LombokPost - Di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), wilayah yang menjadi rumah utama operasional tambang PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), aroma gurih kuah bakso menyeruak dari sebuah dapur sederhana di Kecamatan Seteluk. Di sana, Zakia bersama 10 ibu tunggal yang dirangkulnya sibuk mengemas Bakso Emak. Dulu, produknya hanya berputar di pasar lokal dengan kemasan plastik polos. Sekarang, bakso beku olahannya melintasi samudera hingga ke Hong Kong, menjadi pengobat rindu para pekerja migran sekaligus penopang ekonomi keluarga di tanah kelahiran.
Cerita kemandirian ini berhembus hingga ke pesisir Labuhan Jontal, Sumbawa. Berbekal kemasan vacuum aluminum foil yang kedap udara, Fitria sukses membawa Ikan Bage’ (ikan asin khas Sumbawa) menembus pasar Malaysia, Singapura, dan Taiwan. Sementara di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, Saehun mengolah bawang putih lokal Sembalun menjadi black garlic bermutu tinggi yang kini diminati wisatawan hingga mancanegara, seperti Meksiko dan Rusia.
Cerita tiga perempuan berdaya ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari desain besar efek berganda (multiplier effect) yang dihadirkan oleh operasional industri skala global. Keberlanjutan di sini bukan sekadar jargon di atas kertas, melainkan sebuah denyut nadi yang menghubungkan aktivitas tambang di Sumbawa Barat dengan penguatan ekonomi tapak dan kelestarian alam Nusa Tenggara Barat (NTB).
Baca Juga: Konstruksi Hulu-Hilir Terintegrasi, Mengupas Rencana Berkelanjutan IUPK Amman Mineral
Dampak ekonomi dari aktivitas pertambangan sering kali hanya dilihat dari angka ekspor di pelabuhan. Namun, riset terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memotret gambaran yang jauh lebih utuh melalui pendekatan Inter-Regional Input-Output (IRIO) periode 2018–2024.
Kajian tersebut mencatat bahwa kontribusi AMMAN terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai Rp173,4 triliun (rata-rata Rp24,8 triliun per tahun). Di sisi fiskal, perusahaan menyumbang Rp39,05 triliun ke kas negara melalui pajak, royalti, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Secara eksternal, ekspor AMMAN yang mencapai USD10,29 miliar berhasil menghasilkan penghematan devisa bersih sebesar USD7,66 miliar.
Namun, nilai sejati dari angka-angka raksasa ini terletak pada bagaimana mata rantai pasoknya menyentuh strata sosial paling bawah, khususnya di wilayah operasional NTB. Misalnya, kebutuhan penyediaan makanan bagi ribuan karyawan turut menghidupkan usaha para petani, peternak, dan penyedia bahan pangan lokal. Begitu pula dengan kebutuhan logistik dan jasa lainnya yang membuka kesempatan kerja di berbagai sektor dan wilayah.
"Kontribusi AMMAN tidak hanya terlihat pada angka-angka makro, tetapi juga pada tingkat rumah tangga dan komunitas," ujar Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI Uka Wikarya.
Riset LPEM FEB UI merekam penciptaan lapangan kerja rata-rata 55 ribu orang per tahun secara nasional, dengan puncaknya menembus 105 ribu kesempatan kerja pada 2024. Peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar Rp67,6 triliun turut mendorong penurunan angka kemiskinan nasional hingga 0,098 poin persentase (sekitar 206 ribu jiwa) dan menekan pengangguran hingga 90 ribu orang.
Pertumbuhan ekonomi yang inklusif tidak akan bertahan lama tanpa fondasi kelestarian lingkungan yang kokoh. Komitmen keberlanjutan AMMAN mendapat pengakuan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Republik Indonesia melalui penganugerahan Predikat PROPER Hijau pada April 2026. Predikat ini menegaskan operasional perusahaan yang melampaui kepatuhan biasa (beyond compliance).
Baca Juga: Mengolah Bijih dengan 'Otak' AI: Cara AMMAN dan Metalurgis Lokal Bikin Tambang Lebih Hijau
Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, menekankan bahwa PROPER bukan sekadar penilaian teknis, melainkan bentuk kepercayaan kedaulatan negara. AMMAN menjawab kepercayaan ini lewat deretan inovasi hijau yang terukur di area operasionalnya.
