Pemprov NTB Menanti Lanjutan Deru Kuda Besi MotoGP Mandalika

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 09:18 WIB
Kru tim mengacungkan papan pit (pit board) untuk memberi petunjuk posisi dan selisih waktu kepada Marco Bezzecchi (#72), saat melintas di trek lurus Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, beberapa waktu lalu. (IVAN/LOMBOK POST)
Kru tim mengacungkan papan pit (pit board) untuk memberi petunjuk posisi dan selisih waktu kepada Marco Bezzecchi (#72), saat melintas di trek lurus Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, beberapa waktu lalu. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Pemprov NTB berharap penyelenggaraan MotoGP Mandalika tetap berlanjut pada 2027-2031.

Kepastian ajang balap motor dunia itu dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan Sirkuit Mandalika sekaligus memperluas dampak ekonomi dan promosi pariwisata NTB.

“Kita ingin keberadaan Sirkuit Mandalika ini berkelanjutan,” tegas Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTB Ahmad Nur Aulia.

Event MotoGP menjadi salah satu magnet utama yang mendukung keberadaan Sirkuit Mandalika. Sejak pertama kali digelar hingga sekarang, ajang tersebut dinilai terus berkembang dan memberikan dampak bagi daerah.

“Kita sudah melihat dan merasakan dari tahun pertama sampai sekarang, ajang ini terus tumbuh dan memberikan dampak,” ujarnya.

Baca Juga: Mandalika Kian Dilirik, MotoGP Sukses Pacu Gelombang Investasi Baru

Dampak ekonomi penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika mencapai Rp 5,2 triliun. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), ajang yang berlangsung 9–11 Oktober itu mencatat 157.875 penonton, meningkat 12,5 persen dibandingkan 2025 sebanyak 140.324 orang. 

Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi sejak MotoGP pertama kali digelar di Mandalika pada 2022. Dampak ekonominya juga meningkat 4,8 persen dibandingkan tahun lalu sebesar Rp4,96 triliun. 

Begitu juga dari Kajian Lembaga Teknik dan Manajemen Industri (LETMI) Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkirakan rata-rata belanja pengunjung mencapai Rp 8,56 juta per orang, dengan total pengeluaran langsung sebesar Rp 1,35 triliun.

Pengeluaran mencakup akomodasi, kuliner, transportasi lokal, hiburan, wisata, dan oleh-oleh. Penghitungan menggunakan pendekatan input-output berbasis tabel BPS serta pendekatan Keynesian. 

Menurut Aulia, di sisi lain manfaat MotoGP tidak hanya dirasakan selama berlangsungnya balapan. Kehadiran pembalap yang masih tinggal dan berlibur di Lombok turut memberikan nilai tambah bagi citra pariwisata NTB.

Begitu pula kru tim dan penonton yang datang untuk menyaksikan balapan sekaligus menikmati destinasi wisata setempat. 

Baca Juga: MotoGP Mandalika 2026 Catatkan Ratusan Transaksi QRIS Cross Border

Selain mendatangkan wisatawan, MotoGP juga menjadi media promosi pariwisata NTB melalui siaran langsung dan berbagai kanal yang menjangkau penonton di banyak negara.

Karena itu, dia berharap dampak promosi tersebut dapat mendorong kunjungan wisatawan sepanjang tahun, tidak terbatas pada periode penyelenggaraan balapan.

“Dampaknya tidak hanya saat MotoGP. Kita berharap dalam satu tahun ini wisatawan terus berkunjung ke destinasi-destinasi kita,” katanya.

Terkait kepastian penyelenggaraan MotoGP 2027, Aulia mengatakan, keputusan final masih menunggu arahan Presiden Prabowo Subianto serta evaluasi pemerintah pusat terkait perpanjangan kontrak dengan Dorna Sports untuk periode 2027–2031.

Dia menyebutkan, Pemprov NTB telah memiliki kesamaan pandangan dengan ITDC dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) mengenai pentingnya keberlanjutan MotoGP.

Penyelenggaraan ajang tersebut perlu dipandang sebagai investasi untuk mendukung pariwisata, bukan semata-mata biaya. Aulia juga turut menyertakan pandangan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang menempatkan MotoGP Mandalika sebagai bagian dari dukungan terhadap sektor pariwisata. 

Dari sisi penyelenggara, lanjut Aulia, jadwal MotoGP Mandalika 2027 telah tercantum pada 27–29 Oktober. Hal itu menjadi indikasi bahwa Mandalika masih masuk dalam agenda Dorna Sports.

Baca Juga: Adrian Fernandez Menang Banding, Hasil Enam Seri Awal MotoGP 2026 Dipulihkan

Menurut dia, dari perspektif Dorna, kelayakan Mandalika sebagai lokasi penyelenggaraan tidak lagi menjadi persoalan utama karena sirkuit tersebut dinilai telah memenuhi standar yang ditetapkan.

“Meski demikian, kepastian kelanjutan ajang tersebut tetap bergantung pada kebijakan pemerintah pusat,” kata dia.

Karena itu, dia berharap keputusan pemerintah pusat dapat segera ditetapkan agar persiapan penyelenggaraan tahun depan bisa dilakukan lebih awal.

“Kita sangat berharap keputusan ini segera diambil karena penting untuk persiapan 2027 dan tahun-tahun mendatang,” jelasnya.

Jika MotoGP kembali digelar pada 2027, Aulia mendorong persiapan promosi dan pengemasan destinasi wisata dapat dilakukan lebih dini, agar manfaat ekonomi tidak hanya terpusat di kawasan Mandalika dan Kota Mataram, tetapi juga dirasakan kabupaten/kota lainnya di NTB.

Dia menilai, penyelenggaraan MotoGP perlu diikuti dengan penawaran paket wisata yang menghubungkan penonto,n dengan berbagai destinasi di daerah.

Dengan begitu, wisatawan yang datang untuk menonton balapan memiliki lebih banyak pilihan untuk memperpanjang masa tinggal dan menjelajahi NTB.

Baca Juga: MotoGP Mandalika: Antara Untung-Rugi Versus Evaluasi Nilai Publik

Aulia mengatakan, pelaku industri pariwisata berharap penjualan tiket dan kepastian penyelenggaraan dapat diketahui paling lambat enam bulan sebelum balapan berlangsung.

Jeda waktu tersebut penting, terutama bagi wisatawan mancanegara yang terbiasa merencanakan perjalanan jauh-jauh hari.

“Wisatawan dari Eropa biasanya merencanakan perjalanan lebih awal, sehingga itu bisa disiapkan menjadi paket wisata atau paket kunjungan,” tandasnya.

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan 6
Dorna Sports dampak ekonomi MotoGP Mandalika NTB Pariwisata