Ketua Dekranasda Bunda Sinta Apresiasi Generasi Muda Pringgasela, Menenun Masa Depan Warisan Budaya Lotim

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 11:58 WIB
TENUN: Ketua Dekranasda NTB Bunda Sinta Agathia, Wabup Lotim Moh. Edwin Hadiwijaya, ketua Dekranasda Lotim, kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan saat menghadiri Karnaval Tenun Night Show Srimananti: The Evolution of Heritage (Suara, Rupa dan Aroma) di kawasan Tugu Mopra, Pringgasela, Sabtu (25/7) malam. (DISKOMINFOTIK NTB/LOMBOK POST)
TENUN: Ketua Dekranasda NTB Bunda Sinta Agathia, Wabup Lotim Moh. Edwin Hadiwijaya, ketua Dekranasda Lotim, kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan saat menghadiri Karnaval Tenun Night Show Srimananti: The Evolution of Heritage (Suara, Rupa dan Aroma) di kawasan Tugu Mopra, Pringgasela, Sabtu (25/7) malam. (DISKOMINFOTIK NTB/LOMBOK POST)

LombokPost - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB Bunda Sinta Agathia mengapresiasi semangat generasi muda Pringgasela, Lombok Timur dalam menjaga, menghidupkan, dan mengembangkan tenun sebagai warisan leluhur.

Menurut Bunda Sinta, ketika anak-anak muda memilih merawat tenun, sesungguhnya mereka sedang menenun masa depan budaya sekaligus menjaga identitas daerah agar tetap hidup di tengah arus perubahan zaman.

Apresiasi tersebut disampaikan Bunda Sinta usai menghadiri Karnaval Tenun Night Show Srimananti: The Evolution of Heritage (Suara, Rupa dan Aroma) di kawasan Tugu Mopra, Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Sabtu (25/7) malam.

Baca Juga: Melihat Cara TIM PKM Hamzanwadi Berdayakan dan Lestarikan Tenun Pringgasela, Berikan Workshop Pemasaran dan Pendampingan Produksi, Hingga Bantuan

Di hadapan ribuan masyarakat yang memadati arena pertunjukan, Bunda Sinta mengaku bangga melihat kreativitas generasi muda yang tidak hanya mempertahankan tradisi menenun, tetapi juga mampu mengemasnya menjadi pertunjukan budaya yang modern, menarik, dan membanggakan.

“Luar biasa buat anak-anak muda Pringgasela yang terus mempertahankan dan menjaga tenun ini. Ini momen yang sangat berharga. Semoga dapat menginspirasi daerah-daerah lain di NTB. Terima kasih untuk generasi muda Pringgasela," ujarnya.

Menurut Bunda Sinta, warisan budaya hanya akan tetap hidup apabila terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, keterlibatan anak-anak muda menjadi harapan baru agar tenun tidak sekadar dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus berkembang sebagai identitas budaya yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Baca Juga: Tenun Pringgasela Jadi Primadona Modest Fesyen Internasional

Bunda Sinta menegaskan, Dekranasda NTB siap memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas budaya, para perajin, serta masyarakat untuk memastikan keberlanjutan pengembangan tenun Pringgasela sebagai salah satu ikon budaya NTB.

"Kita akan bekerja bersama. Dekranasda siap berkolaborasi dengan seluruh pihak agar semangat ini terus tumbuh dan tenun Pringgasela semakin dikenal, dicintai, dan memberi manfaat bagi masyarakat," katanya.

Mengenakan busana tenun khas NTB, Bunda Sinta mengikuti seluruh rangkaian pertunjukan bersama Wakil Bupati Lombok Timur Moh. Edwin Hadiwijaya, ketua Dekranasda Lombok Timur dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhamad Ihwan yang mewakili Gubernur NTB, serta sejumlah tamu undangan.

Baca Juga: Kemenkum NTB Dorong UMKM dan Tenun Pringgasela Daftar Kekayaan Intelektual, Cegah Klaim Pihak Lain

Malam itu, kawasan Tugu Mopra menjelma menjadi panggung yang menampilkan perjalanan panjang sehelai kain tenun. Prosesi pemukulan gong membuka pertunjukan kolosal yang memadukan musik tradisional, permainan cahaya, dan parade busana tenun.

Termasuk visualisasi proses lahirnya kain Pringgasela, mulai dari pengolahan benang, pewarnaan menggunakan bahan-bahan alami, hingga sentuhan tangan para penenun yang dengan sabar merangkai setiap helai benang menjadi karya bernilai tinggi.

Nama Srimananti, yang diangkat sebagai tema utama pertunjukan, merupakan salah satu motif tenun khas Pringgasela yang melambangkan harapan, doa, kesabaran, dan ketekunan perempuan penenun.

Melalui tema The Evolution of Heritage (Suara, Rupa, dan Aroma), generasi muda menghadirkan tafsir baru bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang diam, melainkan terus bertumbuh mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budayanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhamad Ihwan menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTB dalam mendukung pengembangan kawasan wisata berbasis budaya.

Menurut M Ihwan, kreativitas generasi muda Lombok Timur merupakan modal penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata daerah.

Senada dengan itu, Wakil Bupati Lombok Timur Moh. Edwin Hadiwijaya, mengatakan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur akan terus memperkuat Festival Alunan Budaya Pringgasela sebagai salah satu agenda unggulan daerah karena terbukti memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Selama satu dekade penyelenggaraannya, Festival Alunan Budaya Pringgasela telah mencatat capaian yang membanggakan.

Festival ini mampu menciptakan perputaran ekonomi sekitar Rp 17,1 miliar, menjangkau lebih dari 10 juta penonton, serta masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) selama tiga tahun berturut-turut.

Bahkan, festival ini berhasil menembus 10 besar event budaya terbaik tingkat nasional, mempertegas posisi Pringgasela sebagai salah satu pusat kebudayaan yang terus tumbuh di Indonesia.

Karnaval Tenun Night Show Srimananti menjadi penutup perayaan satu dekade Festival Alunan Budaya Pringgasela yang berlangsung pada 19–25 Juli 2026.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, festival ini menghadirkan pesan bahwa setiap helai benang yang ditenun masyarakat Pringgasela sesungguhnya sedang merajut sejarah, menggerakkan ekonomi, memperkuat jati diri daerah, dan mewariskan kebanggaan kepada generasi yang akan datang.

Di sanalah budaya tidak hanya dikenang, tetapi terus hidup, tumbuh, dan menjadi denyut masa depan NTB. (lil/diskominfotikntb)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
dekranasda Pringgasela budaya NTB tenun