LombokPost - Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Mandalika Bertais, Kota Mataram, Selasa (10/2).
Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan stabilitas harga bahan pokok menjelang Ramadan.
Sidak dilakukan bersama Direktorat Reserse Kriminal Khusus sekaligus Satgas Pangan Polda NTB, pejabat Bank Indonesia Perwakilan NTB, Perum Bulog Kantor Wilayah NTB, serta jajaran Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kota Mataram.
Dalam sidak tersebut, Gubernur Miq Iqbal menegaskan Pemerintah Provinsi NTB akan segera melakukan intervensi pasar. Khususnya berkaitan dengan melonjaknya harga cabai rawit.
Dari hasil pemantauan lapangan, harga cabai rawit tercatat berada di kisaran Rp 90 ribu hingga Rp 95 ribu per kilogram.
Jumlah ini jauh di atas harga acuan yang diharapkan sekitar Rp 57 ribu per kilogram.
“Lonjakan paling tinggi ada di cabai rawit, dan ini sangat memengaruhi indeks harga. Karena itu, kami tegaskan intervensi pasar akan dimulai Jumat ini melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) di seluruh pasar di NTB,” ujar Gubernur Miq Iqbal.
Kenaikan harga cabai rawit dipicu tiga faktor utama. Yakni curah hujan yang menghambat panen petani, tingginya pasokan cabai yang dikirim ke Pulau Jawa, serta meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadan.
Meski demikian, Gubernur Miq Iqbal memastikan tidak ditemukan indikasi penimbunan.
“Cabai adalah komoditas yang cepat rusak, sehingga kecil kemungkinan ditimbun. Ini murni mekanisme pasar. Namun kami tetap berkoordinasi dengan Polda NTB dan Bank Indonesia untuk memastikan tidak ada praktik yang merugikan masyarakat,” tegasnya.
Sebagai langkah pengendalian jangka pendek, Pemprov NTB juga akan berkomunikasi langsung dengan para pengepul besar di Lombok Tengah dan Lombok Timur agar memprioritaskan kebutuhan lokal sebelum pengiriman ke luar daerah.
“Kita di NTB tidak boleh kekurangan cabai. Saya minta para pengepul fokus memenuhi kebutuhan NTB terlebih dahulu supaya stok terjaga dan harga segera terkendali,” tambahnya.
Lonjakan harga ini turut dirasakan pelaku usaha kecil. Made Kuniarti, pedagang asal Gunung Sari, mengaku harus datang ke Pasar Mandalika untuk memperoleh harga yang relatif lebih rendah.
“Di tempat saya sudah Rp 115 ribu per kilo. Di sini masih Rp 95 ribu. Saya butuh sekitar 1,5 kilo setiap hari untuk jualan. Kami berharap pemerintah segera menggelar pasar murah,” ujarnya.
Selain memantau harga pangan, Gubernur Miq Iqbal juga meninjau kondisi kebersihan pasar dan saluran drainase yang mengalami pendangkalan.
“Saya minta perangkat daerah terkait segera menindaklanjuti agar aktivitas perdagangan tidak terganggu,” katanya.
Gubernur Miq Iqbal menegaskan bahwa intervensi pasar merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat dan memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman dan terjangkau menjelang Ramadan.
“Negara harus hadir. Tugas kami memastikan warga bisa menjalani Ramadan dengan tenang, kebutuhan pokok tersedia, dan harga tetap terkendali,” tutupnya. (lil/diskominfotikntb/r3)
Editor : Kimda Farida