LombokPost – Kinerja perekonomian wilayah Bali dan Nusa Tenggara (Balinusra) menunjukkan catatan impresif pada awal tahun ini.
”Kantor Koordinator Bank Indonesia (BI) Wilayah Balinusra mencatat, pada Triwulan I 2026 perekonomian regional tumbuh tinggi sebesar 7,93 persen (year-on-year/yoy), berada jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat positif di angka 5,61 persen (yoy),” kata Kepala Koordinator Wilayah Bank Indonesia Bali Nusra Achris Sarwani.
Dari ketiga provinsi Bali. NTB, NTT di wilayah tersebut, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sukses menjadi motor penggerak utama sebagai sumber pertumbuhan tertinggi, disusul oleh Provinsi Bali dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Akselerasi ekonomi yang signifikan ini ditopang oleh kuatnya performa tiga lapangan usaha utama, yakni sektor pertambangan, industri pengolahan, dan sektor pertanian.
Baca Juga: Sinergi Buruh dan Industri: Jalan Tengah Menuju Pertumbuhan Ekonomi Berkeadilan
Tiga Pilar Pengembangan UMKM yang Berkualitas
Kepala Koordinator Wilayah BI Balinusra, Achris Sarwani, dalam gelaran Karya Kreatif NTB 2026 menegaskan bahwa demi menjaga agar pertumbuhan ekonomi tetap berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
BI secara konsisten menjalankan fungsi advisory kepada pemerintah daerah. Langkah konkret ini diwujudkan melalui strategi pengembangan UMKM yang bertumpu pada tiga pilar utama.
Baca Juga: Peluang Usaha Jadi Lebih Mudah, Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan
Korporatisasi: Mendorong pengelompokan pelaku usaha agar memiliki skala ekonomi yang lebih kompetitif.
Kapasitas: Meningkatkan keahlian, literasi, serta kualitas produk hasil kurasi.
Pembiayaan: Memperluas akses dan tata kelola keuangan yang sehat agar siap mandiri secara komersial.
Ketiga pilar tersebut menyasar tiga target pelaku usaha, mulai dari kelompok subsisten, UMKM atau klaster, hingga lingkungan pondok pesantren. Adapun fokus komoditas yang dibina diarahkan pada sektor penunjang ketahanan pangan (pengendalian inflasi), komoditas unggulan daerah, penunjang pariwisata, serta produk potensial ekspor.
Memperkuat Konektivitas Regional Melalui KRBNN
Guna mengoptimalkan potensi wilayah secara terintegrasi, Kantor Koordinator BI Balinusra terus memperkuat integrasi ekonomi di kawasan Sunda Kecil melalui wadah Kerja Sama Regional Bali-NTB-NTT (KRBNN).
Sinergi lintas provinsi ini dirancang untuk mempercepat interkoneksi di berbagai sektor strategis, mulai dari integrasi industri pariwisata, pengembangan energi bersih, penguatan jalur logistik dan transportasi, hingga perencanaan pembangunan kawasan yang terpadu. Melalui KRBNN, daya tarik investasi baik dari dalam maupun luar negeri diharapkan meningkat tajam untuk mengakselerasi kemakmuran regional.
Flagship Event "Bali Jagadhita" Siap Digelar Juni 2026
Sebagai kelanjutan dari penguatan ekosistem Trade, Tourism, and Investment (TTI) yang terintegrasi, BI Provinsi Bali bersiap menggelar flagship event bertajuk Bali Jagadhita pada tanggal 5–7 Juni 2026.
Ajang ini akan menjadi panggung strategis bagi promosi perdagangan internasional, pelaksanaan business matching bagi UMKM, promosi peluang investasi, hingga pengenalan desa wisata unggulan dari Provinsi Bali, NTB, dan NTT secara berkelanjutan.
Selain itu, aspek pengendalian inflasi dan perluasan digitalisasi terus diakselerasi melalui dua program masif regional, yaitu Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) serta QRIS Jelajah Budaya Indonesia (QJI). Program-program ini diarahkan untuk memantapkan ekosistem pembayaran digital yang aman, praktis, dan efisien bagi masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara.
Editor : Redaksi Lombok Post Online