DJPb Dorong Perluasan Bank Penyalur KUR PMI, tapi Pemprov NTB Masih Fokus Pilot Project

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 05:40 WIB
Kepala Kanwil DJPb NTB Ratih Hapsari Kusumawardani dan Kepala Biro Ekbang Setda NTB Izzudin Mahili. (YUYUN/LOMBOK POST)
Kepala Kanwil DJPb NTB Ratih Hapsari Kusumawardani dan Kepala Biro Ekbang Setda NTB Izzudin Mahili. (YUYUN/LOMBOK POST)

LombokPost-Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) di NTB, mulai menunjukkan tanda-tanda realisasi.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) NTB Ratih Hapsari Kusumawardani mengatakan, penyaluran KUR PMI sebelumnya tidak mudah diakses oleh calon PMI NTB.  

“Kami sampaikan bahwa KUR ini belum maksimal. Kami juga sudah koordinasi dengan BP3MI sebenarnya,” kata Ratih.

Salah satu kendala yang sebelumnya ditemukan, belum adanya lembaga yang dapat mengumpulkan pembayaran dari para nasabah PMI, kecuali Malaysia.

Baca Juga: KUR PMI Bank NTB Syariah, Kado Hari Kemerdekaan Bagi Pahlawan Devisa

Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian DJPb NTB hingga disusun policy brief yang disampaikan, kepada Gubernur NTB dan Komisi XI DPR RI. 

Kendala tersebut kini mulai teratasi setelah penyaluran KUR PMI, dapat dilakukan melalui Bank NTB Syariah.

Melalui skema tersebut, mengacu data per 1 Agustus 2026, realisasi penyaluran KUR PMI NTB baru terealisasi Rp 94 juta.

Capaian tersebut masih tergolong rendah. Karenanya, DJPb NTB mendorong perluasan bank penyalur, agar akses KUR bagi PMI di NTB tidak hanya bergantung pada satu bank saja, tetapi dapat diperluas dengan melibatkan perbankan lainnya.

Kini dokumen tersebut juga dapat kembali digunakan sebagai bahan dalam mendorong perluasan penyaluran KUR PMI melalui perbankan lainnya. “Nanti kami juga bisa memberikan policy brief kami,” tandas Ratih.

Terpisah, Kepala Biro Ekonomi dan Administrasi Pembangunan (Ekbang) Setda NTB Izzudin Mahili mengatakan, penyaluran KUR PMI di NTB saat ini masih dalam tahap pilot project.

kuBaca Juga: Pemprov NTB dan Bank NTB Syariah Luncurkan KUR PMI, Putus Mata Rantai Keberangkatan Ilegal

Perluasan penyaluran ke bank daerah lainnya, belum dilakukan karena pemerintah masih mematangkan model pembiayaan tersebut. 

“Kalau KUR PMI ini berarti kita baru pilot project saja sekarang, tahap awal ini artinya untuk mengurangi beban PMI kita,” ujarnya.

Total alokasi plafon KUR untuk PMI di Bank NTB Syariah sebesar Rp 10 miliar, dari total keseluruhan alokasi KUR mencapai Rp 40 miliar.

Untuk tahap awal, Bank NTB Syariah menyiapkan pembiayaan KUR PMI sebesar Rp 9 juta per calon PMI dengan jangka waktu pengembalian (tenor) selama tujuh bulan.

Menurutnya, pilot project tersebut menjadi tahap awal untuk menemukan pola pembiayaan yang tepat, sebelum program diperluas. Pemprov NTB ingin memastikan skema yang diterapkan dapat berjalan.

Skema ini hadir dan diharapkan meringankan beban biaya persiapan dan keberangkatan calon PMI, membebaskan masyarakat dari jeratan lembaga keuangan non-formal/rentenir, serta mendorong peningkatan kesejahteraan keluarga pahlawan devisa di Tanah Air. 

Alasan lain belum melakukan ekspansi ke bank lain, lantaran pembiayaan PMI berkaitan dengan transaksi antarnegara. Proses pembayaran melibatkan pihak di luar negeri sehingga skemanya dinilai membutuhkan pengaturan yang lebih ketat. 

Baca Juga: Aktivasi Kembali Setelah 8 Tahun: Bank NTB Syariah Raih Plafon KUR Rp40 Miliar, Fokus Sektor Produktif dan PMI

Karenanya, di tahap awal, penyaluran KUR PMI masih menggunakan kerja sama dengan Maybank Indonesia dan Maybank Malaysia. Skema tersebut dilakukan karena Bank NTB Syariah saat ini belum berstatus sebagai bank devisa. “Nah, sekarang untuk model ini masih kerja sama dengan pihak Maybank,” tegas Izzudin.

Bank NTB Syariah ditargetkan menjadi bank devisa pada 2027, sehingga dapat melayani transaksi internasional sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan status tersebut, pola transaksi KUR PMI nantinya dapat dikembangkan, dengan keterlibatan langsung Bank NTB Syariah.

Izzudin menegaskan, pilot project menjadi tahap untuk menguji pelaksanaan program sebelum diperluas. Pemerintah masih mencari pola yang tepat dengan mempertimbangkan kemungkinan kendala dalam pelaksanaannya. 

“Karena program tetap ada kendala, ada masalah, ada trial and error sebelum dapat modelnya. Itu gunanya pilot project, biar kita belajar,” terangnya. 

Kendati demikian, Izzudin menegaskan Pemprov NTB membuka diri setelah model penyaluran dinilai matang, kemungkinan memperluas keterlibatan lembaga keuangan. Salah satunya Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Editor : Rury Anjas Andita
Sumber : Liputan
KUR PMI PMI Bank NTB Syariah devisa NTB