LombokPost - Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai tancap gas.
Menjelang puncak panen raya, Bulog berkomitmen memperkuat cadangan pangan daerah dengan target serapan gabah yang fantastis, mencapai 240.000 ton setara beras untuk tahun ini.
Demi memastikan target tersebut bukan sekadar angka, Bulog NTB mengambil langkah ekstrem dengan memberlakukan operasional tujuh hari seminggu tanpa hari libur bagi petugas lapangan.
Optimisme Menuju Puncak Panen Raya
Pemimpin Wilayah (Pimwil) Bulog NTB, Mara Kamin Siregar (yang akrab disapa Regar), melaporkan bahwa hingga pertengahan Februari 2026, realisasi serapan telah mencapai 11.431 ton. Meski saat ini progres baru menyentuh angka 4 persen, pihaknya tetap optimistis angka tersebut akan melonjak tajam saat memasuki puncak panen.
"Kami optimis pada puncak panen raya di bulan Maret dan April mendatang, target 240.000 ton tersebut dapat tercapai. Harapan kami, pada semester pertama tahun ini, minimal 50 persen dari total target tahunan sudah bisa tercapai," ujar Regar (19/2/2026).
"Sabtu-Minggu Tetap Kerja"
Kebijakan operasional tanpa hari libur menjadi kunci utama strategi Bulog musim ini. Petugas lapangan dikerahkan setiap hari, termasuk hari Sabtu dan Minggu, untuk terjun langsung menyerap gabah dan beras dari tangan petani di seluruh wilayah NTB.
Langkah ini diambil guna memastikan tidak ada hasil panen petani yang terbuang atau tidak terakomodasi.
Jaminan Stok untuk Ramadan dan Idulfitri
Selain memperkuat stok di gudang (hulu), Bulog juga menjamin ketersediaan di pasar (hilir) menjelang bulan suci Ramadan. Masyarakat diminta tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan dan harga beras di pasaran.
Beras SPHP: Bulog memastikan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) akan terus digelontorkan sesuai ketentuan pemerintah.
Total Cadangan: Saat ini, stok beras di NTB dinyatakan aman hingga satu tahun ke depan dengan total cadangan mencapai 154.000 ton.
"Kami sampaikan kepada saudara-saudara kita yang akan menjalankan ibadah puasa, Bulog siap menjaga ketersediaan beras SPHP di masyarakat," tegas Regar.
NTB Menuju Swasembada Pangan yang Kokoh
Dengan kombinasi stok yang melimpah dan komitmen serapan yang agresif, NTB diprediksi akan menjadi benteng ketahanan pangan yang kuat di Indonesia Timur.
Langkah "tanpa libur" ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga baik di tingkat petani maupun konsumen selama masa permintaan tinggi di hari besar keagamaan.
Editor : Kimda Farida