LombokPost — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim hujan tahun 2026/2027 di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami kemunduran secara menyeluruh.
Hal ini dipicu oleh fenomena El Nino dengan tingkatan sangat kuat (very strong) yang masih terus melanda dan berdampak pada berkurangnya pasokan uap air di atmosfer.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG NTB, Nuga Putrantijo, menjelaskan bahwa kondisi El Nino kuat ini menyebabkan durasi musim kemarau di NTB menjadi jauh lebih panjang dari biasanya. Implikasinya, waktu kedatangan musim hujan di seluruh wilayah NTB dipastikan bergeser atau mundur 100 persen.
"Kami memiliki 27 Zona Musim (ZOM) di NTB, dan secara prediksi seluruhnya mengalami kemunduran. Awal musim hujan baru akan mulai memasuki wilayah NTB pada akhir bulan November, tepatnya Dasarian III November 2026," ujar Nuga saat memberikan keterangan.
Nuga memaparkan, dari total 27 ZOM tersebut, baru sekitar dua zona musim yang diprediksi mulai diguyur hujan pada akhir November, seperti di wilayah Kota Mataram dan sebagian Lombok Tengah.
Sementara itu, mayoritas atau sekitar 93 persen wilayah ZOM lainnya di NTB baru akan bertransisi memasuki musim hujan pada Dasarian II hingga Dasarian III bulan Desember 2026.
Menurut Nuga, beberapa faktor utama pemicu mundurnya musim hujan ini meliputi dominasi angin monsun timuran yang bertiup dari benua Australia dengan membawa sedikit uap air, serta kondisi suhu muka laut di sekitar NTB yang cenderung dingin sehingga meminimalisasi potensi pembentukan awan hujan.
Selama periode kemarau yang panjang ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kelangkaan air bersih, penurunan ketersediaan air untuk sektor pertanian, serta potensi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Baca Juga: Garda Hijau dari Pesisir Bagek Kembar, Anak-Anak Menjaga Benteng Alam Pesisir dari Ancaman Abrasi
Selain itu, masa transisi atau pancaroba juga perlu diwaspadai karena berpotensi memicu cuaca ekstrem sebelum masuknya puncak musim hujan yang diprediksi terjadi pada bulan Maret 2027.
Menanggapi prakiraan BMKG tersebut, Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD NTB, Awan Darmawan, menyatakan bahwa pihaknya segera berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota se-NTB untuk menyusun langkah antisipasi.
Pihaknya menyoroti durasi musim hujan yang singkat namun diprediksi memiliki curah hujan dengan intensitas yang lebih tinggi.
"Karena durasi musim hujannya menjadi lebih pendek, jumlah air yang biasanya terbagi dalam enam bulan kini menumpuk dan tercurah hanya dalam waktu tiga hingga empat bulan. Ini artinya intensitas hujan akan sangat tinggi dan berisiko memicu bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor," terang Awan.
BPBD NTB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat langkah mitigasi sejak dini. Masyarakat disarankan membangun sumur resapan dan menerapkan teknik pemanenan air hujan (rainwater harvesting) guna menampung limpahan air sekaligus menjaga cadangan air tanah.
Baca Juga: Kasus Dugaan Pemalsuan Sertifikat, Kuasa Hukum Desak BPN Loteng Buka Warkah
Pemerintah desa juga diharapkan memanfaatkan sebagian dana desa untuk mitigasi struktural, seperti pembersihan saluran irigasi, pengerukan sedimentasi, hingga pembuatan bronjong penahan tebing sungai.
"Pengalaman sebelumnya, bencana banjir bandang dan tanah longsor kerap terjadi di awal tahun hingga puncaknya di bulan Maret. Dengan koordinasi bersama seluruh elemen masyarakat, desa tanggap bencana (Destana), dan pemerintah daerah, kita harapkan dampak risiko bencana di NTB dapat diminimalisasi," pungkasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post