Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Petugas BKK Kelas 1 Mataram Sita Nasi Kotak hingga Sambal Milik JCH Kloter 2 Lombok Tengah, Cegah Diare Jelang Terbang ke Tanah Suci

Yuyun Kutari • Rabu, 22 April 2026 | 10:51 WIB
Petugas BKK Kelas 1 Mataram teliti memeriksa barang bawaan JCH Kloter 2 asal Lombok Tengah, setibanya di Asrama Haji Embarkasi Lombok, Rabu (22/4). (YUYUN/LOMBOK POST).
Petugas BKK Kelas 1 Mataram teliti memeriksa barang bawaan JCH Kloter 2 asal Lombok Tengah, setibanya di Asrama Haji Embarkasi Lombok, Rabu (22/4). (YUYUN/LOMBOK POST).

LombokPost – Sebanyak 392 jamaah calon haji (JCH) Kloter 2 asal Lombok Tengah tiba di Asrama Haji Embarkasi Lombok, Rabu (22/4). 

Setibanya di lokasi, seluruh barang bawaan jamaah langsung menjalani pemeriksaan ketat oleh petugas Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas 1 Mataram, guna memastikan tidak ada makanan maupun obat-obatan yang berpotensi membahayakan kesehatan selama perjalanan ibadah haji.

Dari hasil pemeriksaan, petugas masih menemukan sejumlah jamaah membawa makanan seperti nasi kotak, nasi bungkus, sambal, kue basah, hingga jamu tradisional yang tidak memenuhi standar. 

Baca Juga: Kawal Keberangkatan Kloter Pertama, Satpol PP NTB Pastikan Asrama Haji Loang Baloq Kondusif

Ketua Tim Kerja 4 BKK Kelas 1 Mataram dr Ferry Wardhana mengatakan, pemeriksaan barang bawaan jamaah memang rutin dilakukan setiap tahun sebagai langkah pencegahan.

“Ini sudah setiap tahun seperti ini. Jadi setiap jamaah itu akan kita cek untuk periksa barang bawaannya. Biasanya untuk barang-barang yang cepat basi seperti kue basah, sambal basah yang ada terasinya, kemudian obat-obatan jamu, itu tidak akan boleh,” ujarnya, saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Lombok.

Ia menuturkan, makanan yang ditemukan di dalam tas jamaah umumnya merupakan bekal sarapan dari daerah asal yang tidak sempat dikonsumsi sebelum keberangkatan menuju asrama. “Tadi kayaknya itu sarapannya mereka. Jadi mereka dapat sarapan dari sana," katanya.

Menurut Ferry, makanan seperti nasi kotak yang dibawa jamaah sebenarnya belum dalam kondisi basi saat tiba di asrama haji. Namun, petugas khawatir makanan tersebut akan disimpan terlalu lama, lalu dikonsumsi beberapa jam kemudian sehingga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

“Kalau sampai sekarang belum basi. Cuma ditakutkan nanti akan disimpan terus kemudian dimakan nanti siang, itu pasti akan jadi basi. Apalagi jamaah sekarang akan dapat makan siang juga. Jadi kemungkinan besar itu tidak akan dimakan nasinya di sini. Jadi kita mengambil mitigasinya. Daripada mereka makan yang di sini, mending kita sita saja karena ditakutkan akan basi,” bebernya.

Baca Juga: 5.798 JCH NTB Siap Diberangkatkan, Layanan Haji di Madinah dan Makkah Siap 100 Persen

Penyitaan dilakukan karena petugas tidak ingin jamaah mengalami gangguan kesehatan menjelang penerbangan menuju Tanah Suci. Sebab, kondisi seperti diare dapat menghambat proses keberangkatan jamaah.

"Dampaknya kalau dikonsumsi oleh jamaah, pasti dikhawatirkan akan menceret. Kan ini penerbangan juga akan cepat. Nanti malam mereka sudah persiapan penerbangan, takutnya kalau diare. Jadi kalau orang diare itu kan tidak boleh naik pesawat,” tegas Ferry.

Ia menegaskan pada intinya barang-barang seperti makanan sebaiknya tidak perlu dibawa karena jamaah dipastikan akan mendapatkan asupan makanan yang lebih dari cukup di asrama haji. 

Para jamaah akan menerima jatah dua kali makan dan satu kali camilan setiap harinya sehingga kebutuhan konsumsi mereka sudah terpenuhi. "Ini semua sudah cukup," tegasnya.

Selain makanan, petugas juga memeriksa seluruh obat-obatan yang dibawa jamaah untuk memastikan jumlah dan jenisnya sesuai ketentuan. “Iya, kita periksa semuanya. Jadi semua obat bawaan jemaah kita periksa semuanya,” ujarnya.

Baca Juga: 80 Persen Lebih Jamaah Berisiko Tinggi, Penyakit Campak Jadi Ancaman Tambahan

Ferry menjelaskan, obat yang diperbolehkan dibawa adalah obat pribadi dengan jumlah secukupnya untuk kebutuhan selama 40 hari di Tanah Suci, serta harus memiliki izin resmi.

“Yang pertama intinya tidak berlebihan, jadi kebutuhan obat sampai 40 hari ke depan. Terus kemudian obatnya sudah tercatat, dan membawa obat yang sesuai standar dari Kementerian Kesehatan. Jadi sudah ada BPOM-nya, sudah ada standar halalnya,” paparnya.

Untuk obat atau jamu yang tidak sesuai standar, petugas akan melakukan penyitaan sementara dan mengembalikannya setelah jamaah pulang dari ibadah haji.

“Kalau seandainya dia berbahaya dan tidak sesuai standar akan kami sita biasanya. Tapi kalau khusus yang jamu dan obat-obat itu akan kami simpan. Nanti kalau jemaahnya sudah pulang ke sini akan kami serahkan lagi,” katanya.

Ferry pun mengimbau jamaah pada kloter berikutnya agar tidak lagi membawa makanan berlebih dari rumah maupun dari titik keberangkatan karena seluruh kebutuhan konsumsi telah disiapkan di asrama haji.

“Ya intinya untuk barang-barang makanan seperti ini sebaiknya tidak dibawa. Karena jamaah haji sudah pasti akan mendapat makanan di asrama haji ini. Jadi mereka sehari dua kali makan, satu kali snack. Jadi sudah cukup,” ujarnya.

Baca Juga: BIZAM Lombok Siap Kawal 15 Kloter Jamaah Haji NTB, Ini Jadwal Lengkapnya!

Ia juga meminta keluarga jamaah tidak perlu repot menyiapkan sambal basah karena berpotensi disita petugas. “Iya. Kalau sambal yang basah yang pakai terasi itu akan kami sita,” katanya.

Meski demikian, sambal berbahan cabai kering tanpa campuran terasi masih diperbolehkan dibawa selama tidak menimbulkan bau menyengat di dalam pesawat.

“Kalau masih untuk cabai dan dia tidak ada terasinya masih boleh. Intinya tidak pakai terasi, tidak berbau. Biasanya kan maskapai tidak boleh membawa barang yang berbau,” tandasnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
#Haji #Lombok Tengah #jamaah calon haji #Embarkasi lombok #Asrama Haji