LombokPost — Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) terus membuktikan magnetnya sebagai salah satu destinasi pendakian paling bergengsi di dunia.
Sejak resmi dibuka kembali pada tanggal 1 April hingga 31 Mei 2026, arus kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara melonjak tajam.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mencatat total kunjungan dalam kurun waktu dua bulan tersebut telah menembus angka fantastis.
"Total pendaki yang tercatat di data kami dua bulan terakhif mencapai 19.086 orang," jelas Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR Dr. Astekita Ardiaristo, S.Hut, M.Sc.
Kenaikan tren kunjungan ini selaras dengan langkah strategis pembenahan Rinjani menuju kiblat pendakian internasional.
Data resmi dari Balai TNGR menunjukkan dominasi pendaki internasional yang merindukan keindahan pesona Danau Segara Anak dan kemegahan puncak Rinjani.
Dari total 19.086 pendaki, rinciannya terdiri atas Wisatawan Nusantara (WNI) sebanyak 8.731 orang, sedangkan Wisatawan Mancanegara (WNA) mendominasi dengan jumlah 10.355 orang.
Melimpahnya kunjungan dari berbagai belahan dunia ini sekaligus memperkuat posisi Rinjani sebagai ikon pariwisata petualangan unggulan nasional.
Astekita, sapannya, meyampaikan jika positif ini memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Sektor pariwisata alam ini terbukti menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh bagi wilayah Nusa Tenggara Barat.
"Sementara PNBP selama dua bulan Rinjani, yakni April dan Mei tahun ini, sudah mencapai Rp 7,61 miliar. Ini merupakan capaian yang luar biasa dan mencerminkan tingginya antusiasme serta kepercayaan publik yang kembali pulih dan terus meningkat terhadap pengelolaan jalur pendakian Gunung Rinjani," jelasnya kepada Lombok Post.
Jika berkaca pada performa tahun sebelumnya, kontribusi finansial Rinjani memang tergolong luar biasa besar.
Sepanjang tahun 2025 lalu, sejak gerbang pendakian dibuka dari 1 April hingga penutupan periodik di bulan Desember 2025, total volume pengunjung secara kumulatif mencapai angka 132.322 orang.
Rincian pergerakan pendaki sepanjang tahun lalu tersebut meliputi 44.033 pendaki mancanegara dan 88.289 pendaki nusantara.
Dari gelombang kunjungan masif tersebut, total pendapatan PNBP yang berhasil disetor kepada kas negara melalui pendakian Rinjani menyentuh angka kumulatif Rp 25,92 miliar.
Dr. Astekita menambahkan, jika tren stabil ini terus menjaga konsistensinya sepanjang musim pendakian tahun 2026, bukan tidak mungkin capaian tahun lalu akan terlampaui.
Kendati demikian, pihak otoritas menegaskan bahwa fokus utama Balai TNGR bukan semata-mata mengejar kuantitas pendapatan, melainkan kualitas pelayanan, aspek konservasi lingkungan, serta ketertiban sistem pemesanan tiket berbasis digital (e-Rinjani) yang terus disempurnakan demi kenyamanan para petualang.
Mengenai demografi asal negara, benua Eropa masih menjadi penyumbang terbesar turis asing yang menjejaki kaki di jalur terjal Rinjani.
Berdasarkan data tabulasi paspor pengunjung selama April-Mei 2026, pendaki asal Belanda menduduki peringkat teratas dengan jumlah 1.230 orang. Posisi berikutnya disusul ketat oleh pendaki dari Prancis sebanyak 1.127 orang.
Di urutan ketiga, Jerman mengirimkan 958 warganya untuk mencicipi jalur ekstrem Lombok, diikuti oleh China dengan total 950 orang.
Sementara dari kawasan Asia Tenggara, Malaysia mencatatkan 898 pendaki dan disusul oleh Singapura dengan 540 pendaki.
Besarnya minat internasional ini ditanggapi serius oleh jajaran stakeholder pariwisata daerah dan pusat.
Gunung Rinjani kini sedang diarahkan secara terstruktur untuk mengadopsi sistem manajemen pendakian berkelas dunia.
Hal ini sejalan dengan visi besar pembentukan tim khusus pembenahan manajemen destinasi tinggi.
Ketua Tim Kerja World Class Mountaineering, Budi Soesmardi, HES, menjelaskan bahwa lonjakan angka kunjungan ini harus diimbangi dengan langkah standardisasi pelayanan kepanduan, pengelolaan sampah yang ketat, serta keandalan sistem pertolongan darurat atau search and rescue (SAR).
"Konsep "World Class Mountaineering bukan sekadar label prestisius di atas kertas, melainkan sebuah komitmen penegakan aturan keselamatan mutlak bagi setiap jiwa yang melakukan pendakian," jelasnya.
Menurut Budi, integrasi antara pemandu wisata lokal (porter dan guide), pihak asuransi keselamatan jiwa, serta tata kelola kuota harian (carrying capacity) di setiap pintu masuk resmi. Mulai dari pintu Sembalun, Senaru, Aik Berik, Timbanuh, Torean, dan Tetebat menjadi pilar utama yang sedang ditingkatkan kinerjanya.
Penguatan kompetensi para pelaku jasa wisata alam ini menjadi prioritas agar pelayanan yang diberikan kepada pendaki asing memenuhi standar internasional, sehingga mampu meminimalisasi risiko kecelakaan di gunung.
Melalui koordinasi intensif antara Tim Kerja World Class Mountaineering dan Balai TNGR, pemantauan terhadap dampak ekologis juga diperketat.
"Setiap pendaki diwajibkan membawa kembali sampah mereka ke bawah melalui sistem pack in - pack out yang divalidasi ketat di pintu keluar," paparnya.
Dengan perpaduan keindahan lansekap alam, profesionalisme pengelolaan, dan kontribusi ekonomi yang kuat, Rinjani siap memantapkan posisinya di puncak peta pendakian elite dunia.
Editor : Kimda Farida