Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Edukasi Petani Hadapi Perubahan Iklim Melalui Sekolah Lapang Iklim

Administrator • Kamis, 1 Oktober 2020 | 23:59 WIB
HAMPIR GUNDUL: Salah seorang petani Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji memperlihatkan tanaman padi di sawahnya yang tidak tumbuh dengan baik akibat pencemaran irigasi tambang MBLB di Kalijaga dan Wanasaba, belum lama ini.
HAMPIR GUNDUL: Salah seorang petani Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji memperlihatkan tanaman padi di sawahnya yang tidak tumbuh dengan baik akibat pencemaran irigasi tambang MBLB di Kalijaga dan Wanasaba, belum lama ini.
PERUBAHAN iklim kian nyata nampak di era kekinian. Banyak sektor sosial ekonomi merasakan dampak dari perubahan iklim. Anomali cuaca maupun iklim yang kerap dirasakan seperti hujan lebat, angin kencang hingga pergeseran musim tak ayal membuat berbagai kalangan alami kerugian.

Tak terkecuali bagi para petani sebagai ujung tombak penyedia kebutuhan pangan masyarakat. Ketidaksiapan petani dalam menghadapi perubahan iklim bagaikan mimpi buruk bagi masyarakat.

Kelangkaan beberapa komoditi pangan dan harga bahan pangan yang menjulang adalah segelintir contoh dampak turunan dari ketidaksiapan petani dalam hadapi perubahan iklim. Kerugian-kerugian sebagai dampak dari kekeringan bisa melanda berbagai sektor kehidupan manusia.

Tak hanya di perkotaan, masyarakat pedesaan pun kini bisa merasakan dampak kekeringan. Gagal panen, kekurangan air bersih hingga kebakaran lahan merupakan sedikit contoh dampak betapa tidak menyenangkannya fenomena kekeringan. Kerugian-kerugian tersebut tentu tidak dapat disepelekan dan alangkah baiknya jika terdapat upaya mitigasi untuk mencegah kerugian besar yang melanda masyarakat.

Tentu masih teringat di benak, saat sekolah dasar Kita menandai musim hujan pada periode November-Maret dan musim kemarau pada periode April-Oktober. Namun nampaknya kini Kita perlu beradaptasi, bahwa dewasa ini musim hujan maupun kemarau bisa berbeda periode awal masuknya. BMKG sebagai lembaga yang salah satu fungsinya adalah menyampaikan informasi kepada instansi dan pihak terkait serta masyarakat berkenaan dengan perubahan iklim telah secara kontinu melaksanakan fungsinya.

Prakiraan awal musim hujan dan kemarau telah jauh hari dirumuskan oleh BMKG dengan harapan masyarakat bersiap untuk merancang strategi menghadapinya. Pemanfaatan informasi tentang awal masuknya musim hujan dan kemarau selalu diupayakan sampai ke telinga para petani oleh BMKG. Hal ini dibuktikan dengan adanya diseminasi informasi oleh BMKG kepada instansi yang bersinggungan langsung dengan petani. Sinergitas semacam ini selalu dijaga baik demi keberlangsungan dan kemajuan sektor pertanian Indonesia.

Untuk tetap menjaga baik hasil pertanian, upaya lain BMKG selain diseminasi informasi iklim kepada petani ialah menyelenggarakan Sekolah Lapang Iklim. Sekolah Lapang Iklim (SLI) secara internasional telah diatur penyelenggaraannya dan tertuang dalam dokumen World Meteorological Organization (WMO) tentang Global Framework for Climate Services. Tujuan utama dari penyelenggaraan SLI bagi para petani di antaranya ialah untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan petani dalam menyikapi fenomena iklim tertentu yang diaplikasikan dalam kegiatan usaha tani mereka. SLI juga bertujuan membantu petani dalam mengamati parameter iklim dan pengaplikasiaannya dalam kegiatan dan strategi usaha tani mereka. Dan yang tidak kalah penting SLI membantu petani untuk menerjemahkan dan memahami informasi dan prakiraan iklim guna mendukung kegiatan pertanian, utamanya untuk penentuan keputusan awal tanam dan strategi pengelolaan tanaman mereka.

Dengan pemahaman iklim yang dipadukan dengan keterampilan teknik pertanaman tertentu, akan memungkinkan petani dalam menanam lebih dari satu tanaman selama satu tahun pada dua musim yang berbeda; musim hujan dan musim kemarau. Kesesuain tanaman yang ditanam dengan cuaca dan iklim pada saat itu akan meningkatkan produktivitas hasil panen dan pendapatan para petani.

 

Tahapan Sekolah Lapang Iklim BMKG

 

Sekolah Lapang Iklim BMKG terbagi menjadi tiga tahapan berdasarkan jenis peserta dan tujuan pelaksanaannya. SLI Tahap I ditujukan bagi para pemangku kebijakan terkait pertanian; dalam hal ini pemerintah daerah dan dinas pertanian setempat sebagai lembaga interface atau penghubung BMKG dengan para petani. Kegiatan pendampingan oleh BMKG ini dilaksanakan selama tiga hari dengan tujuan untuk memperkenalkan program Sekolah Lapang Iklim kepada para peserta dengan harapan dapat diteruskan informasinya kepada level di bawahnya.

SLI Tahap II ditujukan bagi para Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), Pengamat Hama dan Penyakit (PHP) dan ketua kelompok tani unggulan. Peran penyuluh adalah sebagai sumber informasi dalam upaya meningkatkan kesadaran dan kemampuan petani dalam menghadapi variabilitas iklim. Kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari dengan pendampingan oleh BMKG dan Dinas Pertanian terkait (BPTPH – Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura).

SLI Tahap III ditujukan bagi para kelompok tani unggulan dengan kegiatan praktek langsung bercocok tanam dalam satu musim. Dalam kegiatan ini BMKG bersama Dinas Pertanian akan melatih beberapa anggota kelompok tani untuk mengaplikasikan pengamatan iklim serta informasi iklim yang ditemui dalam masa cocok tanam satu jenis tanaman. Kegiatan yang berlangsung selama satu musim tanam ini umumnya berjalan dalam empat bulan. Dalam kurun waktu tersebut, secara berkala selama setiap satu dasarian (sepuluh hari), BMKG bersama Dinas Pertanian akan mengadakan pertemuan dengan petani untuk menyampaikan informasi perkembangan iklim sekaligus pemantauan terhadap proses pertanaman yang tengah berjalan.

Yang kini tengah berjalan di Provinsi NTB ialah sekolah lapang iklim operasional. SLI Operasional adalah konsep sekolah lapang iklim baru oleh BMKG. SLI Operasional ini mempunyai tahapan atau langkah-langkah strategis untuk mendapatkan capaian tujuan utama SLI, seperti langsung mendatangi lokasi – lokasi usaha tani atau pertemuan rutin yang dilakukan oleh penyuluh pertanian dengan kelompok taninya. Bentuk pelaksanaannya berupa sosialisasi informasi iklim terkini untuk lokasi tersebut. Secara garis besar, kegiatan SLI ini mengusung tema: “Percepatan pemanfaatan informasi iklim guna meningkatkan produksi pertanian dan strategi pengambilan keputusan melalui pelaksanaan operasionalisasi SLI”.

Pelaksanaan SLI yang sudah berjalan selama ini masih mempunyai konsep ‘satu arah’ atau pembelajaran yang disampaikan melalui materi-materi dan simulasi oleh narasumber kepada peserta. Namun konsep tersebut belum mendapatkan feedback dari peserta itu sendiri, dimana masih belum terlihat outcome / hasil nyata dalam usaha tani seperti target dari capaian tujuan utama SLI. Oleh karena itu, dibutuhkan berupa bentuk operasionalisasi kegiatan SLI dengan konsep baru. Konsep baru ini merupakan salah satu hasil rekomendasi dari hasil FGD SLI tahun 2018.

Rangkaian kegiatan SLI Operasional dibagi menjadi tiga kali kegiatan sosialisasi tatap muka bersama para petani dan penyuluh, lalu pada puncaknya nanti akan diadakan forum group discussion. Forum Group Discussion (FGD) akan dihadiri oleh para alumni SLI dan pejabat daerah di wilayah masing-masing. FGD merupakan salah satu bentuk kegiatan diskusi untuk pengumpulan berbagai informasi, sharing pengalaman dan feedback mengenai kegiatan SLI yang pernah diikuti. Respon dan masukan dari para alumni SLI Operasional ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam keberlanjutan kegiatan SLI selanjutnya. (*) Editor : Administrator
#iklim #bmkg #Nindya Kirana #S.Tr #Opini