Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Membongkar Sisi Gelap Proyek "Hijau": Mengapa Suara Perempuan dan Difabel Sering Terhapus dalam Transisi Energi?

Nurul Hidayati • Rabu, 18 Februari 2026 | 15:40 WIB
Mewujudkan Energi Berkeadilan: Gedsi Jet NTB Desak Narasi Inklusif dalam Proyek Transisi Energi
Mewujudkan Energi Berkeadilan: Gedsi Jet NTB Desak Narasi Inklusif dalam Proyek Transisi Energi

LombokPost - Di balik narasi besar mengenai penyelamatan planet dan solusi krisis iklim, tersimpan tantangan besar bagi kelompok rentan dalam kebijakan transisi energi di Indonesia.

Jurnalis sekaligus Sekretaris AJI Mataram, Susi Gustiana, menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar soal teknologi rendah karbon, melainkan soal hak asasi manusia dan keadilan bagi semua pihak.

Dalam paparannya, Susi menyoroti bahwa energi adalah hak dasar setiap warga negara. Namun, dalam konstruksi sosial yang tidak adil, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya berisiko menerima dampak negatif berlipat ganda dari proyek transisi energi baik sebagai pengguna maupun sebagai warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek Proyek Strategis Nasional (PSN).

Bongkar "Disinformasi" Energi Hijau

Susi mengingatkan peserta kegiatan Gedsi Jet NTB untuk waspada terhadap fenomena proyek "hijau" yang masih beroperasi dengan logika "kotor". Praktik ekstraktivisme, perampasan lahan, dan ketimpangan kuasa sering kali berlanjut dengan menggunakan legitimasi krisis iklim. "Narasi teknokratis di media sering kali menyingkirkan pengalaman perempuan, difabel, dan komunitas rentan yang terdampak langsung," ungkap Susi.

Oleh karena itu, perspektif GEDSI (Gender, Disability, and Social Inclusion) menjadi krusial untuk memastikan prinsip "No one left behind" atau tidak ada satu pun orang yang tertinggal dalam perubahan besar ini. Tujuan kegiatannya membangun jurnalisme warga dengan menggunakan perspektif Gedsi.

Menghapus Bias dalam Pemberitaan

Media massa memiliki peran vital sebagai pembentuk realitas sosial. Namun, Susi mencatat masih banyak pemberitaan yang terjebak dalam berbagai bias.

Bias Narasumber: Hanya mengutip pihak pemerintah atau laki-laki, tanpa mendengar suara penyintas atau kelompok rentan.

Bias Bahasa: Menggunakan diksi yang mengandung stigma atau tidak netral gender.

Bias Visual: Menampilkan ilustrasi yang tidak setara atau hanya memuluskan citra perusahaan.

"Jika memiliki perspektif patriarki, maka jurnalisme tersebut hanya akan memperkuat ketimpangan yang sudah ada," tegasnya.

Inspirasi dari Kaki Rinjani: Praktik Baik di Tetebatu

Di tengah tantangan tersebut, terdapat titik terang dari Desa Tetebatu Selatan, Lombok Timur. Di sana, transisi energi justru dipelopori oleh kaum perempuan melalui pemanfaatan biogas.

Kisah Inaq Rumisah di Dusun Lekong Pituk Deye menjadi bukti nyata bagaimana energi bersih dapat dikelola secara mandiri oleh komunitas. Melalui instalasi biogester untuk mengolah limbah menjadi energi memasak, para perempuan di kaki Rinjani membuktikan bahwa mereka bukan sekadar objek, melainkan subjek utama yang mampu membawa perubahan dari dapur mereka sendiri.

Menuju Jurnalisme Berempati

Menutup paparannya, Susi mengajak para peserta Gedsi Jet NTB untuk menulis dengan empati dan nurani. Prinsip WE For JET (We For Just Energy Transition) yang mencakup hak asasi, kesetaraan gender, inklusivitas, pemberdayaan, dan akuntabilitas harus menjadi landasan dalam setiap karya jurnalistik terkait energi terbarukan.

Dengan jurnalisme yang inklusif, transisi energi diharapkan tidak hanya mengubah sumber energi dari fosil ke terbarukan, tetapi juga mengubah struktur sosial menjadi lebih adil dan bermartabat bagi semua gender.

Editor : Kimda Farida
#Pembangunan #korban #berkeadilan #transisi #GEDSI #jet