Drs H Hapazah, M.Pd.
Guru SMAN 1 Praya
LIMITASI makna judul di atas perlu disampaikan demi menghindari distorsi. Kedua kelompok kata tersebut memiliki referensi yang berbeda. Pembelajaran tatap muka (PTM) mengacu kepada pembelajaran antara guru dan peserta didik di sekolah. Sementara pembelajaran dongaq lolo merujuk kepada kegiatan belajar mengajar antara anak dengan orang tua di rumah.
Pembelajaran tatap muka yang selanjutnya disingkat PTM adalah pembelajaran formal yang diselenggarakan di sekolah. PTM merupakan jawaban kerinduan peserta didik, orang tua, dan guru atas kegelisahan yang dirasakan selama pandemi Covid-19 melanda. Kegelisahan tersebut dimaklumatkan lewat berbagai media. Kegelisahan para pelaku pendidikan dan pemangku kepentingan itu didasarkan pada fakta bahwa pembelajaran moda daring (online) mengundang banyak masalah. Memang pembelajaran secara daring merupakan kebijakan emergensi semasa pandemi. Walaupun pembelajaran berbasis teknologi ini memiliki keunggulan, permasalahan yang muncul lebih kompleks dibandingkan dengan keefektifan yang didapatkan.
Permasalahan pembelajaran virtual moda daring yang mewajibkan adanya fasilitas internet menemui banyak kendala. Kendala utama untuk Bali, NTT, dan NTB akses internet di sekolah hanya 50,9 persen. Artinya, terdapat hampir setengah jumlah sekolah di wilayah tersebut tidak dapat melangsungkan pembelajaran berbasis internet.
Permasalahan berikut yang terus-menerus disuarakan peserta didik dengan pembelajaran daring adalah mereka bosan/jenuh belajar. Debar kejenuhan tersebut dapat dilihat dari tingkat kehadiran mereka belajar secara virtual yang rendah. Tugas ataupun ulangan yang digelar dengan teknik ini pun banyak terabaikan. Pada dimensi lain, prestasi akademik peserta didik pada sikap, penghargaan terhadap nilai, etika dan moral terjadi degradasi yang tidak terbantahkan. Implikasi kondisi ini, para guru dihimbau untuk arif melakukan penilaian. Belum lagi orang tua yang selalu berteriak histeris tidak mampu mendidik putra putrinya sendiri. Beberapa indikasi yang disebutkan merupakan sebagian kecil fakta yang mengemuka, yang tengah dicarikan solusinya.
Untuk menjawab semua permasalahan di atas, pada awal tahun pelajaran 2021/2022 pemerintah bermaksud membuka PTM. Rencana ini disambut gembira, bagai oasis penghapus dahaga, oleh para pemburu dan pengampu ilmu.
“NTB termasuk 14 provinsi di Indonesia yang akan menggelar sekolah pembelajaran tatap muka mulai Juli mendatang. Realisasi pembelajaran tatap muka di NTB bergantung kepada capaian vaksinasi terhadap tenaga guru,” ungkap Aidy Furqan, Kepala Dinas Dikbud Provinsi NTB di media sosial. Semua pihak berharap semoga rencana membuka PTM ini dapat terwujud untuk mengurai rindu yang telah satu tahun membelenggu.
Disadari bahwa PTM adalah pembelajaran yang menghadirkan sensasi. Para guru dapat menunaikan tupoksinya sebagai educator, teacher, maupun fasilitator. Para guru dapat fokus mengembangkan karakter dan menanamkan rasa senang belajar peserta didik. Bagi peserta didik, mereka dapat memetik karakter positif yang banyak sekali mulai dari kemandirian, disiplin, hubungan dan komunikasi antarteman. Semua poin yang disebutkan itu tidak mudah diraih lewat pembelajaran daring.
Inilah bukti kesenjangan, ketidakefektifan mengajar dengan cara mengajar. PTM atau tawajjuh (pembelajaran bersemuka) masih menjadi pembelajaran andalan di tanah air. Terlebih bagi jenjang pendidikan SD, PTM adalah sebuah keniscayaan. Dapat dibayangkan, betapa sulit peserta didik kelas rendah di SD belajar secara daring. Untuk mengatasi masalah terakhir ini, Universitas Mataram bekerja sama dengan Dinas Dikbud Provinsi menggagas program “relawan literasi”. Para mahasiswa FKIP Universitas Mataram yang tergabung dalam relawan literasi ini terjun ke tengah-tengah masyarakat selama empat bulan (satu putaran) mendampingi para peserta didik kelas rendah jenjang SD mendaras literasi dasar calistung.
