LombokPost —Mohan Roliskana tak ingin kepemimpinannya di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB sekadar ditandai pergantian ketua. Setelah memenangkan Musyawarah Olahraga Provinsi Luar Biasa (Musorprovlub) KONI NTB, Wali Kota Mataram itu membawa agenda lebih besar: membangun sistem pembinaan atlet yang terukur, mengejar prestasi di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028, dan memastikan pembinaan olahraga NTB berkelanjutan.
“Kita tidak sekadar mencari juara. Kita membangun sistem yang melahirkan juara,” tegas Mohan dalam pemaparan visi dan misinya sebagai calon Ketua KONI NTB periode 2026–2030, Selasa (13/10).
Mohan terpilih setelah memperoleh 45 suara. Mengungguli petahana Mori Hanafi yang meraih 29 suara.
Dua suara lainnya abstain dari total 76 suara yang diperebutkan. Hasil tersebut sekaligus mengakhiri persaingan yang berlangsung cukup alot dalam forum pemilihan pimpinan organisasi olahraga tingkat provinsi itu.
Dinamika bahkan mengemuka sebelum pemungutan suara ketua. Kubu Mori menghendaki mekanisme pemilihan tertutup, sedangkan kubu Mohan menginginkan sistem terbuka. Dalam pemungutan suara untuk menentukan mekanisme, 43 suara mendukung sistem terbuka dan 30 suara memilih sistem tertutup.
Mekanisme terbuka akhirnya digunakan memilih ketua. Pimpinan sidang, Baiq Isvie Rupaeda, kemudian menetapkan kemenangan Mohan sebagai keputusan resmi Musorprovlub.
Namun, tantangan Mohan tidak berhenti pada konsolidasi pascapemilihan. NTB bersama Nusa Tenggara Timur akan menjadi tuan rumah PON XXII 2028.
Agenda tersebut menuntut kesiapan penyelenggaraan. Sekaligus kemampuan daerah bersaing dengan provinsi lain dalam perolehan medali.
Mohan memandang PON bukan sekadar agenda pertandingan, melainkan momentum mengangkat posisi olahraga NTB di tingkat nasional. Dalam visi yang diusungnya, ia menargetkan NTB menjadi kekuatan olahraga nasional yang berprestasi dan mendunia melalui pembinaan profesional serta berkelanjutan.
Baca Juga: Hadang Karhutla Sebangau, Pemerintah Siapkan Ekskavator dan 30 Sumur Bor
“PON harus menjadi momentum kebangkitan olahraga NTB, sekaligus titik awal untuk membangun tradisi prestasi yang lebih kuat,” ujarnya.
Untuk mengejar target tersebut, Mohan menawarkan pembenahan pola pembinaan. Tidak semata bertumpu pada intensitas latihan atau potensi atlet.
“Setiap cabang olahraga idealnya memiliki peta kekuatan, target prestasi, kebutuhan pembinaan, hingga strategi menghadapi PON 2028,” ucapnya.
Menurut dia, prestasi harus dibangun melalui perencanaan yang jelas, pelatih berkualitas, kedisiplinan atlet. Kemudian dukungan ilmu pengetahuan olahraga, serta pengelolaan organisasi yang profesional.
“Kita tidak cukup hanya mengejar medali, tetapi harus membangun sistem yang mampu melahirkan juara secara berkelanjutan,” katanya.
Pendekatan itu akan diterjemahkan melalui pemetaan potensi atlet. Pencarian bakat sejak dini, peningkatan kualitas pelatih, dan penerapan sport science.
“Yang tak kalah penting juga dukungan sport medicine, nutrisi, psikologi olahraga, analisis performa, serta teknologi untuk meningkatkan kemampuan atlet,” ucapnya.
Di sisi organisasi, ia mendorong KONI NTB menerapkan tata kelola berbasis data. Basis data atlet, pelatih, dan cabang olahraga akan menjadi pijakan menentukan prioritas pembinaan dan mengukur perkembangan prestasi.
Setiap cabang olahraga nantinya dituntut memiliki indikator kinerja yang jelas. Dengan demikian, alokasi sumber daya dan anggaran dapat diarahkan sesuai kebutuhan serta peluang prestasi yang terukur.
