Kebakaran Desa Adat Sade Pukul Pariwisata Lombok

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 22:23 WIB
LUDES TERBAKAR: Warga berkumpul di sisa-sisa bangunan yang hangus pascabencana kebakaran di Desa Adat Sade, Lombok Tengah. (IVAN/LOMBOK POST)
LUDES TERBAKAR: Warga berkumpul di sisa-sisa bangunan yang hangus pascabencana kebakaran di Desa Adat Sade, Lombok Tengah. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB Sahlan M Saleh menyampaikan belasungkawa atas peristiwa kebakaran yang terjadi, di Desa adat Sade, Rembitan, Lombok Tengah.

“Kami dari BPPD NTB menyampaikan bela sungkawa atas peristiwa ini. Kami kehilangan satu destinasi yang cukup ikonik di Lombok,” katanya, Minggu (23/8). 

Saat ini, pihaknya mulai mendorong berbagai bentuk dukungan, tidak hanya berupa bantuan materi, namun moral kepada masyarakat yang terdampak dan mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama membantu pemulihan Desa adat Sade.

“Kita sama-sama bergerak untuk Sade, baik itu bantuan secara materi maupun moral. Itu yang ingin kita lakukan segera,” ujarnya. 

Baca Juga: Desa Adat Sade Terbakar, Warisan Budaya Tak Ternilai Suku Sasak Berpotensi Hilang Selamanya

Desa adat Sade selama ini bukan hanya dikenal sebagai tujuan wisata, tetapi juga menjadi ruang pelestarian budaya masyarakat Sasak. 

Destinasi budaya yang selama ini menjadi salah satu ikon pariwisata Lombok itu dikenal luas, bahkan menjadi bagian dari paket perjalanan wisatawan menuju kawasan Kuta Mandalika. 

Selama ini, wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang datang ke Pulau Lombok, tidak hanya mencari keindahan alam, seperti gunung maupun pantai, tetapi juga ingin mengenal budaya dan kehidupan masyarakat Sasak. 

Desa Adat Sade menjadi salah satu tempat yang menawarkan pengalaman tersebut, di dalamnya mencakup wisata budaya dan warisan budaya atau heritage yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. 

Menurut Sahlan, Desa Adat Sade juga menyajikan gambaran budaya dan tradisi masyarakat Sasak yang masih hidup hingga saat ini. Karenanya, keberadaan kawasan tersebut memiliki nilai lebih dari sekadar objek wisata.

Tingginya minat kunjungan ke Sade, terlihat dari jumlah wisatawan yang datang, mencapai 1.000 – 1.500 orang setiap harinya, baik itu wisatawan domestik maupun mancanegara.

Baca Juga: Menilik Alternatif Wisata Budaya dan Kerajinan di NTB Pascakebakaran Desa Sade

Terlebih, destinasi tersebut telah menjadi bagian dari paket wisata KEK Mandalika. “Ini menunjukkan bahwa Sade menjadi salah satu tujuan utama wisatawan saat berada di Lombok. Terutama bagi wisatawan yang mengambil paket perjalanan di kawasan Kuta Mandalika,” bebernya.

Sahlan yang juga ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASTINDO) NTB juga mengatakan, dengan kebakaran yang terjadi turut menjadi perhatian.

Ia mengaku menerima sejumlah pesan dari wisatawan yang pernah mengunjungi Desa Adat Sade, menghubunginya melalui aplikasi pesan instan dan panggilan, untuk mengonfirmasi kabar yang sebenarnya.

“Hari ini (23/8), saya menerima WhatsApp dari tamu-tamu yang sudah pernah ke sini, lebih kurang 30 WhatsApp yang mengonfirmasi tentang peristiwa Sade ini,” ujarnya. 

“Mereka semua menyampaikan keprihatinan dan kesedihannya. Destinasi yang mereka kunjungi ternyata sudah habis terbakar,” sambung Sahlan.  

Peristiwa itu juga berpengaruh terhadap penyusunan paket perjalanan wisata. Saat ini, pelaku industri perjalanan mulai mengoptimalkan destinasi lain sebagai alternatif bagi wisatawan yang sebelumnya memasukkan Sade dalam agenda perjalanan mereka. 

Baca Juga: Kemenpar Pastikan Pendampingan Pemulihan Kampung Adat Sade Lewat Poltekpar Lombok

Salah satu destinasi yang dapat menjadi alternatif adalah Desa Adat Ende. Destinasi tersebut akan dioptimalkan untuk menampung kunjungan wisatawan yang ingin menikmati wisata budaya masyarakat Sasak.  “Sekarang pengalihannya kita optimalkan di Desa Adat Ende,” ujarnya.

Meski demikian, Sahlan mengatakan kunjungan wisatawan ke Sade tetap dapat dilakukan. Terutama bagi wisatawan yang telah melakukan reservasi perjalanan sebelum peristiwa kebakaran terjadi. 

Menurut dia, kunjungan tersebut nantinya diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan wisata. Wisatawan juga dapat diajak untuk memberikan dukungan kepada masyarakat Sade agar kawasan itu dapat kembali dibangun dan dikembangkan. 

Wisatawan yang telah terlanjur melakukan reservasi dapat tetap dibawa ke kawasan tersebut. Selain melihat langsung kondisi Sade, kunjungan itu juga dapat menjadi bentuk solidaritas terhadap masyarakat. 

“Harapannya teman-teman yang sudah terlanjur reservasi, kita bawa ke Sade dan kita kunjungi Sade untuk kita lakukan donasi untuk mengembangkan Sade itu kembali,” ujarnya. 

Di sisi lain, peristiwa kebakaran di Desa Adat Sade menjadi perhatian bagi pengelola dan pemerintah, dalam memperkuat mitigasi bencana di destinasi wisata.

Baca Juga: Pemprov NTB Gerak Cepat, Kebut Rekonstruksi Desa Wisata Sade Pascakebakaran

Sahlan menilai kesiapsiagaan terhadap potensi bencana harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan wisata.

Terlebih, kawasan wisata budaya dan desa adat memiliki karakteristik bangunan dan lingkungan yang memerlukan penanganan khusus.

“Sade ini menjadi pelajaran kita bahwa mitigasi bencana itu harus kita siapkan, baik itu kebakaran maupun bencana-bencana lainnya,” katanya.

Ketersediaan peralatan pemadam kebakaran, perlu menjadi perhatian agar risiko kebakaran dapat diminimalkan. “Artinya alat APAR dan sebagainya itu minimal sudah tersedia di sekitar sana,” ujarnya. 

Sahlan mengatakan langkah mitigasi tersebut penting apabila semua pihak ingin menjaga keberadaan destinasi wisata untuk jangka panjang.

Pengembangan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga harus diimbangi dengan kesiapan menjaga keamanan dan keberlanjutan destinasi. 

“Bila ingin kita terus menjaga destinasi itu supaya tetap ada, mitigasi bencana harus kita siapkan,” katanya. 

Baca Juga: Mengenal Sisi Unik Desa Sade: Jejak Kearifan Leluhur yang Tetap Hidup di Tengah Ujian

BPPD NTB bersama berbagai pihak, termasuk pelaku industri pariwisata ikut memperjuangkan pemulihan Desa Adat Sade, dan diharapkan dapat membantu masyarakat kembali menata kawasan setelah kebakaran.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan
wisatawan Mandalika desa adat sade Lombok Pariwisata