Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Induk Lutung Peluk Anaknya di Hutan Ulem-Ulem, Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Habitat Satwa

Hamdani Wathoni • Rabu, 13 Mei 2026 | 11:40 WIB
HARUS DILINDUNGI: Induk lutung hitam (Trachypithecus auratus) memeluk anaknya di kawasan Hutan Ulem-Ulem, Resor Tetebatu, SPTN Wilayah II Taman Nasional Gunung Rinjani. (DOK PEH TNGR)
HARUS DILINDUNGI: Induk lutung hitam (Trachypithecus auratus) memeluk anaknya di kawasan Hutan Ulem-Ulem, Resor Tetebatu, SPTN Wilayah II Taman Nasional Gunung Rinjani. (DOK PEH TNGR)

LombokPost – Momen hangat seekor induk lutung hitam atau lutung budeng (Trachypithecus auratus) yang memeluk anaknya berhasil didokumentasikan petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) saat patroli rutin di kawasan Hutan Ulem-Ulem, wilayah kerja Resor Tetebatu, SPTN Wilayah II Taman Nasional Gunung Rinjani.

Potret tersebut menjadi pengingat bahwa kawasan hutan tropis bukan hanya kumpulan pepohonan, tetapi juga rumah bagi berbagai satwa liar yang harus dijaga kelestariannya bersama.

Hutan Ulem-Ulem sendiri dikenal sebagai kawasan “Monkey Forest” karena menjadi habitat alami berbagai jenis primata, terutama lutung hitam. Satwa ini kerap terlihat bergelantungan di tajuk pepohonan, mencari makan, hingga berinteraksi dalam kelompoknya.

Wisatawan yang melintasi jalur kawasan tersebut juga cukup sering berkesempatan menyaksikan langsung aktivitas satwa liar di habitat alaminya.

Sebagian besar aktivitas lutung dilakukan di atas pohon. Mulai dari beristirahat, bermain, hingga mencari makan. Jenis primata ini tergolong satwa folivora yang lebih banyak mengonsumsi pucuk daun muda, buah, bunga, dan sesekali serangga kecil.

Baca Juga: Menolak Kereta Gantung Rinjani, Menjaga Harga Sebuah Keaslian: Tidak Ada Jalan Instan Menuju Rinjani

Yang menarik, anak lutung lahir dengan warna rambut oranye keemasan yang sangat berbeda dengan warna hitam pekat induknya.

Warna tersebut kemudian berubah secara bertahap seiring pertumbuhan. Saat lahir hingga usia sekitar dua sampai tiga bulan, anak lutung memiliki warna oranye terang akibat dominasi pigmen feomelanin.

Memasuki usia empat hingga tujuh bulan, warna rambut mulai bercampur antara oranye dan hitam karena pigmen eumelanin mulai berkembang. Setelah berusia sekitar 22 bulan, warna rambut akan berubah konsisten menjadi hitam pekat seperti lutung dewasa.

Baca Juga: Bank NTB Syariah Perluas Ekosistem QRIS Cross Border di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, 34 Ojek Wisata Kini Layani Pembayaran Non Tunai

Perubahan warna tersebut terjadi melalui proses alami yang dikenal sebagai melanogenesis, yakni proses pembentukan pigmen melanin yang menentukan warna rambut dan kulit satwa.

Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menegaskan, patroli rutin dan monitoring kawasan terus dilakukan sebagai upaya menjaga kelestarian habitat serta memastikan harmoni antara manusia, hutan, dan satwa liar tetap terjaga.

“Cintai Rinjani dengan peduli. Love Rinjani With Care,” demikian ajakan konservasi yang terus digaungkan pengelola kawasan taman nasional tersebut.

Editor : Kimda Farida
#TNGR #TNGR Rinjani #dilindungi #gunung #satwa indonesia