LombokPost-NTB memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang besar, mulai dari panas bumi, tenaga surya, mikrohidro, hingga biomassa.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026–2030 unsur pemangku kepentingan industri, Sripeni Inten Cahyani, mengatakan NTB memiliki potensi panas bumi sekitar 179 megawatt (MW).
Selain itu, potensi pembangkit listrik tenaga mikrohidro dan skala besar mencapai sekitar 80 MW, namun yang telah dimanfaatkan baru sekitar 17 MW.
“Kalau itu digunakan, energi surya digunakan, bisa saja NTB menjadi daerah yang punya ketahanan energi yang dibangun dari energi bersih,” kata Sripeni dalam Sarasehan Energi dan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Mataram (Unram), Kamis (20/8).
Baca Juga: Perusahaan Belanda Bidik Pengembangan PLTS 50 MW di Lombok Tengah
Menurutnya, potensi tenaga surya juga sangat besar dan relatif mudah dikembangkan. Lahan yang kurang produktif, terutama di wilayah selatan, dapat diarahkan untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), sementara lahan subur tetap dipertahankan untuk pertanian.
“Kalau yang subur, biar itu dipakai untuk tanaman pertanian,” ujarnya.
Sripeni juga melihat peluang besar dari biomassa. Salah satunya memanfaatkan limbah pertanian seperti jagung yang banyak dihasilkan di Sumbawa.
Biomassa tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar pembangkit. Pemanfaatannya bahkan telah dilakukan untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) melalui skema co-firing.
“Di Sumbawa menggunakan Jagung. Itu dipakai untuk biomasa dan itu sudah dipakai untuk PLTU sebagai co-firing,” katanya.
Potensi energi bersih juga dapat dikembangkan, dari sektor peternakan dan pertanian. Limbah ternak dan pertanian dapat diolah menjadi biogas yang kemudian dimanfaatkan masyarakat sebagai alternatif bahan bakar rumah tangga.
Baca Juga: NTB Pikat Investor Asing, Proyek PLTS dan PLTB Ready to Offer
Menurut Sripeni, pemanfaatan biogas dapat dilakukan dalam skala desa, dengan mengintegrasikan potensi peternakan dan pertanian yang tersedia di masing-masing wilayah.
“LPG bisa disubstitusi dengan biogas. Kompor-kompor itu bisa langsung diadakan. Dan sifatnya bisa per desa-per desa,” ujarnya.
Ia menilai, konsep tersebut sejalan dengan upaya membangun ketahanan energi dari tingkat daerah. Potensi energi yang tersedia di setiap wilayah perlu diolah agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada sumber energi dari luar daerah. “Dari daerah, kemudian daerahnya sudah bisa tahan mandiri,” katanya.
Sripeni juga menyoroti pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan EBT. Menurutnya, kampus memiliki banyak hasil riset yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui kolaborasi dengan pemerintah dan industri.
Salah satu potensi yang tengah dikaji adalah rumput laut. Komoditas yang selama ini banyak dikenal sebagai produk pangan dan oleh-oleh dari Lombok tersebut, dinilai memiliki peluang dikembangkan menjadi sumber energi melalui bioenergi atau biofuel.
“Rumput laut itu punya potensi untuk dikembangkan menjadi sumber energi,” ujarnya.
Baca Juga: Pemerintah Percepat Listrik Desa, Bangun PLTS 100 GW, Pastikan BBM dan LPG Subsidi Tetap Aman
Riset terkait potensi tersebut, kata dia, saat ini sedang dikembangkan oleh peneliti di Unram. Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan industri dinilai penting agar hasil riset tidak berhenti pada tahap penelitian.
Di sisi lain, Sripeni mengapresiasi langkah Pemprov NTB yang telah menerbitkan Pergub Nomor 4.3 Tahun 2024 terkait percepatan dekarbonisasi hingga 2050.
Menurutnya, target tersebut bahkan lebih cepat dibandingkan target net zero emission (NZE) nasional 2060. “Artinya, sebenarnya pemerintah daerah aware. Oh, saya mau mempercepat,” ujarnya.
Ia menilai karakter Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa juga menjadi modal penting dalam pengembangan energi NTB. Lombok memiliki karakter ekonomi yang kuat pada sektor pariwisata dan komersial, sementara Sumbawa memiliki aktivitas pertambangan yang besar. “Ini merupakan kombinasi yang sangat bagus menurut saya,” katanya.
Meski memiliki potensi besar, Sripeni menilai masih terdapat kesenjangan antara target dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED) dengan realisasi pemanfaatan energi terbarukan.
Baca Juga: NTB Siap Jadi Lumbung Energi Bersih! PLTS dan PLTB Raksasa Akan Dibangun 2026
Menurutnya, kondisi tersebut perlu dievaluasi bersama, termasuk ketegasan dan peran Pemprov NTB dalam mendorong investasi dan memastikan proses perizinan tidak menjadi hambatan.
“Masing-masing daerah diharapkan mampu mengidentifikasi kemampuan energi lokalnya. Lalu bekerja sama dengan baik dengan perguruan tinggi daerah,” tandasnya.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unram Sitti Latifah mengatakan, riset energi menjadi bagian dari pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.
“Sesuai dengan fungsinya kami memang konsentrasi di tiga hal, di tridharma, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian,” kata Sitti.
Unram banyak melakukan penelitian terkait energi yang dapat dikembangkan dan diterapkan melalui kolaborasi dengan pemerintah.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan