Ketika Wastra NTB Tampil Harmonis di Panggung Fashion Show Kriyanusa

Kimda Farida • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 09:38 WIB
MEMUKAU: Ketua Dekranasda Provinsi NTB Sinta Agathia saat tampil di panggung Fashion Show 38 Provinsi dalam rangkaian Kriyanusa 2026.
MEMUKAU: Ketua Dekranasda Provinsi NTB Sinta Agathia saat tampil di panggung Fashion Show 38 Provinsi dalam rangkaian Kriyanusa 2026.

 

Kain-kain tradisional NTB tak sekadar dipamerkan. 

Di panggung Fashion Show 38 Provinsi dalam rangkaian Kriyanusa 2026, kekayaan wastra NTB dirangkai menjadi satu tampilan yang sarat cerita.

 --------

Ketua Dekranasda Provinsi NTB Sinta Agathia tampil membawa wajah wastra NTB dalam balutan busana yang memadukan sejumlah kekayaan kriya dari berbagai daerah.

Sekilas, busana tersebut tampak elegan dengan perpaduan warna marun, putih, dan kuning keemasan.

Namun, di balik tampilannya, terdapat cerita tentang keberagaman budaya NTB yang sengaja disatukan.

Baca Juga: Pemprov NTB Tanggapi Soal Rp 400 Miliar Rehabilitasi GOR Turida untuk PON Tak Masuk APBN 2027

Motif Gumilang Betulung dari Desa Kebon Ayu, Lombok Barat, menjadi salah satu bagian utama busana.

Motif tersebut merepresentasikan semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat setempat.

Sementara itu, Kain Tenun Bima dengan motif Lomba Moti To’i atau Gari (Garis) turut memperkuat karakter busana.

Motif garis yang tersusun teratur itu memiliki filosofi tentang kejujuran, ketegasan, konsistensi, hingga ketekunan.

Dua karakter budaya dari wilayah berbeda tersebut kemudian bertemu dalam satu busana.

“Melalui fashion show ini, kita ingin menunjukkan bahwa NTB memiliki kekayaan wastra dan kriya yang sangat beragam. Setiap daerah memiliki motif, filosofi, dan karakter yang berbeda, tetapi semuanya menjadi bagian dari satu identitas budaya NTB,” kata Bunda Sinta.

Bagi Bunda Sinta, keberagaman wastra tersebut bukan sekadar peninggalan budaya yang harus disimpan.

Kain tradisional perlu terus dikembangkan agar dapat mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Karena itu, inovasi menjadi penting.

Wastra tidak berhenti sebagai kain untuk kebutuhan tradisional, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari fesyen dan produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

“Wastra bukan hanya tentang kain, tetapi juga tentang cerita, tradisi, keterampilan, dan identitas masyarakat yang ada di dalamnya. Karena itu, kita ingin kekayaan ini terus hidup, berkembang, dan memberikan manfaat bagi para perajin serta masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: Wagub NTB: MotoGP Harus Jadi Penggerak Ekonomi dan Pariwisata

Penampilan Bunda Sinta semakin lengkap dengan tas ketak khas Lombok Tengah.

Tas tersebut dibuat secara handmade menggunakan serat tanaman ketak.

Kriya ketak menjadi salah satu produk kerajinan yang menunjukkan keterampilan perajin NTB.

Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.

Tak berhenti di kain dan tas. Perhiasan mutiara khas NTB bernuansa emas juga menjadi pelengkap penampilan.

Kilau mutiara memberikan aksen elegan sekaligus membawa salah satu produk unggulan NTB ke panggung nasional.

Dari satu busana, sejumlah daerah pun seolah hadir bersamaan. Tenun Lombok Barat membawa pesan kebersamaan.

Tenun Bima menyampaikan karakter dan keteguhan. Tas ketak membawa keterampilan tangan para perajin Lombok Tengah. Sedangkan mutiara menghadirkan identitas lain dari kekayaan NTB.

Kesemuanya dirangkai dalam satu tampilan.

Bagi NTB, fashion show tersebut menjadi lebih dari sekadar ajang peragaan busana.

Baca Juga: NTB Sabet Dua Penghargaan di Kriyanusa, Cukli Juara I

Panggung Kriyanusa 2026 menjadi ruang untuk memperkenalkan wastra dan kriya daerah kepada khalayak yang lebih luas.

Keikutsertaan Bunda Sinta sekaligus memperlihatkan bagaimana kekayaan budaya dari berbagai daerah di NTB dapat berjalan bersama dalam satu harmoni.

Berbeda motif, berbeda filosofi, tetapi tetap membawa satu nama: Nusa Tenggara Barat. (*/r3)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Kriyanusa 2026 Wastra NTB Dekranasda NTB fashion show Sinta Agathia