Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Peringatan! Limbah Tambak Udang Ancam Keberlanjutan Produksi Rumput Laut di NTB

Yuyun Kutari • Jumat, 12 Juni 2026 | 12:49 WIB
MATA PENCAHARIAN: Petani rumput laut di NTB, sedang mengelola hasil panen di atas perahu pada cuaca cerah di kawasan pesisir, beberapa waktu lalu. (IVAN/LOMBOK POST)
MATA PENCAHARIAN: Petani rumput laut di NTB, sedang mengelola hasil panen di atas perahu pada cuaca cerah di kawasan pesisir, beberapa waktu lalu. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Ekspansi masif industri tambak udang di wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa, kini mulai memicu alarm bahaya bagi keberlangsungan sektor budidaya laut lainnya. Limbah tak berizin alias ilegal yang digelontorkan oleh aktivitas tambak, disinyalir menjadi biang kerok utama tumbangnya para pembudidaya rumput laut di NTB.

Peringatan keras ini disampaikan oleh Nunik Cokrowati, peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram). Dia mengungkapkan, karakteristik rumput laut yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan membuat komoditas ini menjadi korban pertama dari penurunan kualitas air laut.

“Jadi rumput laut ini sangat berpengaruh pertumbuhannya terhadap kondisi kualitas air, saat ini banyak terjadi atau sudah mulai mengkhawatirkan adalah limbah buangan tambak udang,” terangnya, saat ditemui Selasa malam (9/6).

Baca Juga: Riset Rumput Laut Dorong Ekonomi Biru dan Hilirisasi Industri di NTB

Menurut dia, investasi di sektor pertambakan udang saat ini tumbuh bak jamur di musim hujan, baik di Pulau Lombok maupun Sumbawa. Berbagai investor, termasuk investor asing, gencar mendirikan usaha mulai dari pembenihan (hatchery) hingga pembesaran udang. 

Secara regulasi, setiap pelaku usaha diwajibkan mengolah limbah mereka terlebih dahulu melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sebelum dialirkan ke laut lepas. Namun, fakta di lapangan justru berbicara lain.

Praktik-praktik nakal demi memangkas biaya operasional disinyalir marak terjadi. “Banyak pipa-pipa tikus yang langsung menjulur ke laut, untuk membuang limbah tambak udangnya,” beber dosen Program Studi (Prodi) Budi Daya Perairan tersebut.

Dampak dari kondisi tersebut, lanjut Nunik, sudah mulai dirasakan oleh para pembudidaya rumput laut. Sejumlah lokasi budidaya dilaporkan mengalami gangguan yang diduga berkaitan dengan aktivitas tambak udang di sekitarnya.

“Sudah ada beberapa titik lokasi budidaya yang mulai terganggu dengan adanya tambak udang. Ini yang menjadi perhatian kami sebagai periset yang melihat dari sisi pembudidaya rumput laut," katanya. 

Baca Juga: FAO dan Unram Fasilitasi Workshop Nasional Penguatan Rantai Nilai dan Hilirisasi Rumput Laut Indonesia

Ia mencontohkan pengalaman yang pernah terjadi di wilayah Sumbawa Barat. Di daerah tersebut terdapat tambak udang yang beroperasi sejak era Presiden Soeharto dan sempat memiliki produksi tinggi. 

Namun, tingginya produksi diikuti dengan pembuangan limbah ke laut yang berdampak pada kawasan sekitar, termasuk area budidaya rumput laut.

Tragedi lingkungan itu kini menghantui Pulau Lombok. Jika dahulu sebaran tambak udang masih terlokalisasi di wilayah tertentu seperti Sambelia di Lombok Timur, kini titik pertambakan sudah mulai mengepung garis pantai secara melingkar. “Itu yang perlu kita warning bersama ya, pemerintah juga harus memberi atensi. Ini Ilegal,” tegasnya.

Ketika pencemaran meluas, para pembudidaya rumput laut dihadapkan pada situasi pelik tanpa pilihan. Berbeda dengan sektor industri yang bermodal besar, masyarakat pesisir tidak memiliki teknologi untuk menetralisir polutan di laut terbuka.

“Kalau pembudidaya tidak ada opsi. Kalau sudah tercemar lokasi yang biasa digunakan, ya dia sudah stop membudidaya atau mencari tempat yang lain,” jelas Nunik.

Bahkan, untuk mencari lokasi baru bukan perkara mudah. Tidak semua kawasan perairan cocok untuk budidaya rumput laut, karena komoditas tersebut memiliki persyaratan lingkungan yang cukup spesifik. “Ketika lokasi budi dayanya terganggu, banyak pembudidaya yang akhirnya beralih ke mata pencaharian lain,” imbuhnya.

Baca Juga: IPB Riset Keterkaitan Deforestasi Hulu dengan Produktivitas Rumput Laut di Pesisir NTB

Melihat ketimpangan hubungan antara korporasi tambak dan masyarakat lokal, Nunik menilai perusahaan tambak udang juga perlu mengambil peran melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.

Dukungan kepada masyarakat pembudi daya rumput laut dinilai penting, agar aktivitas ekonomi yang telah berlangsung lama tetap dapat bertahan.

“Kalau di sekitar lokasi usaha terdapat kegiatan budidaya rumput laut, maka harus dipikirkan bagaimana cara mendukung mereka agar tidak sampai menghentikan usahanya,” tandasnya. 

Peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unram Eka Sunarwidhi Prasedya menjelaskan, rumput laut yang sehat umumnya memiliki warna sesuai jenisnya, seperti hijau, cokelat, atau merah.

Tetapi, ketika mengalami gangguan lingkungan, rumput laut akan menunjukkan gejala pemutihan.

“Salah satu simptom rumput laut yang tidak sehat adalah perubahan warna menjadi putih. Biasanya kita menyebutnya sebagai gejala ice-ice. Tetapi sebenarnya itu bukan penyakit, melainkan salah satu pertanda, rumput laut sedang mengalami stres,” paparnya. 

Menurutnya, gejala tersebut tidak selalu disebabkan oleh satu faktor tertentu. Berbagai perubahan kondisi lingkungan dapat memicu stres pada rumput laut, mulai dari kenaikan suhu air, perubahan tingkat salinitas, ketidakseimbangan nutrisi, hingga keberadaan bakteri patogen.

Baca Juga: Rumput Laut Lotim Menuju Pasar Dunia

Eka menjelaskan, ketika rumput laut berada dalam kondisi stres, jaringan tubuhnya menjadi lebih lemah dan rapuh. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas biomassa menurun secara signifikan.

“Ketika warnanya sudah putih, rumput laut menjadi rapuh. Struktur tubuhnya mudah hancur dan remuk,” jelas dosen Biologi tersebut .

Dampak terbesar dari kondisi tersebut, lanjut Eka, bukan pada aspek keamanan konsumsi, melainkan pada nilai ekonomi hasil budidaya. Rumput laut yang mengalami kerusakan biomassa akan kehilangan berat dan kualitas sehingga sulit dipasarkan. 

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, produktivitas dan pendapatan pembudi daya berpotensi mengalami penurunan, akibat hasil panen yang tidak memenuhi standar industri.  

Editor : Akbar Sirinawa
#limbah #Unram #rumput laut #NTB #tambak udang