Setelah sukses mengoperasikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Karang Bongkot, kini yayasan tersebut resmi melebarkan sayapnya dengan mengoperasikan SPPG baru di Dusun Kerangkeng Timur, Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat.
Mulai beroperasi tepat pada Senin, 11 Mei 2026, fasilitas ini hadir dengan kapasitas layanan yang signifikan.
Baca Juga: Mengintip Rahasia SPPG Karang Bongkot yang Bikin Ribuan Siswa Ketagihan Santap MBG
Tercatat sebanyak 1.438 penerima manfaat langsung merasakan dampak dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini.
Cakupannya meliputi siswa-siswi di 7 sekolah serta kelompok prioritas B3 (Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita non-PAUD) yang tersebar di 4 dusun wilayah tersebut.
Kendali Mutu di Tangan Ahli
Berbeda dengan penyedia layanan pangan pada umumnya, SPPG di bawah asuhan Yayasan Batu Emas menonjol karena standar kontrol kualitasnya yang sangat ketat.
Baca Juga: Dapur MBG Ramai-Ramai Urus Sertifikat Higiene, Dikes Mataram Pastikan Tak Ada "Jalur Belakang"
Pemimpin Yayasan Batu Emas, Muhazam, SP., menegaskan bahwa skala penyediaan yang besar bukanlah alasan untuk menurunkan standar rasa maupun nilai gizi. Sebagai seorang Sarjana Pertanian, Muhazam menerapkan pendekatan sains dalam menjaga rantai pasok.
"Perhatian kami bukan hanya sekedar menjaga kualitas makanan tapi juga efektivitas distribusi dan ketepatan waktu penyajian," tegas Muhazam saat ditemui di lokasi operasional.
Setiap porsi makanan dirancang secara presisi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Menu yang disajikan tidak hanya sekadar mengenyangkan, tetapi wajib memenuhi unsur keseimbangan karbohidrat, protein hewani, sayuran, dan buah-buahan. Tujuannya jelas: memastikan anak-anak memiliki energi dan fokus yang optimal untuk menyerap pelajaran di sekolah.
Higienitas dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Aspek kebersihan menjadi pilar utama dalam operasional harian SPPG Banyumulek. Mulai dari seleksi bahan baku yang ketat, proses pengolahan yang higienis, hingga penggunaan perlengkapan standar bagi para juru masak, semuanya diawasi dengan teliti hingga makanan sampai ke tangan penerima manfaat.
Namun, dampak keberadaan SPPG ini tidak hanya berhenti di meja makan. Operasional skala besar ini secara otomatis menciptakan ekosistem ekonomi baru di Lombok Barat.
Dengan kebutuhan bahan baku yang masif setiap harinya, Yayasan Batu Emas memprioritaskan penyerapan hasil tani dan produk lokal, yang secara langsung membantu kesejahteraan petani dan pedagang di sekitar wilayah operasional.
Dedikasi yang ditunjukkan oleh Muhazam dan timnya kini mulai dipandang sebagai benchmarking atau standar baru bagi pengelola SPPG lainnya di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Konsistensi dalam menjaga kualitas di tengah tantangan logistik menunjukkan bahwa pengelolaan program gizi nasional dapat dilakukan secara profesional dan berdampak luas.
Melalui langkah nyata di Desa Banyumulek ini, harapan untuk menciptakan "Generasi Emas" melalui intervensi gizi sejak dini di Lombok Barat kini bukan lagi sekadar visi, melainkan kenyataan yang tengah dibangun satu porsi demi satu porsi.
Editor : Siti Aeny Maryam