Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Snobisme Positif Dalam Dunia Literasi

Administrator • Senin, 27 Juli 2020 | 14:53 WIB
Ilustrasi (freepik.com)
Ilustrasi (freepik.com)
Oleh : Wiwik Kurniati Pustakawan MTsN 1 Mataram

 

DALAM kamus Bahasa Indonesia, snobisme diartikan sebagai sikap atau cara hidup seorang snob. Sedangkan snob berarti orang yang senang meniru gaya hidup atau selera orang lain yang dianggap lebih daripadanya tanpa perasaan malu-malu.

Arti lainnya snob adalah orang yang suka menghina dan meremehkan orang lain yang dianggap lebih rendah daripadanya; orang yang merasa dirinya lebih pintar dari orang lain.

Dalam realitas social, saat ini snobisme merupakan kelakuan yang dianggap biasa. Bahkan nyaris semua manusia bisa dianggap snob, tentunya dalam level yang berbeda. Namun dalam dunia psikologi, snob dianggap sebagai sebuah penyakit kejiwaan.

Seorang snobber merasa memiliki banyak pengetahun, meski sesungguhnya ia tidak tahu banyak. Sikap snob ini kerap diistilahkan sebagai knowing all snob. Snob sendiri memiliki istilah beragam. Antara lain the name snob, kennedy it’s snob, auto phobia snob, shopping secrets snob, bling bias snob, food fears, dan masih banyak lagi.

Snobisme melahirkan sebuah ilusi pencitraan. Jika tidak diarahkan pada hal-hal positif, ilusi tersebut bisa dianggap sebagai sebuah realitas untuk membanggakan diri. Ia merasa memiliki harga diri yang tinggi, padahal di belakangnya banyak orang yang meremehkannya. Jika ilusi ini hilang, dikhawatirkan dapat menjatuhkan harga diri para snobber yang pada akhirnya akan melahirkan sifat minder berlebihan.

Karenanya para snobber ini harus diarahkan, dari hanya menciptakan sesuatu ilusi, menjadi realitas nyata. Termasuk dalam dunia literasi. Dari awalnya hanya menunjukkan diri seolah-olah rajin membaca dan menulis, menjadi orang yang benar-benar merealisasikannya.

Seperti diulas di awal, snobber meluas ke semua kalangan. Seolah virus, yang lebih dahsyat dari covid-19. Di kalangan intelektual, banyak pula para snobber. Tentu dengan level berbeda-beda. Misalnya saja, ada sejumlah mahasiswa (biasanya aktivis) yang seolah tahu segalanya.

Saat diajak berdiskusi, ia menyampaikan materi yang tidak biasa. Terkadang informasinya hanya diperoleh sepotong-sepotong di internet. Berbagai kutipan pakar disampaikan, seolah buku-buku para pakar tersebut sudah dibaca secara keseluruhan.

Ia menyampaikan secara runut dan gamblang, meski hanya dari hasil belajar semalam. Harapannya, para pendengarnya merasa terkesan oleh kecerdasan dan luasnya ilmu pengetahuan yang ia miliki. Bukan hanya mahasiswa, mungkin para dosen, bisa juga ada yang bersikap sama.

Jika merunut contoh di atas, pada sisi yang berbeda, ada hal positif yang didapatkan mahasiswa dan dosen snobber tersebut. Yakni, setidaknya mereka mau membaca. Bahkan ke depan mengkaji bacaannya dengan cara mencari opini pendamping, atau opini pembeda. Semakin kaya informasi yang diperolehnya, tentu penyampaiannya akan lebih baik lagi. Dari sini akan muncul keinginan untuk terus menggali beragam informasi, sebagai bahan penyampaian materi di hadapan orang lain.

Mereka yang awalnya terjebak dalam ilusi snobisme ini, bisa mendapatkan manfaat positif. Minat membaca yang makin bertambah, dan peningkatan intelektualitas yang signifikan. Jadi, dalam kasus tersebut, snobisme justru mencipatakan hal yang positif.

Dunia literasi di Indonesia, khususnya NTB, memang masih jauh dari harapan. Saat ini, level kita baru sebatas membangkitkan keinginan untuk membaca dan menulis. Belum sampai pada tahapan meningkatkan intelektualitas, sesuai dengan spesifikasi minat dan bakat.

Para pengiat literasi kerap hanya menyempaikan pentingnya membaca apa saja dan dimana saja. Terserah, apakah bahan bacaannya berkualitas, atau hanya sampah yang isinya diliputi hoax dan pembodohan. Level kita memang baru sebatas itu, belum sampai pada level menyaring bahan bacaan.

Untuk mendorong orang membaca, butuh kreatifitas dan sarana. Namun belum banyak yang menangkap adanya fenomena snobisme sebagai sebuah peluang di dunia literasi. Padahal peluang ini terbuka. Lihat saja di media social. Perang share bahan bacaan begitu massif.

Meski terkadang yang men-share, tidak pernah sama sekali membaca apa yang di-share-nya. Keinginan menunjukkan eksistensi diri di medsos, sebagai efek dari snobisme, ini menjanjikan dalam dunia literasi. Setidaknya ada dorongan untuk mencari bahan bacaan. Meski pada awalnya bisa jadi terjebak dalam bahan bacaan sampah, namun seiring waktu, akan ada pembelajaran terhadap mereka.

Minat baca para snobber (khususnya di medsos) sebenarnya cukup tinggi. Perusahaan riset GlobalWebIndex yang bermarkas di London menganalisa, waktu setiap orang untuk bermedsos di dunia rata-rata mencapai 90 menit perhari pada tahun 2012. Tahun 2019, meningkat drastis menjadi 143 menit perhari. Di Indonesia angkanya jauh lebih tinggi lagi, yakni mencapai 195 menit perhari. Atau nomor enam tertinggi di dunia. Ini menunjukkan tingginya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya di medsos.

Mungkin saja sebagian dari mereka awalnya terjebak dalam ilusi snobisme. Narsisme di medsos, memotifasi sebagian nitizen untuk menjelajah medsos dalam waktu lama. Banyak hal negatif yang akan mereka temukan. Namun ada juga hal-hal positif. Bukankah level literasi kita saat ini baru sebatas mengajak orang untuk membaca? (*) Editor : Administrator
#MTSN 1 Mataram #Snobisme #Wiwik Kurniati