LombokPost - Menjelang Iduladha1447 Hijriah, Provinsi NTB kembali menjadi salah satu penopang utama kebutuhan sapi kurban Nasional, khususnya untuk wilayah Jabodetabek.
Dalam periode Maret hingga April 2026, puluhan ribu sapi pedaging asal NTB dikirim ke berbagai daerah di Indonesia dengan dominasi pasar tujuan DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
“Kita banyak mengeluarkan rekomendasi ke Jabodetabek,” tegas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Muhamad Riadi, Rabu (20/5).
Baca Juga: Presiden Prabowo Borong Tiga Ekor Sapi Kurban dari Lombok Tengah
Berdasarkan data Disnakkeswan NTB, total pengiriman sapi pedaging ke luar daerah periode Maret hingga April 2026 mencapai 27.449 ekor.
Dari jumlah tersebut, sekitar 24.974 ekor dikirim ke wilayah Jabodetabek, menunjukkan tingginya ketergantungan pasar nasional terhadap pasokan sapi asal NTB menjelang momentum Iduladha 1447 Hijirah.
Kabupaten Bima tercatat sebagai daerah dengan kontribusi pengiriman terbesar. Total sapi yang dikirim dari wilayah tersebut mencapai 15.513 ekor. Pengiriman didominasi ke Jawa Barat sebanyak 9.455 ekor dan DKI Jakarta 5.208 ekor.
Selain itu, Kabupaten Bima juga memasok 300 ekor sapi ke Banten dan 550 ekor ke Kalimantan Selatan. Posisi kedua ditempati Dompu dengan total pengiriman sebanyak 9.024 ekor.
Sebagian besar sapi dari Dompu dikirim ke DKI Jakarta mencapai 6.850 ekor, disusul Jawa Barat sebanyak 900 ekor dan Kalimantan Selatan 1.274 ekor.
Selanjutnya, Sumbawa mengirim 1.627 ekor sapi dengan daerah tujuan yang lebih beragam. Distribusi dilakukan ke Aceh sebanyak 56 ekor, Bangka Belitung 60 ekor, Jawa Barat 1.381 ekor, Kalimantan Tengah 61 ekor, Kalimantan Timur 37 ekor, serta Lampung 32 ekor.
Baca Juga: Sapi 952 Kilogram di Labuhan Haji Lombok Timur Terpilih untuk Kurban Presiden
Kota Bima juga tercatat mengirim 1.260 ekor sapi pedaging. Sebagian besar dikirim ke DKI Jakarta sebanyak 450 ekor, Jawa Barat 430 ekor, dan Kalimantan Selatan 380 ekor.
Sedangkan Lombok Tengah menjadi daerah dengan pengiriman paling kecil, yakni hanya 25 ekor yang seluruhnya dikirim ke Jawa Tengah.
Secara keseluruhan, DKI Jakarta menjadi pasar terbesar penerima sapi asal NTB dengan total 12.508 ekor. Disusul Jawa Barat sebanyak 12.166 ekor dan Kalimantan Selatan 2.204 ekor.
Riadi mengatakan, tingginya pengiriman sapi kurban tidak hanya berdampak pada peternak, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi besar bagi masyarakat NTB.
“Kalau kita hitung hewan kurban saja yang dikirim pada bulan Maret dan April, sekitar 24 ribu ekor dikalikan harga rata-rata di Jakarta Rp 20 juta per ekor, itu sudah mendekati setengah triliun rupiah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keuntungan ekonomi tidak hanya berasal dari penjualan sapi, tetapi juga dari sektor pendukung lainnya seperti transportasi, tenaga pengawal sapi, hingga penyedia pakan selama perjalanan pengiriman.
Baca Juga: Kurban SMPN 21 Mataram, Dua Sapi Dibagikan untuk Ratusan Penerima
Satu truk pengangkut sapi berkapasitas sekitar 25 ekor, disewa dengan biaya mencapai Rp 30 juta. Dengan jumlah pengiriman puluhan ribu ekor, sektor transportasi ikut menikmati perputaran uang yang besar.
“Belum lagi dari pengawalnya atau keleder yang ikut mengawal sapi selama perjalanan. Biasanya satu truk ada empat orang yang ikut. Selain itu ada juga biaya pakan selama pengangkutan,” bebernya.
Aktivitas ekonomi juga muncul sejak tahap awal pengumpulan ternak. Untuk sapi yang dilepas liar di hutan atau padang penggembalaan, pemilik harus mengeluarkan biaya penangkapan sekitar Rp 250 ribu per ekor sebelum sapi dijual.
“Itulah putaran uang yang terjadi jelang Iduladha ini, dan uang hasil penjualan sapi ini pasti dibawa pulang ke kampung oleh para peternak dan pelaku usaha,” tandasnya.
Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik menambahkan data tersebut sekaligus memperlihatkan posisi strategis NTB, sebagai salah satu sentra utama sapi pedaging yang menopang kebutuhan sapi kurban Nasional setiap tahun.
Editor : Akbar Sirinawa