Rinjani Masih Dilahap Api, 1.098,75 Hektare Terdampak Kebakaran hingga Lereng Utara Sangkareang

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 09:20 WIB
Petugas berjibaku memadamkan kebakaran hutan di kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkareang, TNGR, Sabtu (26/9). (Dok.Balai TNGR)
Petugas berjibaku memadamkan kebakaran hutan di kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkareang, TNGR, Sabtu (26/9). (Dok.Balai TNGR)

LombokPost-Kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) masih terus ditangani. Hingga Minggu (27/9), api di sejumlah sektor berhasil dipadamkan, namun titik api masih terpantau di lereng utara Puncak Sangkareang. 

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR Astekita Ardiaristo mengatakan, penanganan kebakaran dilakukan secara simultan melalui pemadaman langsung, pemantauan, patroli, pengamanan jalur pendakian, hingga pemantauan udara menggunakan drone. 

“Kebakaran pertama kali terdeteksi pada 22 September 2026. Sampai saat ini penanganan masih terus dilakukan karena masih ada api yang terpantau di lereng utara Puncak Sangkareang,” kata Astekita, dalam keterangan resmi yang dirilis Minggu (27/9).

Baca Juga: Kebakaran di Kawasan Rinjani Belum Usai, 977,74 Hektare Lahan Terdampak

Kebakaran terjadi di kawasan Bukit Setampol, Puncak Sangkareang Jalur Pendakian Senaru dan sekitarnya, Resor Torean dan Senaru, SPTN Wilayah I.

Jenis kebakaran merupakan kebakaran permukaan dengan bahan bakar berupa hutan pinus, semak belukar, perdu, rumput, savana pegunungan, dedaunan kering, serta vegetasi bawah lainnya. 

Berdasarkan pemantauan dan pemetaan sementara hingga 27 September, luas areal yang diperkirakan terdampak kebakaran mencapai 1.098,75 hektare.

Namun, angka tersebut masih berupa estimasi dan dapat diperbarui berdasarkan pemantauan lapangan, pemetaan, dokumentasi drone, serta verifikasi batas areal setelah kondisi memungkinkan.

“Luas areal terdampak ini masih merupakan estimasi sementara. Kami terus melakukan pemantauan dan pemetaan untuk memastikan batas areal yang terdampak,” ujarnya. 

Penanganan kebakaran diperkuat 90 personel dan tenaga pendukung dari berbagai unsur. Mereka terdiri atas enam polisi kehutanan Balai TNGR, satu Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), 16 Manggala Agni Balai TNGR, lima Manggala Agni Balai Dalkarhut Jabalnusra, dua personel KPH Rinjani Barat, 43 Masyarakat Peduli Api (MPA), tujuh personel Polri/Brimob, dua TNI, serta delapan porter. 

Baca Juga: Kebakaran di Kawasan Rinjani Belum Padam, Api Bergerak ke Sangkareang

Personel tersebut disebar sesuai kebutuhan penanganan di sejumlah sektor, antara lain Bukit Setampol, Jalur Pendakian Torean, Senaru, Pos 3 Senaru, hingga kawasan yang mengarah ke Puncak Sangkareang dan Pelawangan Senaru. 

Pada Minggu (27/9), sebanyak 12 personel yang ditugaskan di sektor Bukit Setampol, melakukan pemeriksaan dan pemadaman. Tim terdiri atas satu personel Resor Senaru, lima Brimob, serta enam porter masyarakat. 

Setelah dilakukan pemadaman dan pemeriksaan, api di sektor Bukit Setampol berhasil dipadamkan. Sekitar pukul 12.30 WITA, tim meninggalkan lokasi dan kembali menuju Kantor SPTN Wilayah I. 

Sementara itu, tim pemadam di sektor Jalur Pendakian Senaru yang berjumlah 15 orang tetap melakukan pemadaman dan pemantauan. Tim terdiri atas tujuh personel Manggala Agni Balai TNGR, enam MPA Senaru, dan dua personel KPH Rinjani Barat.  Sekitar pukul 14.00 WITA, tim yang sebelumnya berada di sekitar Pos 3 Jalur Pendakian Senaru bergerak turun menuju Pos 2.

