Historis Kepeng Bolong Jangan Sampai Hilang Ditelan Zaman

Nurul Hidayati • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Beberapa uang logam terdahulu dipamerkan pada Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026 sekaligus Pameran Uang RINJANI di Gedung Serbaguna Bank Indonesia Perwakilan Provinsi NTB. Kegiatan pameran uang ini berlangsung hingga 15 Agustus 2026.
Beberapa uang logam terdahulu dipamerkan pada Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026 sekaligus Pameran Uang RINJANI di Gedung Serbaguna Bank Indonesia Perwakilan Provinsi NTB. Kegiatan pameran uang ini berlangsung hingga 15 Agustus 2026.

LombokPost – Perkembangan sistem pembayaran digital seperti QRIS tidak berarti masyarakat harus melupakan sejarah alat transaksi tradisional yang pernah digunakan di NTB.

Salah satu yang kembali diangkat dalam kegiatan Bank Indonesia pada Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026  sekaligus Pameran Uang RINJANI (Rupiah Berjaya Sampai Pelosok Negeri) di Mataram, yang direncanakan hingga 15 Agustus 2026 adalah kepeng bolong. Uang tradisional yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Lombok.

"Kepeng bolong memiliki bentuk bundar dengan lubang di bagian tengah," kata Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTB, Lalu Moh. Faozal. 

Baca Juga: Mengacu UU P2SK, Destry Damayanti Ditunjuk Jadi Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia

Benda tersebut tidak hanya memiliki nilai ekonomi pada masa lalu, tetapi juga berkaitan dengan tradisi masyarakat Sasak.

Salah satunya dalam prosesi adat sorong serah rangkaian perkawinan masyarakat Sasak.

"Dalam tradisi tersebut, kepeng bolong menjadi bagian dari kelengkapan adat yang memiliki makna tersendiri," cerita Faozal.

Baca Juga: Perkuat Ekonomi Kerakyatan Menuju Indonesia Emas 2045: Bank Indonesia Tingkatkan Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu

Keberadaan kepeng bolong dinilai menjadi pengingat bahwa sistem pembayaran masyarakat telah mengalami perjalanan panjang.

Dari alat pembayaran tradisional hingga QRIS, perubahan tersebut menunjukkan perkembangan zaman dan teknologi.

Namun, kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat generasi muda melupakan sejarah.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp 17.300 per USD, Bank Indonesia Perkuat Intervensi

Kepeng bolong bahkan dinilai layak ditampilkan dalam kegiatan pameran budaya agar masyarakat, khususnya generasi muda dan wisatawan, dapat mengenal sejarah alat pembayaran di Lombok.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, menyampaikan perkembangan pembayaran digital perlu berjalan beriringan dengan penguatan pemahaman  masyarakat terhadap Rupiah.

Melalui Pameran Uang RINJANI, masyarakat, khususnya generasi muda,  diajak mengenal perjalanan Rupiah serta menghargai, merawat, dan menggunakan Rupiah sebagai  simbol kedaulatan negara dan pemersatu bangsa.

“Digitalisasi sistem pembayaran perlu berjalan  beriringan dengan penguatan pemahaman masyarakat terhadap Rupiah. Melalui Pameran Uang  RINJANI, kami ingin mengajak masyarakat untuk mengenal, menghargai, merawat, dan menggunakan Rupiah sebagai simbol kedaulatan dan pemersatu bangsa,” ujar Hario.

Hario juga menekankan pembayaran tunai dan nontunai saling melengkapi dalam  aktivitas perekonomian. Bank Indonesia terus memastikan ketersediaan Rupiah yang cukup, berkualitas, dan layak edar, sekaligus memperkuat sistem pembayaran digital agar transaksi  berlangsung aman, efisien, inklusif, dan berdaya tahan.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post Online
Bank Indonesia Perekonomian tunai rupiah Digitalisasi