LombokPost-Rumput laut asal pesisir NTB, mulai menunjukkan potensi lebih dari sekadar komoditas mentah, melalui pengolahan dan pengembangan produk turunan.
“Komoditas kelautan ini mampu menjangkau pasar global sekaligus membuka peluang pemanfaatan di sektor pertanian,” terang Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB Muslim, Jumat (9/10).
Baca Juga: Potensi Rumput Laut Sargassum Ekas Belum Tergarap Maksimal
Potensi tersebut dilihat langsung oleh Muslim, bersama pihak Laboratorium Pengujian dan Penerapan Mutu Hasil Perikanan dan Kelautan, saat mengunjungi PT Razindo Global Nusantara di Narmada, Lombok Barat, belum lama ini.
Kunjungan itu untuk melihat perjalanan rumput laut, mulai dari pasokan masyarakat pesisir hingga pengolahan dan pemasaran produk.
Berdasarkan data perusahaan, PT Razindo Global Nusantara mengekspor rumput laut jenis Sargassum kering ke Tiongkok dengan kapasitas sekitar 100 ton per bulan.
Nilai perdagangannya mencapai sekitar Rp6 miliar per tahun. Tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas kering, Sargassum juga dimanfaatkan sebagai bahan baku biostimulan untuk mendukung sektor pertanian.
Produk tersebut telah menjangkau sekitar 418,5 hektare lahan pertanian dan digunakan oleh lebih dari 800 petani.
“Capaian ini memperlihatkan peluang pengembangan rumput laut melalui rantai nilai yang lebih luas,” tegasnya.
Sumber daya dari pesisir tidak hanya diperdagangkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang menghubungkan sektor kelautan dengan pertanian.
Ia menekankan, pengembangan potensi rumput laut perlu diikuti upaya meningkatkan nilai tambah. Menurutnya, potensi kelautan tidak cukup dilihat dari besarnya produksi, tetapi juga dari kemampuan mengolah komoditas, meningkatkan mutu, menerapkan teknologi dan inovasi, serta memperluas akses pasar.
Pendekatan hilirisasi tersebut dinilai penting agar manfaat ekonomi rumput laut dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Terutama masyarakat pesisir yang menjadi bagian dari rantai pasok komoditas tersebut.
Pengembangan usaha seperti yang dilakukan PT Razindo Global Nusantara juga berkaitan dengan arah pembangunan industri agromaritim NTB. Keterhubungan antara sumber daya pesisir, masyarakat, teknologi, industri, pertanian, dan pasar menjadi bagian penting dalam memperkuat nilai ekonomi komoditas daerah.
Di sisi lain, kata Muslim, pengembangan industri rumput laut perlu tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya laut. Prinsip ekonomi biru menempatkan kelestarian ekosistem sebagai fondasi kegiatan ekonomi.
“Sehingga peningkatan nilai komoditas berjalan beriringan, dengan upaya menjaga daya dukung lingkungan,” ujarnya.
Penguatan masyarakat pesisir sebagai pembudidaya, pengembangan hilirisasi, diversifikasi produk, dan perluasan akses pasar menjadi sejumlah aspek penting dalam pengembangan rumput laut NTB.
Peningkatan nilai ekonomi tidak harus semata-mata bertumpu pada penambahan volume produksi, tetapi juga pada pengolahan dan pemanfaatan komoditas secara lebih produktif.
Perjalanan rumput laut dari pesisir hingga pasar global pun tidak hanya berbicara tentang perdagangan. Lebih dari itu, komoditas ini membuka peluang memperkuat industri daerah, memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kita juga sekaligus mendorong pengembangan industri agromaritim NTB yang berkelanjutan dan berbasis ekonomi biru,” tandasnya.
Editor : Jelo JSumber : Liputan