Capaian ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bukti konsistensi daerah dalam menjaga standar kualitas event berskala nasional.
Pembukaan festival yang berlangsung pada Jumat malam, 24 April 2026, di pelataran bersejarah Museum Asi Mbojo dan Paruga Nae Convention Hall, berlangsung dengan nuansa khidmat namun meriah.
Baca Juga: Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Kasat Pol PP NTB Dampingi Wagub dalam Pembinaan KPH di Bima
Kehadiran Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Damayanti Putri sebagai tamu kehormatan, didampingi langsung oleh Kasat Pol PP Provinsi NTB Dra. Nunung Triningsih M.M., , menegaskan dukungan penuh pemerintah provinsi terhadap pelestarian tradisi Mbojo.
Festival yang dijadwalkan berlangsung hingga 27 April 2026 ini menempatkan tradisi Rimpu, busana khas sarung tenun yang melambangkan kehormatan perempuan Bima, sebagai daya tarik utama.
Namun, ulasan KEN 2026 menyoroti bahwa festival ini telah bertransformasi menjadi mesin ekonomi kreatif yang menjadi ruang bagi pengrajin tenun dan pelaku UMKM lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Baca Juga: Mandalika Kartini Race 2026: Audya Anjani, Pembalap Perempuan Asal Lombok Siap Berikan Kejutan
Juga sebagai diplomasi budaya yang bisa memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal Bima kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dan juga standar pariwisata berkelanjutan yang memadukan aspek konservasi budaya dengan manajemen event yang profesional.
Satu aspek yang menarik perhatian adalah keterlibatan aktif Satpol PP Provinsi NTB. Kehadiran mereka tidak hanya terbatas pada pendampingan protokoler pimpinan daerah, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam memastikan aspek keamanan dan ketertiban umum.
Dalam konteks pariwisata, suasana yang kondusif adalah "produk" utama yang dicari wisatawan.
Dengan pengawalan yang tertib, Satpol PP turut berkontribusi membangun citra positif pariwisata NTB, memastikan bahwa setiap pengunjung dapat menikmati keindahan budaya Bima tanpa rasa khawatir.
Sementara itu, dengan kembali masuknya Rimpu Mantika dalam KEN 2026, tantangan bagi Kota Bima adalah terus berinovasi tanpa mencabut akar tradisi.
Sinergi antara pemerintah provinsi, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi kunci utama agar festival ini tidak hanya menjadi pesta rakyat sesaat, tetapi menjadi investasi jangka panjang bagi kemajuan sektor pariwisata Nusa Tenggara Barat.
Editor : Siti Aeny Maryam