LombokPost - Kondisi jalan di Provinsi NTB terus mengalami penurunan, seiring tingginya dampak cuaca ekstrem dan bencana yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Pemerintah pun kini memfokuskan penanganan pada titik-titik kerusakan yang dinilai paling parah dan membahayakan pengguna jalan, khususnya di wilayah Pulau Sumbawa.
Kepala Dinas PUPRPKP NTB Lalu Kusuma Wijaya mengatakan, berdasarkan data terakhir yang dimiliki pihaknya, tingkat kemantapan jalan masih berada di angka sekitar 75,5 persen.
Namun angka tersebut merupakan hasil pembaruan data tahun 2025 yang menggambarkan kondisi jalan pada 2024. “Kondisi jalan yang 2025 itu sebenarnya kondisi tahun 2024, kalau yang 2025 itu belum ada karena kami meng-update setiap akhir tahun,” ujarnya.
Baca Juga: 172 Kilometer Jalan Provinsi NTB Rusak, Perbaikan Butuh Rp 300 Miliar
Kondisi jalan saat ini dipastikan mengalami perubahan karena dinamika cuaca ekstrem, di awal tahun yang cukup berat. Sejumlah ruas jalan mengalami kerusakan akibat faktor kebencanaan.
Menurutnya, untuk tahap awal, penanganan kedaruratan telah dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB. Sementara itu, Dinas PUPRPKP NTB akan melanjutkan penanganan yang bersifat lebih permanen maupun semi permanen.
Meski demikian, pekerjaan yang dilakukan saat ini bukan sekadar penanganan darurat biasa. Konsep yang diterapkan, lebih kepada penanganan semi permanen atau setengah permanen dengan fokus pada titik-titik paling kritis.
“Sebenarnya konsepnya itu sudah semi permanen atau setengah permanen. Bukan berarti darurat. Cuma kita mengerjakannya spot-spot yang memang paling terkendala dan berbahaya,” jelasnya.
Prioritas utama pemerintah, adalah memastikan jalan tetap berfungsi dan bisa dilalui masyarakat. Karena itu, penanganan dipusatkan pada ruas yang berpotensi putus, tidak bisa dilewati, atau membahayakan pengguna jalan.
Ia juga meminta masyarakat memahami keterbatasan anggaran pemerintah, dalam melakukan perbaikan jalan secara menyeluruh dalam waktu singkat.
Baca Juga: Gerak Cerdas Gubernur Iqbal Atasi Masalah Alat Berat
Menurutnya, banyak masyarakat berharap seluruh ruas langsung dipulihkan, padahal kebutuhan anggaran sangat besar dan kerusakan juga terjadi di banyak titik lain.
Untuk saat ini, penanganan kerusakan jalan diprioritaskan di Pulau Sumbawa karena wilayah tersebut dinilai mengalami kerusakan paling parah dibanding Pulau Lombok.
“Penanganannya kita fokus di Pulau Sumbawa karena memang kondisi yang paling rusak itu di Pulau Sumbawa,” kata dia.
Ia pun menegaskan setiap upaya pengembalian fungsi jalan tetap merupakan bentuk perbaikan yang dilakukan pemerintah, meskipun belum berupa pembangunan total atau rekonstruksi penuh.
“Kadang dianggap cuma segitu, itu bukan perbaikan. Mohon dijelaskan juga, apapun namanya mengembalikan fungsi jalan itu, namanya juga memperbaiki,” tandasnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan