agenda terpaksa dibatalkan akibat kondisi cuaca, seperti penobatan Putri Mandalika serta penampilan sejumlah grup musik.

Sejak siang hari, kawasan menuju lokasi festival dipadati pengunjung. Deretan pelaku UMKM memenuhi sisi jalan menuju Pantai Seger, menawarkan aneka kuliner dan produk lokal.

Kepadatan arus lalu lintas sempat terjadi akibat akses masuk yang terbatas di antara pagar kawasan sirkuit Mandalika dan hamparan danau air payau. Pengunjung dari arah Kuta juga harus bergantian melintasi jembatan kayu untuk mencapai area utama festival.

Tata letak panggung dan tribun penonton yang terpisah, namun terhubung jembatan kecil di atas jalur pantai, menghadirkan pengalaman berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ribuan penonton tampak memadati area festival hingga perbukitan sekitar. Menciptakan lanskap festival rakyat terbuka dengan alam sebagai latar pertunjukan, sembari menanti puncak tradisi menangkap nyale pada dini hari.

Penanggung jawab kegiatan Festival Bau Nyale 2026 Lalu Gde Diaz menyampaikan optimismenya terhadap keberlanjutan tradisi ini.

“Kami optimistis festival tradisi ini akan terus lestari dan mendatangkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Antusiasme pengunjung datang dari berbagai kalangan. Mak Ace, 65 tahun warga Lombok Utara, mengaku sengaja datang bersama keluarga untuk menikmati suasana Pantai Seger sekaligus menyaksikan tradisi Bau Nyale.

“Sekalian liburan keluarga. Kami juga ingin melihat langsung tradisi menangkap nyale,” katanya.

Sementara itu, Christina, 30 tahun, wisatawan asal Prancis, mengaku baru mengetahui Festival Bau Nyale setelah tiba di Kuta Mandalika.

“Saya belum pernah mendengar tentang festival ini sebelumnya. Tetapi karena saya pernah tinggal di Kuta dan mendengar cerita tentang Mandalika, saya memutuskan untuk datang ke sini untuk melihat tradisinya,” katanya. (lil/kominfotikntb/r3)

Editor : Siti Aeny Maryam
#Bau Nyale #Mandalika #Kuta #FESTIVAL #Putri Mandalika