Ketika Dapur Ide Mandalika Internasional Festival Meretas Standar Baru Festival Internasional

Siti Aeny Maryam • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 13:50 WIB
Jelang pelaksanaan Mandalika International Festival (MIF) 2026 edisi ke-5 pada 10–13 Desember 2026 mendatang,
Jelang pelaksanaan Mandalika International Festival (MIF) 2026 edisi ke-5 pada 10–13 Desember 2026 mendatang,
LombokPost — Di balik megahnya sirkuit dan riuhnya garis pantai Mandalika, ada narasi besar yang sedang dirajut. Jelang pelaksanaan Mandalika International Festival (MIF) 2026 edisi ke-5 pada 10–13 Desember 2026 mendatang, festival ini menegaskan posisinya, yakni bukan sekadar panggung hiburan sesaat, melainkan laboratorium ide bagi masa depan pariwisata Indonesia.

Hingga Sabtu (26/9/2026), grafik pendaftaran peserta menembus angka 650 orang. Mengusung tema besar "Mandalika Wonderful Indonesia", MIF ke-5 ini membedah potensi daerah melalui tiga poros utama: keaslian alam (Nature), kebudayaan (Culture), dan keindahan destinasi (Beauty), yang dikemas dalam sains, teknologi, serta seni pertunjukan.

Dinamika paling menarik dari MIF 2026 berada pada ekosistem manusianya. Ribuan berkas pendaftaran yang masuk dari berbagai kota. Mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, NTT, hingga pelosok NTB, menunjukkan daya pikat festival ini di mata generasi muda.

Baca Juga: Diikuti Peserta 42 Negara, PNB Jadi Tuan Rumah Konferensi Global EEEU26 Berbasis Bisnis Pariwisata

Direktur MIF, Sirajuddin, menyebut proses seleksi ini sebagai ajang inkubasi kapasitas. Dimana pintu pendaftaran dibuka luas tanpa syarat pengalaman awal. Para calon volunteer digembleng melalui workshop intensif manajemen event.

Komposisi peserta dikunci pada kualifikasi 80% SDM lokal NTB dan 20% skala nasional guna memastikan keterlibatan warga lokal sebagai aktor utama.

Dari total pendaftar, 100 kandidat terbaik diproyeksikan mengisi struktur vital (70 Volunteer dan 30 MIF Management). Sementara 100 peserta lainnya diserap dalam agenda Mandalika International Conference dan Mandalika International Grandshow.

Baca Juga: Melihat Kesibukan Para Pelinting Rokok di SIHT Lombok Tengah

Tidak seperti festival yang lahir secara spontan, MIF dibangun di atas kajian akademis sejak 2020. Dengan menggunakan pisau analisis 7A (Attractions, Amenities, Accessibility, Activities, Accommodation, Ancillary, & Adaptation), Kawasan Mandalika dipilih melampaui destinasi lain karena kelengkapan ekosistemnya.

Rancangan kegiatan ini mengadopsi standar Asia Pacific Institute for Event Management (APIEM) United Kingdom (Inggris), menjadikan MIF sebagai salah satu dari sedikit festival di Indonesia yang mengantongi kualifikasi manajemen MICE bertaraf internasional.

"Kami menggabungkan pengetahuan, riset, tradisi, hingga wellness dan wisata religi sebagai agenda pembuka. Tujuan akhirnya adalah melahirkan rekomendasi kebijakan yang konkret bagi pemangku kepentingan," terang Sirajuddin, yang juga menjabat Vice President APIEM UK.

Rekam jejak kontribusi MIF bukanlah cerita baru. Dalam rekam jejaknya sejak 2022, MIF dan akademisi Poltekpar Lombok berada di garda depan saat KEK Mandalika membutuhkan dukungan personil volunteer untuk ajang balap dunia sekelas WSBK dan MotoGP.

Melihat rekam jejak tersebut, Sirajuddin menekankan pentingnya sinergi yang matang antara pihak penyelenggara dengan entitas seperti Pemprov NTB, Pemkab Lombok Tengah, ITDC, dan MGPA.

"Pariwisata berkelanjutan tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan kejelian pemerintah dan pengelola kawasan untuk mendukung event yang benar-benar memberikan dampak (impact) nyata dan terencana. Apresiasi dan komunikasi yang ramah adalah fondasi utama kolaborasi ini," pungkasnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
Sumber : Liputan
MIF Pemda Peserta Pariwisata