“Setiap program harus mampu menjawab lima pertanyaan sederhana: apa targetnya, siapa penanggung jawabnya, berapa kebutuhannya, kapan dievaluasi, dan apa hasil yang dicapai?” paparnya.
Baca Juga: Land Cruiser Eks Bupati Kebumen Disita KPK, Diduga Digunakan untuk Mengumpulkan Uang Suap
Siapkan Peta Jalan PON
Mohan membagi arah kerja KONI NTB periode 2026–2030 ke dalam lima tahapan. Tahun 2026 menjadi fase pemetaan kekuatan dan kelemahan olahraga, termasuk memanfaatkan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII 2026 untuk mengidentifikasi atlet potensial.
Tahap berikutnya adalah akselerasi pembinaan pada 2027. Fokusnya mencakup pemusatan latihan daerah, peningkatan kompetensi pelatih, uji tanding, dan penerapan sport science.
“Program ini diharapkan memastikan atlet potensial mendapat pembinaan sesuai kebutuhan cabang olahraga masing-masing,” tegasnya.
Pada 2028, seluruh persiapan itu diarahkan untuk menghadapi PON XXII. Pemerintah Provinsi NTB sebelumnya menargetkan posisi lima besar nasional.
Mohan ingin target tersebut diterjemahkan ke dalam sasaran yang lebih konkret. Mulai dari cabang olahraga unggulan hingga nomor pertandingan dan atlet yang berpeluang menyumbangkan medali.
“Target provinsi harus diturunkan menjadi target cabang olahraga, target nomor, dan target atlet,” tegasnya.
Setelah PON, pekerjaan berlanjut pada evaluasi dan regenerasi atlet pada 2029. Sementara pada 2030, Mohan menargetkan sistem pembinaan dan tata kelola yang telah dibangun dapat diteruskan oleh kepengurusan berikutnya tanpa harus kembali ke titik awal.
Agenda itu menjadi penting karena keberhasilan olahraga, menurut dia, tidak semestinya hanya diukur dari hasil pertandingan selama satu periode kepemimpinan. Keberlanjutan pembinaan dan lahirnya atlet generasi berikutnya juga menjadi ukuran keberhasilan.
Konsolidasi Jadi Titik Awal
Baca Juga: OTT KPK di BNPB, 14 Orang Diamankan Termasuk Sekretaris Utama Rustian
Sebelum menjalankan seluruh agenda tersebut, Mohan harus menyelesaikan pembentukan kepengurusan baru bersama tim formatur. Ia menargetkan proses penyusunan pengurus rampung dalam dua minggu atau paling lambat 30 hari.
Konsolidasi menjadi pekerjaan awal yang menentukan. Terutama menyatukan insan olahraga yang sebelumnya berada di kubu berbeda.
Mohan menyadari, agenda besar menuju PON 2028 tidak akan tercapai jika organisasi terjebak dalam persaingan yang telah berakhir di ruang pemilihan. “Saya butuh bantuan dari banyak pihak untuk membangun olahraga di NTB. Terima kasih kepada Pak Mori Hanafi, sahabat saya, atas wejangannya,” ujar Mohan seusai pemilihan.
Ia juga menegaskan keterbukaan untuk melibatkan seluruh unsur olahraga dalam kepengurusan dan pelaksanaan program ke depan. Sikap tersebut menjadi modal awal mengubah dukungan dalam pemilihan menjadi kerja bersama.
“Saya tentu akan melibatkan semua teman-teman insan olahraga ini,” tegasnya.
Bagi Mohan, pekerjaan terpenting setelah terpilih bukan lagi merawat kemenangan dalam kontestasi, melainkan membuktikan kepemimpinan baru mampu menghasilkan perubahan nyata. PON 2028 menjadi ujian terdekat, sementara keberlanjutan pembinaan menjadi pekerjaan yang harus melampaui masa kepengurusannya.
“Sebab, menurut saya, pemimpin olahraga tidak hanya dinilai dari jumlah medali yang diraih pada masanya, tetapi juga dari berapa banyak juara yang lahir setelah masanya,” tandas Mohan.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post