LombokPost-NTB sukses memikat perhatian para diplomat dan investor internasional, dalam ajang Opening Ceremony Bali Jagadhita VII Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) di Bali, pada Jumat lalu (5/6).
Memfokuskan diri pada penguatan ekonomi hijau, dua proyek energi baru dan terbarukan (EBT) andalan Bumi Gora, berhasil lolos kurasi ketat hingga masuk kategori siap ditawarkan (ready to offer).
Kedua proyek potensial tersebut adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 20 Megawatt (MW) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/Angin (PLTB) berkapasitas 50 MW.
“Untuk NTB, kami sebenarnya mengajukan tiga, ada waste to energy, PLTS, dan PLT Bayu. Dan alhamdulillah dua proyek yang lolos itu bahkan sudah sampai ke kategori ready to offer itu, kebetulan proyek energi terbarukan, PLTS sama PLT Bayu,” jelas Sekretaris Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB Niken Arumdati, Senin (8/6).
Baca Juga: Dirjen EBTKE Tinjau PLTS Sengkol Lombok, PLN NTB Perkuat Transisi Energi Hijau
PLTS yang ditawarkan memiliki kapasitas sekitar 20 megawatt (MW), sementara PLTB mencapai 50 MW. Potensi pengembangan energi tersebut dinilai sangat besar, terutama dengan dukungan kondisi geografis NTB.
Di dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN terbaru, NTB memiliki peluang pengembangan energi terbarukan lebih dari 200 MW, dengan sebaran potensi terbesar berada di Pulau Sumbawa.
Sementara untuk PLTB, lokasi yang dinilai potensial berada di Lombok, yakni di Sekaroh, Lombok Timur, serta Sekotong, Lombok Barat. “Di RUPTL PLN yang baru itu terbuka peluang sekitar 200 lebih MW,” kata dia.
Niken mengungkapkan, banyaknya peminat asing yang melirik proyek NTB, dinilai tidak lepas dari berbagai keunggulan komparatif yang ditawarkan, baik dari segi teknis alamiah maupun dukungan regulasi dari pemerintah pusat.
Dari sisi teknis, NTB dianugerahi intensitas penyinaran matahari yang jauh lebih tinggi, dibanding wilayah lain di Indonesia.
Tingginya angka solar irradiancy ini otomatis membuat produksi energi listrik yang dihasilkan PLTS jauh lebih besar dan efisien.
Baca Juga: NTB Siap Jadi Lumbung Energi Bersih! PLTS dan PLTB Raksasa Akan Dibangun 2026
Selain itu, instrumen fiskal dan skema jangka panjang, dari pemerintah pusat menjadi jaminan keamanan bagi para penanam modal.
“Secara regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, kita itu punya harga yang lebih bagus, harga pembeliannya lebih bagus dibandingkan misalnya Jawa dan Bali,” jelasnya.
Kemudian, terdapat fasilitas tax relief dari pemerintah pusat, untuk proyek-proyek EBT selama periode pembelian listrik oleh PLN yang dapat berlangsung hingga 25 tahun.
Kombinasi regulasi yang matang serta jaminan kontrak jangka panjang hingga seperempat abad ini, dinilai menjadi alasan kuat mengapa para investor luar negeri berbondong-bondong mengincar proyek hijau di NTB.
“Menurut saya ini sangat menarik buat investor untuk proyek jangka panjang seperti itu. Dan bagus untuk keamanan investasi,” jelas Niken.
Peluang yang didapatkan Pemprov NTB saat ini menurutnya positif. Bagaimana pun, untuk membangun dan mengembangan EBT, diakuinya membutuhkan pendanaan yang sangat besar atau padat modal.
Sehingga, keterlibatan investor mutlak diperlukan karena tidak bisa ditopang oleh anggaran daerah.
Baca Juga: Enam Tahun PLTS Lombok Vena Energy: Menyalakan Energi Bersih untuk NTB
Niken memaparkan, kebutuhan modal (capital cost/capex) untuk proyek PLTS 20 MW berkisar antara 14 hingga 18 juta USD. Sementara untuk PLTB 50 MW, kebutuhan anggarannya jauh lebih tinggi, yakni menyentuh angka 45 hingga 60 juta USD. “Kita butuh anggaran ratusan miliar rupiah untuk pendanaannya,” kata Niken.
Pasca-lolos kurasi, antusiasme investor global langsung terlihat dalam sesi one-on-one meeting. Booth milik Pemprov NTB menjadi salah satu yang paling ramai diserbu oleh para delegasi asing.
Termasuk para duta besar (Dubes) dari Timur Tengah hingga Eropa Timur yang berminat mendalami detail proyek.
“Duta besar banyak yang datang ke booth kita, itu ada yang dari Bulgaria, kemudian Bahrain, Oman, sama Dubes Armenia,” ungkapnya.
Respons positif ini bahkan berlanjut ke langkah konkret. Niken membeberkan, Duta Besar Oman telah menjadwalkan kunjungan resmi ke NTB, guna membahas peluang investasi ini lebih terspesifikasi.
“Dubes Oman itu rencananya akan datang bulan depan untuk official visit untuk ketemu Pak Gubernur langsung,” ujarnya.
Selain itu, terdapat pula perwakilan dari sejumlah negara seperti Jerman dan Belgia, serta dari Chamber of Commerce atau kamar dagang yang mengumpulkan informasi untuk kemudian diteruskan kepada para investor di bawah naungan mereka.
Editor : Akbar Sirinawa