LombokPost - Halaman Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) mendadak berubah menjadi lautan manusia pada Senin (22/6) siang.
Puluhan ribu warga dari berbagai penjuru bumi Gora berbondong-bondong menggedor pusat pemerintahan tersebut.
Kedatangan massa yang masif ini bertujuan untuk menyuarakan dukungan sekaligus menuntut kepastian keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah NTB.
Baca Juga: Tertahan Moratorium, Desa 3T di NTB Masih Menanti MBG
Pergerakan massa gelombang besar ini mulanya terkonsentrasi di kawasan Islamic Center Mataram sekitar pukul 12.00 WITA.
Dua jam berselang, sekitar pukul 14.00 WITA, para demonstran merangsek masuk ke area Kantor Gubernur dan langsung menggelar orasi secara bergantian di bawah pengawalan ketat aparat.
Pantauan di lapangan menunjukkan, massa aksi datang dari struktur masyarakat yang bervariasi. Mulai dari kaum ibu, barisan anak muda yang bergerak sebagai relawan SPPG, para pemilik yayasan dan pengelola dapur MBG, hingga keanggotaan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB.
Baca Juga: Sekolah Libur, MBG Distop: BGN Klaim Hemat Insentif Rp 3,4 Triliun
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Sawaludin Aweng, dalam orasinya menegaskan bahwa kehadiran ribuan relawan ini merupakan murni desakan dari bawah.
Mereka menilai program prioritas yang digagas Presiden Prabowo Subianto tersebut tidak boleh mandek karena menyangkut hajat hidup orang banyak.
"Kami hadir di sini untuk menyampaikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis harus tetap dilanjutkan. Program ini bukan hanya soal makanan, tetapi menyangkut masa depan generasi muda dan pemenuhan gizi anak-anak kita," pekik Aweng dari atas mimbar orasi.
Baca Juga: Mahasiswa di Surabaya hingga Jogja Soroti MBG dan KDMP, Desak Pemerintah Hentikan Program
Lebih dari sekadar isu pemenuhan gizi, Aweng membeberkan bahwa program ini telah menciptakan efek domino (multiplier effect) yang luar biasa dalam menggerakkan urat nadi perekonomian di tingkat pedesaan.
"Program ini membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal. Banyak pemuda yang bekerja di dapur MBG. Petani dan pedagang kecil juga mendapatkan berkah karena seluruh bahan baku dibeli langsung dari masyarakat sekitar. Uang berputar di desa, pedagang hidup, dan petani mendapatkan kepastian pasar," tegasnya.
Gejolak aksi ini dipicu oleh adanya kebijakan penghentian sementara operasional Program MBG selama tiga pekan ke depan, menyusul masuknya masa libur semester sekolah. Kendati memahami regulasi teknis tersebut, para relawan bersikeras meminta pemerintah daerah mencari formulasi taktis agar pasokan pangan bergizi tidak terputus.
Massa mengusulkan agar selama liburan sekolah, mekanisme distribusi makanan dialihkan dengan cara diantarkan langsung ke rumah-rumah penerima manfaat atau dititipkan melalui orang tua siswa. "Anak-anak tetap membutuhkan asupan gizi meskipun sekolah sedang libur," cetus Aweng.
Oleh karena itu, massa mendesak Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, untuk segera mengeluarkan sikap dan rekomendasi resmi ke tingkat pusat demi mengawal keberlangsungan jangka panjang program tersebut di NTB.
Dukungan serupa juga diledakkan oleh mantan Ketua DPRD Kabupaten Lombok Barat, Nurhidayah. Politisi perempuan ini melontarkan testimoni bahwa instrumen pemberdayaan ekonomi lewat dapur-dapur MBG di tingkat basis sudah berjalan sangat rapi dan menghidupkan sektor riil masyarakat NTB.
"Program MBG ini telah menunjukkan dampak yang sangat bagus di tengah-tengah masyarakat kita. Oleh karena itu, sangat patut dan wajib untuk kita dukung agar terus berlanjut tanpa hambatan," tandas Nurhidayah disambut teriakan riuh massa aksi.
Editor : Redaksi Lombok Post Online