Dikes NTB Pantau Ketat Lima Penyakit Akibat Cuaca Panas dan Perubahan Musim

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 21:48 WIB
Kepala Dikes NTB HL Hamzi Fikri. (YUYUN/LOMBOK POST)
Kepala Dikes NTB HL Hamzi Fikri. (YUYUN/LOMBOK POST)

LombokPost-Dinas Kesehatan (Dikes) NTB memperkuat kewaspadaan terhadap peningkatan sejumlah penyakit yang berpotensi dipengaruhi oleh perubahan cuaca, kelembapan, kondisi lingkungan, kualitas air, dan sanitasi.

Kepala Dikes NTB HL Hamzi Fikri mengungkapkan, data dari pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) hingga pekan ke-36 Tahun 2026, terdapat lima penyakit yang menunjukkan tren peningkatan dengan faktor risiko perubahan cuaca, kelembapan, kontaminasi air, serta sanitasi yang kurang baik,

“Ada Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Diare Akut, Suspek Demam Tifoid, Influenza Like Illness (ILI), dan Pneumonia,” terangnya, Kamis (24/9).

Baca Juga: Tetap Bugar di Tengah Cuaca Panas ala  Kreator Konten Enio Shadu

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena data nasional, juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas influenza dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan situasi influenza Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per 23 September, tren kasus pneumonia berdasarkan laporan SKDR dan surveilans sentinel SARI menunjukkan peningkatan pada pekan ke-35.

Kendati demikian, kata Fikri, secara keseluruhan tingkat aktivitas influenza nasional masih berada dalam kategori rendah, sehingga situasi influenza secara nasional masih dinilai terkendali.

Berdasarkan pemantauan SKDR, Lombok Timur menjadi wilayah dengan beban penyakit yang paling dominan pada periode pekan 1–37 Tahun 2026.

“Lombok Timur menempati posisi tertinggi untuk Diare Akut, Pneumonia, Suspek Demam Tifoid, ILI, dan ISPA dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Provinsi NTB,” jelasnya.

Dominasi paling menonjol terlihat pada Suspek Demam Tifoid dan ILI, dengan Lombok Timur masing-masing menyumbang sekitar 39,0 persen dan 37,1 persen dari seluruh kasus yang tercatat di NTB.

Untuk ISPA, Lombok Timur mencatat 77.431 kasus atau sekitar 24,4 persen dari total kasus NTB, menjadikannya wilayah dengan beban absolut ISPA terbesar.

Fikri menerangkan, sejumlah wilayah lain juga menunjukkan beban penyakit yang cukup besar. Lombok Barat mencatat 69.338 kasus ISPA dan 10.694 kasus Diare Akut, Lombok Tengah mencatat 39.180 kasus ISPA dan 8.919 kasus Diare Akut, sedangkan Kota Mataram mencatat 42.483 kasus ISPA dan 8.450 kasus Diare Akut.

Baca Juga: Karhutla Kalteng Belum Padam, Kasus ISPA Tembus 91 Ribu dan Hotspot Masih Capai 350 Titik

Kemudian, Sumbawa turut mencatat 20.626 kasus ISPA dan 7.193 kasus Diare Akut, sementara Bima mencatat 15.644 kasus ISPA, 5.864 kasus Diare Akut, dan 4.762 Suspek Demam Tifoid.

Untuk influenza, data Kemenkes RI menunjukkan, kasus influenza di Indonesia pada 2026 cenderung meningkat pada Agustus hingga awal September, sejalan dengan pola musiman influenza di Indonesia.

“Surveilans dilakukan melalui jejaring 39 puskesmas dan 35 rumah sakit sentinel, serta fasilitas balai karantina kesehatan di pintu masuk negara,” ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan data SKDR hingga pekan ke-36, penyakit saluran pernapasan, khususnya ISPA dan ILI, mendominasi kasus yang terpantau. Lebih dari separuh total kasus, sekitar 51,6 persen, berada pada kelompok usia lebih dari 45 tahun dan kelompok 18–45 tahun.

Kelompok usia 18–45 tahun memiliki jumlah absolut tertinggi, yakni 32.417 kasus atau 35,40 persen, sedangkan kelompok usia di atas 58 tahun mencatat 29.186 kasus atau 31,88 persen.

