Tenaga Kesehatan Pesisir Diperkuat Tangani Cedera Penyelaman

Kimda Farida • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 15:10 WIB
PELATIHAN CEDERA PENYELAMAN: Tenaga kesehatan mengikuti Mini Symposium dan Workshop Tatalaksana Komprehensif Cedera Penyelaman yang digelar Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan FKIK Universitas Mataram di kawasan wisata selam Lombok.
PELATIHAN CEDERA PENYELAMAN: Tenaga kesehatan mengikuti Mini Symposium dan Workshop Tatalaksana Komprehensif Cedera Penyelaman yang digelar Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan FKIK Universitas Mataram di kawasan wisata selam Lombok.

 

LombokPost--Sebanyak 65 tenaga kesehatan dari kawasan Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno, dan Sekotong mengikuti Mini Symposium dan Workshop Tatalaksana Komprehensif Cedera Penyelaman.

Kegiatan tersebut memperkuat kemampuan tenaga kesehatan dalam mengenali gejala, memberikan penanganan awal, hingga melakukan rujukan pasien dengan cedera penyelaman.

Kegiatan yang digelar Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan FKIK Universitas Mataram itu menekankan pentingnya penggalian riwayat penyelaman ketika pasien datang dengan keluhan setelah menyelam.

Dr. dr. E. Hagni Wardoyo, Sp.MK(K)., Sp.KL(K) mengatakan, informasi mengenai aktivitas penyelaman menjadi dasar penting bagi tenaga kesehatan dalam menilai kondisi pasien.

“Tenaga kesehatan perlu mengetahui kapan penyelaman dilakukan, berapa kedalamannya, berapa lama berada di bawah air, apakah melakukan penyelaman berulang, bagaimana profil naik ke permukaan, serta kapan gejala pertama kali muncul,” katanya.

Informasi tersebut membantu tenaga kesehatan melihat hubungan antara aktivitas penyelaman dengan keluhan yang dialami pasien.

Keluhan seperti nyeri sendi, kesemutan, kelelahan, ruam kulit, hingga vertigo perlu mendapat perhatian apabila muncul setelah aktivitas menyelam.

Kondisi tersebut dapat menjadi manifestasi awal cedera disbarik dan membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

Baca Juga: Kemenkum NTB Kaji Merek Kolektif untuk Perkuat Identitas Kerupuk Kulit Seganteng

Diagnosis decompression illness (DCI) terutama mempertimbangkan riwayat penyelaman, waktu munculnya gejala, faktor risiko, dan manifestasi klinis.

Pemeriksaan penunjang tidak seharusnya menyebabkan keterlambatan penanganan atau rujukan ketika terdapat dugaan cedera penyelaman.

Pelatihan juga menekankan pentingnya penanganan pasien sebelum tiba di rumah sakit.

Tenaga kesehatan diminta melakukan penilaian awal secara sistematis, menjaga kondisi pasien tetap stabil, memberikan terapi sesuai kondisi klinis, serta segera berkoordinasi untuk proses rujukan.

Pemberian oksigen menjadi salah satu penanganan awal bagi pasien dengan dugaan decompression illness.

Terapi dapat diberikan selama fase awal pelayanan dan dilanjutkan saat evakuasi sesuai kondisi pasien serta fasilitas yang tersedia.

“Pemberian oksigen secara dini menjadi bagian penting dalam penanganan awal pasien dengan dugaan cedera penyelaman, sembari memastikan kondisi pasien stabil dan proses rujukan segera dilakukan,” ujar Hagni.

Hal tersebut penting bagi wilayah kepulauan karena pasien tidak selalu dapat segera mencapai rumah sakit rujukan.

Selama perjalanan, kondisi pasien harus tetap dipantau dan penanganan awal dilanjutkan sesuai kebutuhan.

Peserta dari Gili Trawangan dan Gili Air banyak membahas kendala evakuasi melalui jalur laut dan akses menuju rumah sakit.

Baca Juga: SMAN 2 Donggo Gelar Bimtek Digitalisasi BOS Kinerja 2026, Perkuat Tata Kelola Pendidikan

Sementara peserta dari Sekotong menyoroti koordinasi rujukan antarfasilitas kesehatan, termasuk dalam menangani penyelam tradisional dan wisatawan.

Kondisi tersebut menunjukkan penanganan cedera penyelaman membutuhkan jejaring pelayanan yang melibatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama, layanan transportasi medis, rumah sakit rujukan, hingga fasilitas hiperbarik.

Untuk membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan dalam situasi darurat, tim pengabdian juga mengembangkan Kartu Tempel Tatalaksana Awal Cedera Penyelaman di Layanan Primer Pesisir.

Kartu tersebut dapat ditempel atau digantung di ambulans, ruang IGD, maupun area pelayanan kesehatan.

Isinya mencakup informasi riwayat penyelaman, gejala, tanda bahaya, prinsip penanganan awal, dan rujukan.

Media tersebut diharapkan menjadi pengingat praktis sehingga tenaga kesehatan tidak hanya mengandalkan ingatan ketika menghadapi pasien dengan dugaan cedera penyelaman.

Kegiatan tersebut juga mendorong pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kesehatan di wilayah pesisir.

Selain pembaruan pengetahuan, simulasi dan evaluasi keterampilan diperlukan untuk memastikan materi pelatihan dapat diterapkan dalam pelayanan.

Penguatan jejaring juga penting dengan melibatkan puskesmas, rumah sakit, layanan transportasi, pusat komunikasi kegawatdaruratan, pengelola wisata selam, dan komunitas penyelam.

Langkah itu diperlukan agar sistem penanganan sudah siap ketika terjadi kecelakaan penyelaman, termasuk sebelum pasien tiba di rumah sakit.

Baca Juga: Jeda Internasional Terpanjang Tiba, Bintang Arsenal Diuji di Berbagai Belahan Dunia

Wisata selam menjadi salah satu potensi wisata bahari Lombok. Namun, perkembangan sektor tersebut perlu diikuti kesiapan pelayanan kesehatan di wilayah pesisir.

Melalui kegiatan tersebut, Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Kelautan FKIK Universitas Mataram berupaya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam menghadapi cedera penyelaman.

Dengan kemampuan mengenali gejala, memberikan oksigen dan pertolongan awal, serta melakukan rujukan secara tepat, tenaga kesehatan di kawasan pesisir diharapkan semakin siap menangani kondisi kegawatdaruratan pada penyelam.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
cedera penyelaman wisata selam Lombok Tenaga Kesehatan Universitas Mataram FKIK Unram