Dua Residen Unram Belajar Operasi Robotik di Belanda

Kimda Farida • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 10:57 WIB
OPERASI ROBOTIK: Dua residen FKIK Unram dr Rosfi F Huzaima dan dr Ewaldo A Hadi saat mengikuti academic-professional exchange di Amphia Hospital, Breda, Belanda.
OPERASI ROBOTIK: Dua residen FKIK Unram dr Rosfi F Huzaima dan dr Ewaldo A Hadi saat mengikuti academic-professional exchange di Amphia Hospital, Breda, Belanda.

 

LombokPost--Dua residen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Mataram (Unram) mendapat pengalaman berbeda.

Selama tiga pekan, dr Rosfi F Huzaima dan dr Ewaldo A Hadi mengikuti academic-professional exchange di Amphia Hospital, Breda, Belanda.

Keduanya merupakan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Bedah FKIK Unram.

Selama mengikuti program tersebut, mereka berkesempatan mengamati langsung 22 prosedur bedah.

Dari jumlah tersebut, 10 merupakan robotic surgery, enam laparoscopic surgery, dan enam open surgery.

Berbagai kasus juga mereka amati. Mulai insisional hernia, kolesistektomi, sigmoidectomy, hepatectomy hingga operasi bidang hepato-pancreato-biliary (HPB).

Salah satu yang menarik perhatian adalah penggunaan teknologi robotik dalam pelayanan klinis.

“Pengalaman ini memberikan gambaran bagaimana perkembangan perangkat bedah dipadukan dengan sistem pelayanan yang terstruktur dan tetap berorientasi pada keselamatan pasien,” kata dr Ewaldo A Hadi.

Baca Juga: Sekda Mataram Ancam Coret PPPK Paro Waktu Terlibat Pinjol

Menurut dia, kemajuan teknologi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan klinis seorang dokter bedah.

Pengambilan keputusan, keterampilan operasi, kerja tim, serta pelayanan yang berpusat pada pasien tetap menjadi bagian penting.

Selain teknologi operasi, keduanya juga melihat pola pendidikan dan pelayanan di Amphia Hospital.

Lingkungan kerja di rumah sakit tersebut dinilai tenang, terorganisasi, dan terstruktur.

Namun, aktivitas akademik tetap berjalan aktif.

Diskusi kasus tidak hanya berlangsung di ruang operasi.

Dokter, konsultan, dan peserta pendidikan terbiasa bertukar pertanyaan serta pendapat secara terbuka.

Selama program, Rosfi dan Ewaldo juga berdiskusi dengan sejumlah konsultan, di antaranya dr Paul Gobardhan, dr Jennifer MJ Schreinemakers, George P van der Schelling, dan dr N Ayez dari bidang gastro-intestinale en oncologische chirurgie.

Program tersebut mendapat dukungan dr Paul Gobardhan dan dr Tjay dari Indonesian Diaspora Global Network (IDGN) sebagai program coordinator.

Baca Juga: Kades Tanjung Ajak Perkuat Sinergi Tiga Pilar di Desa

Dari Indonesia, perjalanan akademik tersebut juga mendapat dukungan dr Arif Zuhan dan Prof Hamsu Kadriyan sebagai mentor.

Bagi Rosfi, pengalaman tiga pekan di Belanda tidak sekadar soal teknik operasi.

Ada semangat berbagi ilmu yang ingin dibawa pulang ke NTB.

“Kami ingin membawa pulang bukan hanya pengetahuan tentang teknik operasi, tetapi juga semangat untuk berbagi ilmu, memperkuat pendidikan, meningkatkan komunikasi dengan pasien, dan terus membawa pengalaman ini ke lingkungan pelayanan kesehatan di NTB,” ujarnya.

Aspek komunikasi dengan pasien menjadi perhatian tersendiri. Keduanya melihat patient education sebagai bagian penting dari surgical care.

Pasien, kata mereka, tidak hanya membutuhkan tindakan medis. Pasien juga perlu mendapat penjelasan mengenai kondisi yang dialami, pilihan penanganan, hingga proses pengambilan keputusan.

Pengalaman tersebut sekaligus membuka peluang memperkuat jejaring akademik antara FKIK Unram dengan institusi kesehatan di luar negeri.

Pertukaran pengalaman antara residen dan staf bedah diharapkan dapat terus dikembangkan. 

 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Amphia Hospital PPDS Ilmu Bedah residen bedah Universitas Mataram FKIK Unram