Pada kelompok lansia, tercatat 24.492 kasus ISPA, 4.052 kasus Diare Akut, 355 Suspek Demam Tifoid, dan 236 kasus ILI. Sementara balita tercatat 2.958 kasus atau 3,23 persen dari seluruh kasus yang dipantau.

“Namun, data yang tersedia belum dapat menyimpulkan bahwa kasus pada kelompok usia 18–45 tahun secara khusus berasal dari pekerja luar ruangan,” terang mantan direktur RSUD NTB tersebut.

Karena itu merupakan kelompok usia dengan aktivitas relatif tinggi dan sebagian besar bekerja. Dikes NTB mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap ringan gejala yang muncul selama periode cuaca panas maupun ketika terjadi peningkatan penyakit pernapasan.

“Pada diare dan dehidrasi berat, tanda bahaya antara lain jarang buang air kecil lebih dari enam jam dengan warna urine pekat, mata cekung, bibir kering, serta anak rewel dan tidak mau minum,” jelasnya.

Kemudian, pada kondisi yang berkaitan dengan heat exhaustion hingga heat stroke, masyarakat perlu mewaspadai tidak berkeringat meskipun tubuh masih panas, kulit memerah, pusing berat, mual, muntah, dan jantung berdebar.

Sedangkan pada ISPA/ILI, Fikri membeberkan tanda bahaya meliputi sesak napas, napas cepat, nyeri dada, demam selama tiga hari yang tidak turun, serta anak yang tidak mau menyusu.

Khusus penyakit influenza, masyarakat yang mengalami demam, batuk, pilek atau sakit tenggorokan dianjurkan menggunakan masker ketika berada di tempat umum atau bersama orang lain, menerapkan etika batuk dan bersin, mencuci tangan secara rutin, serta menghindari kontak dekat dengan orang lain ketika sedang sakit.

Baca Juga: RSUD Selaparang Diusulkan Jadi Rumah Sakit Rehabilitasi

Masyarakat juga dianjurkan menjaga ventilasi udara, tidak berbagi alat makan, minum, handuk atau barang pribadi dengan orang yang sedang sakit, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta melakukan vaksinasi influenza sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, khususnya bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

Menghadapi kondisi tersebut, Dikes NTB terus memperkuat surveilans dan pengawasan penyakit secara berkelanjutan sebagai bagian dari deteksi dan respons dini terhadap potensi peningkatan kasus.

Upaya juga diarahkan pada peningkatan kesadaran masyarakat mengenai kebersihan diri, lingkungan dan sanitasi; peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta penggunaan masker sesuai kondisi dan risiko penularan penyakit.

Penguatan surveilans influenza secara nasional dilakukan melalui pemantauan sentinel ILI dan SARI, surveilans laboratorium, pemantauan karakteristik serta perubahan virus, dan pemantauan penyakit pernapasan secara terintegrasi.

Data tersebut digunakan sebagai dasar untuk mendeteksi perubahan epidemiologi, melakukan verifikasi sinyal peningkatan kasus, penilaian risiko, serta menentukan respons yang diperlukan. “Kami juga mengajak masyarakat untuk tetap tenang namun waspada,” kata Fikri.

Baca Juga: Jangan Panik! Tren Virus Influenza H3N2 Subclade K di Indonesia Terus Menurun, Kemenkes Pastikan Kondisi Aman Terkendali!

Peningkatan beberapa penyakit termasuk penyakit influenza perlu menjadi perhatian bersama, tetapi data nasional hingga pekan ke-36 menunjukkan bahwa tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada pada kategori rendah.  

Masyarakat diminta segera mengakses fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang semakin berat, terutama sesak napas, penurunan kesadaran, demam tinggi yang menetap, atau kondisi lain yang mengkhawatirkan.

Dengan memperkuat surveilans, deteksi dini, komunikasi risiko, perilaku hidup bersih dan sehat, serta respons cepat di fasilitas pelayanan kesehatan, Dikes NTB terus memastikan kewaspadaan terhadap penyakit pernapasan dan penyakit yang berkaitan dengan perubahan cuaca tetap terjaga.

Editor : Jelo J
Sumber : Liputan
ispa penyakit diare influenza NTB