LombokPost – Warga Nusa Tenggara Barat (NTB) belakangan ini harus merapatkan jaket dan menyiapkan selimut ekstra saat malam hingga pagi hari. Udara dingin yang menusuk tulang kini tengah menyelimuti wilayah Bumi Gora.
Berdasarkan pengamatan terbaru di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), suhu minimum bahkan sempat anjlok menyentuh angka 17,5 derajat celcius.
Forecaster on Duty BMKG Bizam, Nabilla Akhirta, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, penurunan suhu yang signifikan ini merupakan fenomena alamiah yang dipicu oleh kombinasi beberapa faktor meteorologi sekaligus.
Baca Juga: Fenomena Suhu Dingin di Musim Kemarau
Tiga Biang Kerok Suhu Dingin di NTB saat Ini.
Minimnya Tutupan Awan: Pada siang hingga sore hari, langit cenderung bersih tanpa awan.
Akibatnya, panas matahari yang diserap oleh bumi sepanjang siang akan langsung dilepaskan kembali ke atmosfer dengan sangat cepat pada malam hari (proses radiasi balik) tanpa ada penghalang atau "selimut alami" berupa awan.
Kelembaban Udara Rendah: Kandungan uap air di udara yang sangat minim membuat permukaan bumi tidak mampu menahan panas lebih lama setelah matahari terbenam.
Kondisi ini memicu udara dingin dari lapisan atmosfer atas untuk lebih mudah turun ke permukaan.
Serbuan Monsun Australia: Pergerakan angin di wilayah NTB saat ini sudah mulai memasuki masa angin monsun Australia.
Baca Juga: Kemarau Panjang Mulai April, Kota Mataram Siapkan Skenario Darurat Hadapi El Nino Godzilla
Karakteristik dari angin ini adalah membawa massa udara yang bersifat kering dan dingin dari benua seberang, sehingga sangat mendukung terciptanya cuaca dingin di malam dan pagi hari.
Fenomena yang kerap disebut masyarakat Jawa sebagai musim bediding ini merupakan penanda kuat bahwa wilayah NTB sedang bertransisi menuju puncak musim kemarau.
Warga pun diimbau untuk tetap menjaga kondisi tubuh, terutama menjaga kelembaban kulit dan kecukupan cairan tubuh di tengah embusan angin kering Monsun Australia ini.
Editor : Redaksi Lombok Post Online