Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dinas LHK NTB Tekankan Jangan Hanya Buang Sampah pada Tempatnya, Pemilahan Juga Penting

Yuyun Kutari • Minggu, 22 Februari 2026 | 12:10 WIB

SAMPAH MELUBER: Sejumlah warga melintas di sekitar gunungan sampah TPAR Kebon Kongok, Lombok Barat, beberapa waktu lalu.
SAMPAH MELUBER: Sejumlah warga melintas di sekitar gunungan sampah TPAR Kebon Kongok, Lombok Barat, beberapa waktu lalu.

LombokPost - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB mewanti-wanti, terjadi peningkatan volume sampah selama bulan Ramadan. Kenaikan diperkirakan mencapai 10–15 persen dari rata-rata harian. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas LHK NTB Samsudin menjelaskan dalam kondisi normal, timbunan sampah yang masuk ke Tempat Pengolahan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok, berada di kisaran 250 hingga 300 ton per hari.  “

“Ada peningkatan mungkin sekitar 10–15 persen dari total biasa, sehingga dengan asumsi tersebut, maka akan ada tambahan sekitar 25 hingga 30 ton sampah per hari selama Ramadan,” tegasnya, Jumat (20/2).

Jumlah tersebut dinilai cukup tinggi, sehingga perlu diantisipasi secara serius. Karena itu, pihaknya menegaskan perlunya dilakukan pemilahan sampah dari Kota Mataram dan Lombok Barat, guna menekan beban yang masuk ke TPAR Kebon Kongok.

Saat ini Pemprov NTB melakukan revitalisasi landfill TPAR Kebun Kongok. Tepatnya, di landfill 2A dan landfill 1. Pekerjaan hampir rampung, namun proses konstruksi membatasi sementara pemanfaatan lahan.

Dalam kondisi ini, Dinas LHK NTB menegaskan pentingnya pembatasan dan pemilahan sampah sebelum dikirim ke TPA. Harapannya agar tidak semua sampah langsung dibuang, tanpa proses pemilahan.

“Kami minta harus ada proses pemilahan, jangan sampai semua sampah masuk ke TPA. Itu yang kita harapkan,” ujar Samsudin. 

Untuk menekan beban TPAR Kebon Kongok, Pemprov NTB terus mendorong optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Menurutnya, kehadiran sejumlah TPST tersebut merupakan strategi untuk memastikan sampah yang dibawa ke TPA benar-benar residu akhir, bukan sampah campuran yang seharusnya masih bisa diolah. 

“Bagaimana agar sampah yang akan dibawa ke TPA itu bukan menambah residu, tapi kita mengurangi sampah yang masuk,” katanya.

Minimal volume sampah yang masuk akan berkurang sehingga umur landfill TPAR Kebon Kongok diperpanjang. Sebaliknya, jika seluruh sampah tanpa pemilahan langsung dibuang ke TPA, maka usia landfill semakin pendek.

Meskipun sistem yang digunakan adalah sanitari landfill, upaya pengurangan sampah tetap menjadi keharusan. “Sanitari landfill itu kan proses bagaimana supaya kita tidak timbul bau. Tapi tetap saja sampah harus dikurangi masuk ke TPA,” ujarnya. 

Keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah. “Sangat mengharapkan pemilahan. Dan yang paling utama adalah kesadaran masyarakat untuk pemilahan sampahnya,” kata dia.

Ia berharap sampah yang telah dipilah dapat diolah kembali sehingga memiliki nilai guna. “Kalau kita mengolahnya, ini menghasilkan sesuatu yang bermakna untuk dimanfaatkan kembali,” pungkasnya.

Sementara itu, untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah, Kepala Dinas LH Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi telah menyiapkan skema cadangan, yakni menyiagakan TPS Bintaro, sebagai lahan antisipasi (buffer zone).

“Kalau memang ada kelebihan volume yang tidak tercover segera, kita akan oper atau tampung sementara di TPS Bintaro,” jelasnya.

Sementara untuk wilayah Sandubaya, kondisinya saat ini sudah penuh dan tidak memungkinkan lagi untuk diisi. 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Kota Mataram #ramadan #Tempat Pengolahan Sampah Terpadu #sampah #TPA #TPAR Kebon Kongok #tpst #residu #NTB #Pemilahan