Lautan Manusia Antar Tuan Guru Bagu, Gubernur Iqbal Kenang Datoq Bagu sebagai Pemersatu Umat

Lestari Dewi • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:05 WIB
SALAT JENAZAH: Suasana salat jenazah sebelum pemakaman Almarhum TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin di kompleks Ponpes Qamarul Huda, Bagu, Lombok Tengah, Jumat (16/10).
SALAT JENAZAH: Suasana salat jenazah sebelum pemakaman Almarhum TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin di kompleks Ponpes Qamarul Huda, Bagu, Lombok Tengah, Jumat (16/10).

 

LombokPost - Lautan manusia memadati kompleks Pondok Pesantren Qamarul Huda, Bagu, Lombok Tengah, Jumat (16/10). Ribuan umat, santri, tokoh masyarakat, dan pejabat daerah datang untuk mengantarkan TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin ke peristirahatan terakhir.

Ulama karismatik yang dikenal sebagai Datoq Bagu atau Tuan Guru Bagu itu wafat sehari sebelumnya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat NTB.

Sejak pagi, pelayat terus berdatangan. Lantunan tahlil, tahmid, dan selawat menggema di kompleks pesantren. Halaman dipenuhi jamaah hingga arus manusia meluber ke jalan sekitar desa.

Tangis haru pecah saat jenazah disalatkan. Banyaknya pelayat membuat salat jenazah dilaksanakan berulang kali secara bergelombang. Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini menjadi panutan.

Baca Juga: NTB Kehilangan Sosok Panutan, Ulama Kharismatik Tuan Guru Bagu Tutup Usia

Prosesi pemakaman berlangsung khidmat. Jenazah dimakamkan di sebelah utara masjid, dekat asrama putri di kompleks pesantren. Doa mengiringi kepergian ulama sepuh yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dakwah dan pembinaan umat.

Di antara para pelayat, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengenang Datoq Bagu sebagai sosok yang mampu merangkul berbagai kalangan. Almarhum dikenal mengayomi umat dan menghadirkan ketenangan ketika masyarakat menghadapi persoalan.

“Beliau ini kiai sepuh yang dikenal selama ini sebagai kiai yang selalu mengayomi dan meneduhkan. Ketika terjadi krisis, ketika terjadi perpecahan, beliau selalu hadir sebagai penyatu,” kata Miq Iqbal di lokasi pemakaman.

Baca Juga: Mengenang TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, Sosok Guru yang Ikhlas dan Bersahaja

Bagi gubernur, kepergian Datoq Bagu bukan sekadar kehilangan seorang ulama besar. NTB kehilangan figur yang selama ini ikut menjaga kerukunan dan mempersatukan masyarakat.

 

Pesan Terakhir Sang Ulama

Miq Iqbal memiliki kenangan tersendiri bersama almarhum. Ia beberapa kali menjenguk Datoq Bagu selama menjalani perawatan di RSUD Provinsi NTB dan RSUD Jenderal Soedirman. Gubernur juga mendampingi sang ulama pada saat-saat terakhir kehidupannya.

Salah satu pesan almarhum terus diingatnya. Meski kondisi kesehatan terbatas, Datoq Bagu tetap mengingatkan pentingnya menjaga zikir dan mendoakan kebaikan bagi umat.

“Pertemuan terakhir yang paling berkesan adalah ketika almarhum, meski dalam kondisi terbatas, tetap berpesan agar senantiasa menjaga Rodhitu billahi robba, wabil islami dina, wabimuhammadin nabiyya warosula. Ini dibaca tiga kali sehari dan mendoakan kebaikan bagi umat,” tutur Miq Iqbal.

Baca Juga: Ulama Sepuh NTB Berpulang, TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin Tutup Usia

Pesan tersebut menjadi kenangan mendalam bagi gubernur. Di tengah kondisi fisik yang melemah, perhatian almarhum tetap tertuju pada kehidupan spiritual dan kebaikan umat.

Miq Iqbal mengajak masyarakat agar tidak larut dalam kesedihan. Ia meminta warga mendoakan almarhum sekaligus melanjutkan nilai-nilai baik yang telah diwariskannya.

Mengutip pandangan dalam kitab Nahjul Balaghah, gubernur mengingatkan bahwa kepergian seorang ulama tidak berarti berakhirnya pengabdian. Ilmu dan keteladanan yang ditinggalkan dapat terus hidup melalui orang-orang yang mengamalkannya.

“Jadi apa yang beliau tinggalkan, itu yang kita lestarikan, hal-hal baik itu,” ujarnya.

 

 

Kehilangan Besar bagi Warga Nahdliyin

Duka mendalam juga dirasakan keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU). Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB Prof. Masnun Tahir mengaku terpukul atas wafatnya Datoq Bagu.

Bagi warga Nahdliyin, almarhum bukan hanya tokoh agama dan organisasi. Ia juga menjadi tempat meminta petuah serta mencari ketenangan batin.

“Beliau bukan sekadar mengurus, tetapi orang tua sekaligus guru spiritual kami yang selalu mengayomi. Begitu mendengar berita duka ini, kami sangat terpukul dan sedih,” kata Rektor UIN Mataram itu.

Almarhum mengemban amanah sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Rais Syuriyah PWNU NTB. Perannya turut mewarnai perjalanan organisasi dan kehidupan keagamaan di daerah.

Masnun mengingatkan, wafatnya seorang ulama merupakan kehilangan besar bagi umat Islam. Sebab, ulama memiliki peran penting dalam menjaga dan meneruskan ilmu agama kepada masyarakat. 

Editor : Pujo Nugroho
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
tuan guru bagu peristirahatan terakhir lautan manusia Ponpes Qamarul Huda Bagu Gubernur Iqbal