Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wisatawan Keluhkan Monopoli Transportasi di Mandalika Usai Dugaan Pengeroyokan Sopir

Nurul Hidayati • Rabu, 15 Juli 2026 | 05:12 WIB
TINGKATKAN KUALITAS: Sejumlah wisatawan berswafoto di depan Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah, belum lama ini.
TINGKATKAN KUALITAS: Sejumlah wisatawan berswafoto di depan Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah, belum lama ini.

LombokPost – Pengalaman tidak menyenangkan dialami oleh wisatawan bernama Sandy Siregar saat berkunjung ke kawasan KEK Mandalika, Lombok Tengah, untuk mengikuti event lari nasional, di Sirkuit Mandalika.

Kegiatan yang berlangsung pada 11-12 Juli 2026 di Mandalika.

Ia mengaku kecewa dan merasa tidak nyaman akibat adanya dugaan monopoli transportasi serta tindakan kekerasan terhadap sopir moda transportasi pilihannya.

Baca Juga: Wellness Tourism: Strategi NTB Membangun Pariwisata Berkualitas, Pariwisata Harus Jadi Penggerak Kesejahteraan Masyarakat

Kronologi Kejadian

Sandy menceritakan bahwa dirinya merasa perlu menggunakan transportasi yang terpercaya, seperti Blue Bird yang merupakan salah satu sponsor event nasional tersebut.

Namun, upayanya untuk memesan transportasi melalui aplikasi atau kontak resmi justru berujung pada intimidasi terhadap sang sopir.

Baca Juga: Pelaku Industri Pariwisata Soroti Pemkot Mataram Minim Hadirkan Atraksi Wisata Jelang MotoGP Mandalika

"Di hotel pertama, sopir Blue Bird yang saya panggil disamperin sama security. Saya marah dan mencoba melindungi sopir itu karena dia datang atas panggilan saya," ujar Sandy.

Kejadian serupa terulang saat ia berpindah hotel lainnya di Kawasan Mandalika.

Sopir yang ia pesan kembali mengalami tekanan di lokasi. 

Baca Juga: Disparpora KSB Diminta Genjot Proyek Pembangunan Pariwisata Kerakyatan

"Sopir menelepon saya dengan panik, bilang dia tidak bisa menunggu lama dan harus segera pergi. Ternyata, setelah itu terjadi kejadian tidak mengenakkan (dugaan penganiayaan)," tambahnya.

Keluhan Harga dan Monopoli

Selain dugaan intimidasi, Sandy menyoroti tingginya harga transportasi lokal di kawasan Mandalika yang dinilainya sangat tidak rasional.

Ia bahkan membandingkan tarif transportasi di kawasan wisata tersebut dengan pengalamannya di luar negeri.

"Tamu dipalak harga luar biasa mahal. Anak saya yang pernah sekolah di London sampai bilang, ini tarif taksi lokal jauh lebih mahal daripada di London. Ini luar biasa," keluh Sandy.

Menurutnya, persaingan usaha yang sehat seharusnya diperbolehkan di kawasan wisata internasional.

Ia mengaku bingung mengapa pihak tertentu di kawasan Kuta, Mandalika, merasa berhak memonopoli layanan transportasi hingga merugikan wisatawan dan citra pariwisata daerah.

Imbauan untuk Kemajuan Pariwisata Lombok

Sandy menegaskan bahwa keluhannya ini didasari oleh rasa sayang terhadap pariwisata Lombok. Ia khawatir jika praktik monopoli, intimidasi, dan harga yang tidak wajar terus terjadi, akan berdampak negatif terhadap kunjungan wisatawan di masa depan.

"Saya mengimbau kepada pihak berwenang, tolong diatur mengenai transportasi bagi wisatawan. Bagaimana Lombok mau maju jika keadaannya seperti ini? Harusnya ada kebebasan memilih moda transportasi yang aman dan nyaman bagi tamu," tutup Sandy.

Kasus ini menjadi catatan serius bagi pengelola kawasan Mandalika serta pemerintah daerah setempat untuk segera melakukan pembenahan tata kelola transportasi agar standar layanan wisata internasional dapat terjaga demi kenyamanan dan keamanan para pengunjung.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Masalah transportasi Mandalika ​Keluhan wisatawan Lombok ​Monopoli transportasi Kuta Mandalika ​Keamanan wisatawan Mandalika ​Transportasi umum Kuta Mandalika