Pergerakan dilakukan untuk mendekati sektor kebakaran, sekaligus meningkatkan efektivitas pemadaman terhadap api yang masih terpantau, di lereng utara Puncak Sangkareang. 

Astekita mengatakan, pemantauan pada malam sebelumnya juga menunjukkan api di Batu Ceper, dan sisi selatan Puncak Sangkareang sudah tidak terpantau menyala. 

“Fokus penanganan saat ini terutama di sektor lereng utara Puncak Sangkareang yang masih menunjukkan aktivitas kebakaran,” jelasnya. 

Baca Juga: Kebakaran di Bukit Setampol, Jalur Pendakian Torean Rinjani Ditutup Total

Penanganan di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala. Angin kencang dapat membuat api bergerak, dan meluas dengan cepat. Kondisi vegetasi berupa savana pegunungan, semak, rumput, dan material organik lainnya juga sangat kering sehingga mudah terbakar. 

Selain itu, lokasi kebakaran berada di medan pegunungan yang jauh, terjal, dan sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat mobilisasi personel, peralatan, dan logistik membutuhkan waktu serta tenaga yang cukup besar. 

“Keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu pergerakan, akses menuju titik api, dan metode pemadaman,” katanya. 

Penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Balai TNGR, Balai Dalkarhut Mataram, BPBD NTB, Manggala Agni, MPA, TNI, Polri/Brimob, serta unsur terkait lainnya. 

Balai TNGR juga melakukan pergantian personel, memperkuat regu pemadam menuju Bukit Setampol dan Jalur Torean, serta menempatkan petugas pemantauan di Jalur Pendakian Senaru.

Penggunaan drone dilakukan untuk memantau perkembangan areal terbakar, kondisi vegetasi, arah penyebaran api, dan menentukan lokasi prioritas penanganan. 

Sementara itu, Balai TNGR menutup sementara Jalur Wisata Pendakian Senaru mulai 26 September 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan.  Penutupan tersebut melengkapi pengamanan di Jalur Pendakian Torean.

Dengan demikian, sementara waktu kedua jalur tersebut tidak digunakan sebagai pintu masuk maupun keluar aktivitas pendakian. 

“Penutupan dilakukan untuk menjamin keselamatan pengunjung sekaligus mendukung proses penanganan kebakaran di lapangan,” kata Astekita. 

Baca Juga: Ketua Komisi II DPRD NTB Lalu Pelita Soroti Ornamen Segara Anak hingga Sampah Rinjani

Calon pendaki yang telah memiliki e-ticket melalui Jalur Senaru mulai 26 September dapat melakukan penjadwalan ulang, atau mengalihkan pintu masuk dan keluar melalui Jalur Pendakian Sembalun. 

Sementara pendaki yang masih berada di kawasan dan sebelumnya memilih Senaru atau Torean, sebagai jalur keluar diarahkan mengalihkan perjalanan melalui Jalur Sembalun sesuai arahan petugas.

Status pembukaan kembali Jalur Senaru akan ditentukan, berdasarkan hasil evaluasi penanganan kebakaran, di wilayah Resor Senaru dan Resor Torean. Evaluasi dilakukan secara berkala. 

Balai TNGR mengimbau masyarakat dan pengunjung mematuhi penutupan sementara Jalur Senaru dan Torean, tidak mendekati lokasi kebakaran, serta tidak melakukan aktivitas yang dapat memunculkan sumber api baru. 

Pengawasan kawasan juga diperketat melalui patroli, pengendalian akses, pemeriksaan barang bawaan yang berpotensi menjadi sumber api, serta peningkatan kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran. 

“Informasi mengenai perkembangan penanganan kebakaran maupun perubahan status jalur wisata pendakian akan disampaikan berdasarkan hasil pemantauan dan laporan resmi tim di lapangan,” tandas Astekita.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Balai TNGR
taman nasional gunung rinjani (TNGR) rinjani Torean api Kebakaran