Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Para Diaspora NTB saat Puasa Ramadan di Tanah Rantau, Lakemba Ramadan Night Festival buat Puasa di Sydney Jadi Berwarna

Lestari Dewi • Kamis, 5 Maret 2026 | 15:21 WIB

Lakemba Ramadhan Festival menghadirkan beragam kuliner halal dari berbagai negara setiap tahunnya.
Lakemba Ramadhan Festival menghadirkan beragam kuliner halal dari berbagai negara setiap tahunnya.

Ramadan selalu menghadirkan suasana khas di Nusa Tenggara Barat.

Azan yang bersahutan, pasar takjil yang ramai, serta langkah jamaah menuju masjid di gang-gang kecil menjadi potret yang begitu lekat diingatan.

Namun ribuan kilometer dari kampung halaman, Rahmatul Furqan perantau asal NTB kini menjalani bulan suci dalam nuansa yang jauh berbeda.

----

SEJAK awal tahun lalu, Uki sapaan akrabnya, menetap di Sydney untuk melanjutkan studi doktoral (S3) di Western Sydney University.

Keputusan merantau dilandasi keinginan memperdalam bidang keilmuan sekaligus memperluas perspektif global.

Baginya, perpindahan ini bukan hanya langkah akademik, tetapi juga perjalanan pendewasaan diri.

Ramadan di negeri orang bukan pengalaman pertamanya. Selepas SMA, Uki sudah terbiasa hidup jauh dari keluarga.

Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Diponegoro, Semarang, sebelum melanjutkan S2 di Melbourne pada 2017 dan menjalani dua kali Ramadan di Australia.

Pengalaman itu membentuk ketahanan emosional sekaligus kedewasaan spiritualnya dalam memaknai puasa tanpa kehadiran langsung keluarga.

“Perbedaan paling terasa adalah atmosfer sosialnya,” ujarnya pada Lombok Post.

Jika di NTB Ramadan menjadi pengalaman kolektif, lingkungan seolah ikut berpuasa bersama, namun di Sydney, aktivitas publik berjalan normal.

Tidak ada penyesuaian jam kerja atau perubahan ritme kota. Warung dan kafe tetap buka seperti biasa, bahkan aroma makanan menggoda di siang hari.

Durasi puasa di Sydney saat ini mencapai sekitar 15 jam, dari pukul 05.00 hingga mendekati 20.00 waktu setempat.

Musim panas membuat siang terasa lebih panjang dan terik. Untuk menyiasatinya, Uki mengatur pola sahur dengan disiplin, memastikan asupan cairan cukup, serta mengelola energi agar tetap produktif di tengah aktivitas akademik.

Tantangan terbesar justru datang dari jarak dengan keluarga. Tidak ada kebersamaan sahur di meja makan rumah atau buka puasa penuh canda. Rasa rindu kerap menyelinap, terutama saat menjelang berbuka. Video call menjadi jembatan emosional yang menjaga kehangatan tetap terhubung meski terpisah samudra.

Meski begitu, Ramadan di perantauan bukan tanpa warna. Komunitas Indonesia di Sydney cukup aktif.

Uki sempat mengikuti buka puasa bersama komunitas Minang Saiyo yang menyambutnya hangat sebagai sesama warga Indonesia.

Kebersamaan itu menghadirkan kembali rasa kekeluargaan yang sering dirindukan.

Suasana Ramadan juga terasa di kawasan Lakemba melalui Lakemba Ramadan Night Festival.

Festival yang berlangsung selama sebulan penuh itu menghadirkan beragam kuliner halal dari berbagai negara. Ribuan pengunjung memadati jalan utama setiap malam.

“Sate Madura menjadi salah satu primadona, dengan antrean panjang yang menunjukkan besarnya minat masyarakat, termasuk warga lokal Australia,” kata pria alumnus SMPN 6 Mataram ini.

Namun tetap saja, tradisi NTB seperti berburu takjil dan meriahnya tarawih di masjid-masjid kampung menjadi momen yang paling ia rindukan.

Ramadan di NTB bukan sekadar ritual ibadah, melainkan peristiwa sosial yang menghangatkan ruang-ruang kebersamaan.

Lakemba Ramadan Festival menjadi perayaan Ramadan terbesar di Australia yang secara total, bisa dipadati oleh jutaan pengunjung selama sebulan penuh.
Lakemba Ramadan Festival menjadi perayaan Ramadan terbesar di Australia yang secara total, bisa dipadati oleh jutaan pengunjung selama sebulan penuh.

Menjalani Ramadan sebagai minoritas justru memberinya pelajaran berharga tentang toleransi dan empati.

Dialog dengan teman kampus yang penasaran tentang puasa membuka ruang saling pengertian. “Ramadan di sini terasa lebih reflektif,” katanya.

Baginya, Ramadan di negeri orang bukan sekadar latihan menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, ia adalah proses belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri, sabar, dan terbuka dalam masyarakat yang plural.

Dan di tengah jarak yang memisahkan, rindu kepada keluarga di NTB tetap menjadi doa yang diam-diam dipanjatkan setiap malam.

“Jauh di mata bukan berarti jauh di hati, karena nilai-nilai yang kita bawa dari kampung halaman akan selalu menjadi kompas dalam perjalanan kita,” tutup bungsu dari tiga bersaudara ini. 

Editor : Kimda Farida
#Cerita #Puasa ramadan #Diaspora #tanah rantau #sydney