Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Akses Telekomunikasi Belum Merata, Diskominfotik NTB Akui Pelayanan Publik Terganggu

Yuyun Kutari • Jumat, 19 Juni 2026 | 13:06 WIB
ATASI BLANK SPOT: Infrastruktur telekomunikasi di NTB terus diperkuat untuk mengurangi wilayah blank spot dan sinyal lemah yang masih terhambat akses internet. (IVAN/LOMBOK POST)
ATASI BLANK SPOT: Infrastruktur telekomunikasi di NTB terus diperkuat untuk mengurangi wilayah blank spot dan sinyal lemah yang masih terhambat akses internet. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) NTB Ahsanul Khalik mengungkapkan, saat ini masih terdapat 33 titik blank spot di NTB.

Selain itu, terdapat 117 desa yang mengalami titik lemah sinyal sehingga akses komunikasi dan internet masyarakat belum optimal.

“Sebaran blank spot yang paling banyak itu di Kabupaten Bima, kemudian Dompu, dan Lombok Utara, sama Sumbawa,” kata dia, Rabu (17/6). 

Baca Juga: NTB Butuh Penanganan Blank Spot dan Sinyal Lemah dari Komdigi

Persoalan blank spot di NTB tidak semata-mata disebabkan keterbatasan infrastruktur telekomunikasi.

“Kenapa wilayah-wilayah ini blank spot? Ini lebih dipengaruhi oleh situasi geografis yang memang berbukit dan pelosok,” ujarnya. 

Kondisi tersebut membuat sejumlah penyedia layanan telekomunikasi masih mempertimbangkan aspek bisnis. Itu dikaji sebelum membangun infrastruktur di daerah-daerah terpencil yang jumlah penggunanya relatif sedikit.

“Sama provider itu belum mau masuk karena jumlah pengguna dari sisi ekonomi memang masih belum bisa kembali modal dengan hasilnya,” ujar mantan kepala Dinas Sosial (Dinsos) NTB tersebut. 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov NTB telah melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah pusat dan para operator seluler.

Belum lama ini, Diskominfotik NTB menggelar pertemuan virtual bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Bakti Komdigi, Telkomsel, XL Smart, dan Indosat.

“Kita membahas khusus blank spot yang ada di NTB dan lemah sinyal,” jelasnya.  

Baca Juga: Tertahan Moratorium, Desa 3T di NTB Masih Menanti MBG

Dari hasil pertemuan tersebut, sebanyak 77 titik yang mengalami lemah sinyal saat ini sedang dalam proses penanganan oleh Telkomsel dan XL Smart.

Selain itu, Komdigi juga akan melakukan evaluasi, sejumlah fasilitas yang sebelumnya dibangun melalui program Bakti Komdigi. 

Beberapa lokasi pemasangan perangkat dinilai belum memberikan akses yang optimal bagi masyarakat.

Sehingga perlu dipindahkan ke titik yang lebih tepat. “Di tempat di pasang awal ternyata tidak memberikan akses bagus, terhadap masyarakat di desa itu, dicarikan titik yang tepat,” ujarnya.

Di Kabupaten Bima menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus, dalam pembahasan tersebut.

Wilayah ini memiliki jumlah titik blank spot yang cukup banyak dan kondisi geografis yang menantang.  

Baca Juga: Bupati Dompu Ingatkan 200 PNS Baru Layani Masyarakat dengan Tulus

Tindak lanjut penanganan berikutnya, akan bergantung pada dukungan Bakti Komdigi dan para operator telekomunikasi.

Namun, pihaknya mendapatkan komitmen awal dari sejumlah provider untuk segera menindaklanjuti hasil pembahasan tersebut.

“Dari Indosat, XL Smart, sama Telkomsel, ini sudah memperhatikan dan memudahkan segera ada tindak lanjutnya,” ujar Khalik. 

Tidak hanya wilayah permukiman, pemerintah juga memberi perhatian terhadap kawasan yang memiliki potensi ekonomi dan pariwisata. Salah satu lokasi yang menjadi prioritas adalah Pulau Moyo di Sumbawa. 

Selama ini kualitas sinyal di sana masih belum merata. Sekarang, layanan yang relatif baik hanya berasal dari Telkomsel melalui dukungan program Bakti Komdigi. 

Untuk memperkuat layanan telekomunikasi di kawasan wisata tersebut, XL Smart berencana masuk dan menambah jaringan di wilayah Pulau Moyo dan sekitarnya. Indosat dan XL Smart juga sedang melakukan pendalaman informasi lapangan guna memperkuat cakupan jaringan di kawasan tersebut.  

Baca Juga: Pemprov NTB Tawarkan Investasi kepada Oman

Keterbatasan akses telekomunikasi di daerah blank spot dan lemah sinyal, juga mengganggu layanan publik. Seperti di sektor pendidikan dan kesehatan yang kini banyak mengandalkan aplikasi digital.

“Misalnya penggunaan aplikasi puskesmas yang memang banyak gangguan. Ini menjadi perhatian dan titik-titiknya sudah dipetakan,” katanya.  

Ia menambahkan, wilayah-wilayah yang masuk dalam program Desa Berdaya juga menjadi bagian dari fokus penanganan pemerintah.

Di singgung mengenai kemungkinan pemanfaatan teknologi satelit seperti Starlink untuk menjangkau wilayah dengan medan berat, Khalik mengatakan opsi tersebut telah dibahas bersama Komdigi.

“Kemarin dari Komdigi juga menyampaikan itu, tetapi tahun ini program di Bakti Komdigi masih kosong untuk NTB,” tandasnya. 

Kemekomdigi mempercepat penutupan wilayah blank spot melalui kombinasi teknologi fiber optik, Base Transceiver Station (BTS), dan satelit untuk menjangkau daerah 3T dan wilayah nonkomersial.  

Baca Juga: Melihat Pelatihan Membuat Terasi dari LimbahTambak Udang di Lombok Utara 

Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menyebut satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) menjadi salah satu opsi strategis untuk memperluas konektivitas.

Terutama di wilayah terpencil dan daerah bencana yang sulit dijangkau infrastruktur telekomunikasi darat.

“LEO itu salah satu opsi. Jadi ada banyak pilihan, mulai dari fiber optik hingga BTS, tergantung kondisi lapangan di daerah 3T tersebut,” jelasnya, dikutip melalui siaran resmi.

Editor : Akbar Sirinawa
#Lemah Sinyal #pendidikan #blank spot #Kesehatan #NTB