Pada awal-awal pandemi melanda, Dinas Dikbud juga meluncurkan program “guru kunjung”. Dengan program ini, para guru yang “dicekal” mengajar di sekolah karena alasan situasi yang tidak kondusif, diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk melaksanakan pembelajaran di rumah-rumah atau balai-balai dengan jumlah peserta didik terbatas. Guru kunjung juga sebenarnya merupakan ejawantah dari pandangan bahwa PTM memiliki nilai yang lebih unggul daripada bentuk pembelajaran yang lain.
Sebenarnya, pembelajaran tansemuka pun dapat efektif dijalankan. Argumentasinya, para peserta didik sudah memiliki buku paket berjilid-jilid yang dapat dipelajari secara mandiri. Namun, lagi-lagi argumentasi ini harus terpental karena daya baca dan minat baca kita tergolong rendah. Betapa banyak kitab (berlemari-lemari) ditinggalkan oleh seorang tuan guru, yang bisa dipelajari oleh putra tuan guru. Nyatanya tidak pernah terdengar ada putra tuan guru yang menggantikan posisi sang ayah menjadi tuan guru dengan membaca/mempelajari kitab secara mandiri. Untuk bisa menjadi penerus perjuangan sang ayah, anak tuan guru wajib belajar secara tunai kepada empunya ilmu agama. Anak tuan guru dimasukkan ke ponpes tuan guru lain untuk belajar agama. Artinya, PTM atau tawajjuh harus dilakukan. Agaknya, PTM adalah pilihan yang harus ditunaikan karena memiliki efek yang luar biasa. Kiranya PTM effect adalah istilah yang tepat untuk keadaan ini. Kedahsyatan efeknya dapat diunduh pada setiap sidang pertemuan. Kegiatan dalam sidang yang mahapenting itu, yakni belajar dengan bersemuka. Tamu terhormat dalam sidang tersebut ialah peserta didik, sedangkan para guru adalah otoritas penyelenggara sidang pembelajaran.
Tampaknya PTM menjadi trending topic pada saat tahun pelajaran baru menjelang. Dia merupakan antitesis dari pembelajaran dongaq lolo. Pembelajaran dongaq lolo yang terselenggara di rumah menyuguhkan banyak titik lemah yang sulit terbenah. Para orang tua yang mengambil alih tugas guru di sekolah tidak sanggup mendidik anak sendiri. Terlebih bagi orang tua yang menjadi guru untuk beberapa jenjang karena jenjang pendidikan anak-anaknya berbeda. Pada saat itu disadari bahwa peran dan fungsi guru tidak bisa tergantikan. Penghargaan terhadap peran dan fungsi guru tumbuh seiring dengan ketidakberdayaan orang tua menjabat sebagai guru. Dampak lanjutannya, pembelajaran dongaq lolo banyak yang gulung tikar. Para orang tua menyerah dan mengakui keunggulan para guru di sekolah. Diakui PTM selalu menyuguhkan bantuan yang dibutuhkan. “Selalu ada tuan di dalam bantuan,” kata orang bijak. Kata-kata guru adalah sabda tuan yang harus diindahkan. Sementara nasihat orang tua sering dientengkan dan diabaikan. Di sekolah sering ditemukan, peserta didik ogah diajar guru yang kebetulan orang tuanya sendiri. Pun orang tua tersebut, enggan mengajar di kelas yang di dalamnya ada anak kandung sendiri. “Dongaq lolo,” katanya. Anak dan orang tua tidak mau bersekutu karena mereka tidak mau berseteru dengan dalil, “Selalu ada kutu di dalam sekutu.”
Jadi, jelaslah bahwa PTM mengungguli pembelajaran dongaq lolo. PTM bukanlah pembelajaran titip muka lewat zoom meeting yang sering membingungkan. PTM adalah pembelajaran sesungguhnya yang mencerdaskan. Sejatinya, pembelajaran dongaq lolo pun adalah pembelajaran utama di rumah tangga. Namun, pada sekup yang lebih luas, pembelajaran dongaq lolo belum memberi manfaat lebih maksimal. (*) Editor : Administrator