Di sektor energi, AMMAN mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ground-mounted berkapasitas 26,8 megawatt peak (MWp)—fasilitas surya terbesar untuk operasional pertambangan di Indonesia saat ini. Langkah transisi energi ini diperkuat dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) 450 MW untuk menekan intensitas emisi karbon dibandingkan energi berbasis batu bara. Efisiensi juga merambah hingga teknis operasional, seperti inovasi penggantian liner SAG Mill untuk menghemat konsumsi energi pada proses pengolahan bijih.
Prinsip ekonomi sirkular 3R (Reduce, Reuse, Recycle) turut diterapkan secara nyata. Limbah kardus bekas berbahan selulosa kini disulap menjadi mulsa organik untuk kebutuhan reklamasi lahan tambang. Inovasi ini memotong biaya operasional sekaligus memangkas volume sampah secara sirkular.
Di luar tapak tambang, AMMAN mengelola kawasan konservasi bahari di delapan pulau kawasan Gili Balu, Sumbawa Barat. Program ini mencakup restorasi terumbu karang buatan, perlindungan penyu, hingga pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Sementara lewat program community nursery, warga lokal KSB diajak langsung mengelola persemaian bibit tanaman yang dimanfaatkan untuk pemulihan lahan reklamasi perusahaan.
Keberlanjutan adalah tentang menyiapkan generasi mendatang. Melalui Program Pengelolaan Sampah Sekolah (PPSS) yang digulirkan sejak 2022 di Kabupaten Sumbawa Barat, AMMAN menanamkan budaya ramah lingkungan sejak dari bangku sekolah. Inisiatif ini berhasil meraih penghargaan tertinggi kategori Waste Management pada ajang Lestari Awards 2026.
Lewat PPSS, para siswa dan guru memilah sampah organik untuk diolah di Rumah Kompos (RUMPOS) menjadi pupuk organik bermerek POSTA. Kompos ini dimanfaatkan untuk penghijauan sekolah, pertanian warga, hingga pasokan reklamasi tambang.
Sepanjang 2022–2025, PPSS mengelola lebih dari 150 ton sampah organik, menghasilkan 50 ton kompos, serta mencegah 11 ton emisi karbon pada 2025. Hasil analisis menunjukkan nilai Social Return on Investment (SROI) mencapai 4,09—artinya, setiap Rp1 investasi sosial yang ditanamkan AMMAN menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan setara Rp4,09.
"Keberhasilan PPSS tidak hanya terlihat dari jumlah sampah yang dikelola, tetapi dari tumbuhnya kesadaran bahwa sampah memiliki nilai jika dikelola dengan benar," ungkap Priyo Pramono, VP Policy & Permitting dan Social Impact AMMAN.
Praktik baik ini bahkan telah direplikasi secara mandiri oleh sekolah-sekolah lain di luar program dan mengantarkan sejumlah sekolah meraih predikat Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional.
Beroperasinya smelter tembaga AMMAN menandai babak baru hilirisasi mineral nasional. LPEM FEB UI memproyeksikan bahwa peningkatan nilai tambah domestik dari smelter ini akan memperkuat ekosistem industri hilir berbasis logam, mulai dari sektor elektronik, energi terbarukan, hingga manufaktur.
Baca Juga: Cerita Sasambo 2026 Dibuka, AMMAN Siapkan Hadiah Ratusan Juta untuk Jurnalis NTB
Namun, di tengah kemegahan struktur industri modern tersebut, denyut utama keberlanjutan AMMAN tetap berakar pada manusia-manusianya: para siswa KSB yang memilah sampah di RUMPOS, nelayan yang menjaga ekosistem pesisir Gili Balu, hingga para ibu penggerak UMKM yang produk lokalnya kini berdaya saing global.
Kartika Octaviana, Vice President Corporate Communications AMMAN menegaskan, bahwa keberlanjutan adalah investasi strategis jangka panjang.
“Komitmen kami tidak berhenti pada pemenuhan kepatuhan, tetapi terus mendorong inovasi untuk menciptakan dampak positif yang terukur bagi lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.
Dari tanah Sumbawa Barat hingga panggung internasional, AMMAN membuktikan bahwa pertambangan skala besar dan keberlanjutan lingkungan-sosial dapat berjalan beriringan. Ketika investasi modal, inovasi hijau, dan pemberdayaan masyarakat menyatu, pertumbuhan ekonomi bukan lagi sekadar deretan angka statistik, melainkan cerita nyata tentang kemandirian, harga diri, dan kesejahteraan yang merata.
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan