LombokPost-Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB memperketat langkah mitigasi dan antisipasi potensi kebakaran di TPAR Kebon Kongok, di tengah kondisi cuaca yang semakin panas.
“Beberapa kali dari pihak kementerian mengingatkan kami untuk mengantisipasi kejadian-kejadian seperti itu, karena sekarang lagi puncak El Nino ya,” kata Kepala UPTD TPAR Kebon Kongok Dinas LHK NTB Akhmad Gifary, Selasa (25/8).
Untuk menekan risiko timbulnya percikan api yang dapat meluas, TPAR Kebon Kongok menerapkan skema penutupan sampah harian menggunakan tanah (sanitary landfill).
Baca Juga: Yayasan Cili Community House KLU Ikut Merasakan Duka Kebakaran Kampung Sade
Lapisan tanah ini berfungsi sebagai penyekat utama agar jika terjadi potensi kebakaran di permukaan, api tidak merambat hingga ke bagian dasar tumpukan sampah.
“Setiap hari sampah ditimbun, dilapisin pakai tanah. Kondisi itu bisa mencegah kebakaran lebih luas karena jika terbakar tidak sampai ke bawah, ada tanah yang melindungi,” bebernya.
Berikutnya, kesiapan alat pemadam kebakaran juga menjadi perhatian utama. TPAR Kebon Kongok menyiagakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), tandon air berkapasitas besar, pompa pemadam, serta selang khusus sepanjang 35 meter yang dirancang mampu menjangkau hingga ke puncak tumpukan sampah (landfill).
Guna memastikan seluruh fasilitas berfungsi optimal sekaligus melatih kesiapsiagaan sumber daya manusia (SDM) di lapangan, pihaknya telah menggelar simulasi penanganan kebakaran pada bulan lalu.
Melalui simulasi tersebut, seluruh personel tidak hanya memastikan kelayakan alat, tetapi juga dibekali pemahaman mendalam terkait alur kerja dan penanganan darurat yang harus dilakukan.
“Kita punya selang yang bisa naik ke puncak landfill panjangnya 35 meter dan tandon air itu sampai ke puncak. Pompanya, pipanya, alhamdulillah semua berfungsi,” tegas Gifary.
Baca Juga: Desa Adat Sade Terbakar, Warisan Budaya Tak Ternilai Suku Sasak Berpotensi Hilang Selamanya
Dari sisi keamanan dan pengawasan area TPA, meski beberapa unit kamera CCTV masih dalam proses pemulihan operasional, pengamanan fisik diperketat selama 24 jam nonstop.
Ia menjelaskan petugas keamanan dikerahkan untuk melakukan patroli berkala di seluruh area TPAR Kebon Kongok, termasuk menjangkau kawasan landfill.
Hasil pemantauan langsung tersebut, wajib dilaporkan secara berkala melalui grup komunikasi internal.
Gifary mengakui potensi sumber api dari sampah yang masuk ke TPAR Kebon Kongok, tidak selalu dapat dideteksi sejak awal. Truk pengangkut sampah dari wilayah kota/kabupaten tidak diperiksa satu per satu sebelum membongkar muatan.
Karena itu, pengawasan dilakukan saat sampah berada di area landfill. Pengawas timbunan bertugas mengatur, sekaligus memantau truk yang masuk. “Pengawas timbunan kita di landfill bertugas mengatur truk dan mengawasi lokasi,” ujarnya.
Aktivitas pemulung yang berada di TPA juga menjadi bagian dari pengawasan awal, terhadap sampah yang berpotensi membahayakan.
Petugas juga terus mengingatkan agar tidak ada aktivitas merokok di area landfill. Larangan tersebut penting karena keberadaan gas metana, di timbunan sampah dapat meningkatkan risiko kebakaran.
“Kita pastikan jangan ada yang merokok dan sebagainya. Alhamdulillah selama ini tidak ada. Memang tidak boleh, karena ada gas metana,” katanya.
Dengan seluruh kesiapan sarana, prasarana, serta pemahaman operasional SDM yang matang, UPTD TPAR Kebon Kongok menyatakan kesiapannya dalam menghadapi potensi darurat, sembari terus berharap area TPA tetap aman dan terhindar dari musibah kebakaran. “Setidaknya, kita sediap apyung sebelum hujan,” tandasnya.
Melalui siaran resminya, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Moh Jumhur Hidayat menginstruksikan seluruh pemda meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran di TPA.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga November.
“Kerahkan pemadam kebakaran untuk melakukan pembasahan terhadap area TPA, karena sampah di TPA mengandung gas metana yang tinggi,” tegasnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan