LombokPost-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mencatat, dampak bencana kekeringan di wilayah Bumi Gora kian meluas.
Berdasarkan data pemutakhiran per 31 Agustus, sembilan kabupaten/kota terdampak krisis air bersih akibat kemarau panjang yang diperkuat fenomena El NiNo.
"Lama Hari Tanpa Hujan (HTH) memicu penetapan status darurat di berbagai daerah," jelas Kepala BPBD NTB Sadimin, Rabu (2/9).
Dari total wilayah terdampak, enam kabupaten/kota menetapkan status Siaga Darurat. Sementara dua kabupaten lainnya telah menaikkan status menjadi Tanggap Darurat.
"Total dampak mencakup 64 kecamatan, 246 desa/kelurahan, 233.873 KK, atau setara 878.407 jiwa," jelas dia.
Baca Juga: Tambora Segera Dapat Tambahan Anggaran Rp 3,63 miliar Penanganan Karhutla
Sebaran dampak kekeringan di Pulau Lombok, ada Lombok Tengah yang mencatatkan dampak terparah dengan status Siaga Darurat. Mencakup sembilan kecamatan, 91 desa, serta melibatkan 169.517 KK atau 678.066 jiwa.
Kondisi ini disusul oleh Lombok Timur yang juga berstatus Siaga Darurat dengan tujuh kecamatan, 41 desa, 31.114 KK, dan 84.463 jiwa terdampak. Sementara itu, Lombok Barat mencatat enam kecamatan, 16 desa, 5.595 KK, serta 17.099 jiwa yang mengalami krisis air, diikuti Lombok Utara yang melaporkan lima kecamatan, 13 desa, 3.337 KK, dan 10.892 jiwa berstatus Siaga Darurat.
"Kalau Kota Mataram hingga saat ini masih dalam pemantauan dan belum mengonfirmasi adanya data terdampak yang signifikan," ujar Sadimin.
Beralih ke Pulau Sumbawa, Kabupaten Sumbawa telah menaikkan statusnya menjadi Tanggap Darurat. Itu guna percepatan penanganan, melingkupi 12 kecamatan, 19 desa, 10.703 KK, dan 42.728 jiwa.
Langkah serupa juga diambil Pemkab Bima yang menetapkan status Tanggap Darurat dengan wilayah terdampak terluas di pulau tersebut. Yakni mencapai 15 kecamatan, 42 desa, 9.287 KK, serta 29.063 jiwa.
Sumbawa Barat mencatat tiga kecamatan, delapan desa, 1.680 KK, dan 6.765 jiwa terdampak dengan status Siaga Darurat. Beriringan dengan Dompu yang melaporkan tiga kecamatan, tujuh desa, 1.511 KK, serta 6.044 jiwa.
Baca Juga: Prediksi Kemarau Panjang, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis
Terakhir, Kota Bima mencatatkan dampak kekeringan yang tersebar di empat kecamatan dan sembilan desa, dengan total 1.129 KK atau 3.287 jiwa terdampak.
Menanggapi kondisi kritis ini, Sadimin mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan mengantisipasi bahaya kebakaran hutan, lahan, maupun pemukiman.
"Kami minta warga tidak membakar sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api di area lahan kering. Potensi kebakaran sangat tinggi di situasi HTH memanjang seperti saat ini," tegasnya.
Plt Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara (NT) I Antonius Suryono mengatakan, penyaluran air bersih dilakukan melalui Posko Bencana sebagai bentuk respons terhadap kebutuhan masyarakat.
“Distribusi air bersih ini kami lakukan untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Antonius.
Pada Senin (31/8), BBWS NT I menyalurkan sebanyak 5 ribu liter air bersih kepada masyarakat di Desa Kuripan Timur, Kecamatan Kuripan.
Pada hari yang sama, distribusi juga dilakukan di Lingkungan Amahami, Kelurahan Dara, Kecamatan RasanaE Barat, Kota Bima. Sebanyak 4.700 liter air bersih disalurkan menggunakan satu unit truk tangki.
"Penyaluran di wilayah ini menjangkau 170 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 545 jiwa penerima manfaat," jelasnya.
Baca Juga: Cegah Gagal Panen, Petani di NTB Diminta Disiplin Patuhi Rencana Tata Tanam
Tidak berhenti di Kota Bima, bantuan air bersih kembali disalurkan pada Selasa (1/9) ke Desa Roka, Kecamatan Belo, Bima. Dalam penyaluran tersebut, BBWS NT I melalui Posko Bencana mendistribusikan sebanyak 4.700 liter air bersih, kepada warga yang terdampak kekeringan. Bantuan tersebut menjangkau 143 KK atau sekitar 429 jiwa penerima manfaat.
Penyaluran air bersih di sejumlah wilayah menjadi bagian dari upaya BBWS NT I membantu masyarakat, memenuhi kebutuhan dasar di tengah kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah daerah NTB.
"Bantuan air bersih diberikan untuk memastikan masyarakat, tetap mendapatkan akses air untuk kebutuhan sehari-hari selama kondisi kekeringan berlangsung," tandasnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan