LombokPost - Ada satu kebiasaan yang mungkin terasa sederhana. Pagi hari, orang membeli koran. Membuka halaman demi halaman.
Membaca berita politik. Melihat olahraga. Mencari kabar daerah. Membaca iklan. Mungkin juga sekadar mencari berita tentang tetangga, teman, atau kampung halaman.
Begitulah media bekerja selama puluhan tahun. Media membuat konten. Pembaca mengonsumsi konten. Besok, media membuat konten lagi. Selesai.
Baca Juga: Lombok Post dan Krida Toyota Perkuat Kolaborasi Dunia Otomotif
Tetapi dunia berubah. Hari ini, orang tidak lagi menunggu koran untuk mengetahui apa yang terjadi. Cukup membuka ponsel.
Satu berita muncul dari WhatsApp. Berita lain dari Instagram. Video dari TikTok. Informasi harga dari marketplace. Rekomendasi tempat makan dari content creator. Informasi wisata dari teman. Bahkan pertanyaan sederhana seperti, “Di mana rumah sakit terdekat?” bisa dijawab mesin pencari dalam hitungan detik.
Informasi sudah ada di mana-mana. Justru karena itulah, media harus menemukan alasan baru untuk tetap dibutuhkan.
Baca Juga: Profesor Jepang Sambangi Lombok Post, Bahas Geopolitik dan Psikologi Media Bareng Stikes Mataram
Dan pada usia ke-35, Lombok Post memilih untuk tidak sekadar bertahan. Lombok Post ingin berubah. Bukan meninggalkan koran. Bukan pula sekadar memindahkan koran ke layar ponsel. Tetapi membangun sesuatu yang lebih besar: Platform Ekosistem Lombok Post.
Dari Media Menjadi Platform
Selama ini kita mungkin mengenal Lombok Post sebagai media. Ada koran. Ada website. Ada media sosial. Tetapi ke depan, cara melihatnya harus berubah.
Baca Juga: Rajut Sinergi, Diskominfotik NTB dan Lombok Post Berkomitmen Kawal Aspirasi Publik
Koran bukan lagi satu-satunya rumah Lombok Post. Website bukan sekadar tempat memindahkan berita. Media sosial bukan sekadar tempat membagikan link. Semuanya adalah bagian dari satu ekosistem.
Bayangkan sebuah rumah besar. Di dalamnya ada banyak ruangan. Ada ruang untuk berita. Ada ruang untuk informasi. Ada ruang untuk komunitas. Ada ruang untuk UMKM. Ada ruang untuk pariwisata. Ada ruang untuk bisnis. Ada ruang untuk masyarakat. Dan semuanya saling terhubung.
Itulah gagasan Platform Ekosistem Lombok Post. Bukan sekadar platform digital. Tetapi sebuah ekosistem informasi dan aktivitas masyarakat NTB.
Mengapa Harus Ekosistem?
Karena kehidupan masyarakat tidak pernah hanya membutuhkan berita. Ketika seseorang membaca berita tentang sebuah desa wisata, ia mungkin ingin tahu: di mana lokasinya?
Ketika menemukan tempat wisata, ia mungkin ingin tahu: di mana tempat makan terdekat?
Setelah makan, mungkin mencari tempat menginap. Ketika membutuhkan layanan kesehatan, ia mencari rumah sakit.
Ketika ingin membeli produk lokal, ia mencari UMKM. Ketika ingin mengetahui agenda daerah, ia mencari event. Artinya, informasi tidak berdiri sendiri.
Informasi melahirkan kebutuhan. Kebutuhan melahirkan aktivitas. Aktivitas melahirkan ekonomi. Di situlah media memiliki peluang baru.
Lombok Post tidak hanya memberitakan ekosistem NTB. Lombok Post ingin menjadi bagian dari ekosistem NTB.
Dari Pageview ke Value
Ini juga perubahan cara berpikir. Dulu, keberhasilan media sering kali diukur dari berapa banyak berita yang dibaca. Berapa pageview? Berapa unique visitor? Berapa banyak followers?
Semua itu tetap penting. Tetapi ke depan, pertanyaannya harus lebih jauh. Apa yang terjadi setelah orang membaca?
Apakah mereka menemukan tempat yang mereka cari? Apakah UMKM mendapatkan pelanggan baru? Apakah wisatawan menemukan destinasi yang tepat? Apakah masyarakat menemukan layanan yang dibutuhkan? Apakah komunitas menemukan ruang untuk berkembang? Apakah pelaku bisnis menemukan peluang kolaborasi?
Kalau jawabannya iya, maka media tidak hanya menghasilkan traffic. Media menghasilkan value. Dan value itulah yang kemudian bisa menjadi fondasi bisnis media masa depan.
Koran Tetap Ada
Lalu bagaimana dengan koran? Pertanyaan ini penting. Sebab di tengah pembicaraan mengenai digitalisasi, Lombok Post tidak sedang mengucapkan selamat tinggal kepada koran.
Justru sebaliknya. Koran tetap menjadi bagian penting dari identitas Lombok Post. Karena koran memiliki sesuatu yang tidak selalu dimiliki platform digital.
Rasa. Ada sesuatu yang berbeda ketika seseorang memegang koran pagi hari. Ada halaman yang dibuka. Ada foto yang dilihat. Ada headline yang menarik perhatian. Ada cerita yang dibaca lebih pelan.
Namun fungsi koran akan berkembang. Kalau digital bisa memberikan kecepatan, koran memberikan kedalaman. Kalau media sosial memberikan percakapan, koran memberikan konteks.
Kalau website memberikan update, koran memberikan perspektif. Jadi bukan koran versus digital. Keduanya harus hidup berdampingan dalam satu ekosistem.
35 Tahun Bukan Akhir
Tiga puluh lima tahun adalah waktu yang panjang bagi sebuah media. Lombok Post lahir ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ketika telepon masih memiliki kabel. Ketika berita tidak bisa dikirim dalam hitungan detik. Ketika seseorang yang ingin mengetahui kabar daerah harus menunggu koran terbit.
Hari ini semuanya berbeda. Tetapi ada satu hal yang tetap sama. Masyarakat membutuhkan informasi. Yang berubah adalah cara masyarakat mendapatkannya.
Karena itu, media yang ingin bertahan bukan media yang mempertahankan cara lama. Media yang bertahan adalah media yang memahami perubahan, tanpa kehilangan alasan mengapa ia ada.
Momentum 17 Agustus
Ada sesuatu yang menarik dari tanggal peluncuran platform ini, 17 Agustus.
Hari ketika Indonesia merayakan kemerdekaan. Hari ketika kita bicara tentang perjalanan panjang sebuah bangsa dan bagaimana sebuah bangsa harus terus bergerak maju.
Pada tanggal yang sama, Lombok Post juga merayakan ulang tahunnya yang ke-35. Mungkin ini kebetulan. Tetapi bisa juga menjadi sebuah pesan.
Bahwa setelah 35 tahun, Lombok Post juga harus merdeka dari cara berpikir lama tentang media. Merdeka dari anggapan bahwa media hanya menjual berita.
Merdeka dari ketergantungan pada satu sumber pendapatan. Merdeka dari batas antara koran, website, media sosial, komunitas, dan bisnis.
Karena semuanya sekarang bisa terhubung. Dan ketika semuanya terhubung, lahirlah sebuah ekosistem. Lombok Post berikutnya bukan hanya tempat membaca berita.
Ia bisa menjadi tempat menemukan informasi. Tempat menemukan peluang. Tempat menemukan komunitas. Tempat menemukan produk lokal. Tempat menemukan destinasi. Tempat menemukan layanan.
Bahkan tempat mempertemukan masyarakat dengan berbagai aktivitas ekonomi dan sosial di NTB. Itulah perjalanan berikutnya.
Dari media menuju platform. Dari platform menuju ekosistem. Dan dari ekosistem itu, Lombok Post berharap lahir sesuatu yang lebih besar.
Sebuah ruang digital yang tumbuh bersama masyarakat NTB. 35 tahun lalu, Lombok Post hadir membawa berita ke rumah-rumah masyarakat NTB.
Hari ini, Lombok Post ingin membawa lebih dari sekadar berita. Lombok Post ingin membawa NTB lebih dekat ke dalam satu genggaman.
Selamat ulang tahun ke-35, Lombok Post. Dan selamat merayakan kemerdekaan, Indonesia. Perjalanan belum selesai. Justru babak berikutnya baru dimulai. (*)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post