Festival yang semula dijadwalkan berlangsung pada 22–25 Oktober 2026 di Nusa Tenggara Barat (NTB) ini resmi diundur menjadi 10–13 Desember 2026 akibat eskalasi risiko bencana alam.
Keputusan pembatalan kedatangan fisik dan penundaan ini diambil setelah sejumlah narasumber serta utusan pakar internasional dari Australia, Italia, hingga Malaysia menunda perjalanan ke Lombok demi alasan keselamatan.
Baca Juga: Sumbangan Sapo Development untuk Warga Sade Sudah Ditransfer
Meski batal hadir secara langsung di lokasi acara, para pakar asing tersebut mengonfirmasi akan tetap memberikan materi secara daring (online conference).
Direktur MIF sekaligus Vice President Asia Pacific Institute For Events Management (APIEM) UK, Sirajuddin, menegaskan bahwa penundaan ini merupakan bagian dari eksekusi manajemen risiko yang telah disiapkan sejak jauh hari.
Pihak penyelenggara menetapkan skenario cadangan (Plan B) guna merespons kondisi darurat (force majeure), seperti bencana alam erupsi gunung berapi, gempa bumi, hingga ancaman gelombang tinggi.
Baca Juga: Keseruan Menjajal Trekking Menantang di Bukit Bao Daya Sembalun
"Jika terjadi national risk maupun international risk, manajemen MIF mengutamakan Safety and Security. Event yang baik adalah event yang peka dan sensitif terhadap risiko yang akan timbul, bukan semata-mata memikirkan kesuksesan gelaran, melainkan keselamatan pengunjung, talent, serta menghindari risiko yang lebih besar," tegas Sirajuddin.
Ia menambahkan bahwa dalam penyelenggaraan acara tingkat global, ancaman bencana alam masuk dalam kategori risiko tingkat tinggi (high risk). Oleh karena itu, penerapan Plan B, yakni pergeseran jadwal ke bulan Desember, menjadi langkah wajib.
Manajemen MIF juga telah mengantisipasi skenario terburuk melalui Plan C, yaitu Re-Planning and Re-Design acara, apabila situasi darurat terus berlanjut. Menurut akademisi Poltekpar Lombok tersebut, kehati-hatian dan kepatuhan terhadap kondisi alam merupakan prioritas utama dalam menghargai sisi kemanusiaan.
Meskipun mengalami penyesuaian jadwal, substansi dan bobot penyelenggaraan MIF 2026 tidak berubah. Mengusung tema besar “Mandalika Wonderful Indonesia”, festival edisi ke-5 ini bertumpu pada empat pilar utama, yakni Culture, Nature, Unique, dan Beauty.
Berbeda dari festival hiburan biasa, MIF 2026 diposisikan sebagai panggung kolaborasi global yang memadukan keindahan tradisi Nusantara dengan kecanggihan sains dan teknologi.
"Acara ini dirancang sebagai wadah interaktif bagi jurnalis, akademisi, seniman, hingga mahasiswa untuk berkumpul, belajar, dan memamerkan karya terbaik mereka ke tingkat internasional," ujar kandidat Doktor Terapan Pariwisata IPB Internasional Bali kelahiran NTB ini.
Editor : Siti Aeny MaryamSumber : Liputan