Masyarakat Sasak memiliki budaya sebagai ekspresi diri sebagai bangsa yang bermoral. Masyarakat Sasak akan tahu taoq takaq, taoq diriq, dan taoq adat. Taoq takaq mengacu kepada pemahaman tempat berpijak. Masyarakat Sasak yang taoq takaq akan menempatkan diri pada konteks yang tepat.
Kalau sudah menempatkan diri pada konteks yang tepat, perilaku yang pantas pun disesuaikan dengan norma setempat. Masyarakat Sasak tahu di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Taoq diriq mengacu kepada pemahaman tentang jati diri, asal muasal dan tujuan hidup. Taoq diriq akan mengarahkan sikap yang mencerminkan hakikat diri kita sesungguhnya. Taoq adat merujuk kepada pemahaman tentang norma adat yang ada. Kesusilaan, sopan santun, dan kepantasan berdasarkan adat merupakan nilai yang terkandung pada status taoq adat.
Berikut kaitannya dengan pegon. Sebagai pakaian adat bagi laki-laki Sasak, pegon merupakan syiar keberadaban masyarakat Sasak. Pegon yang dilengkapai dengan ikat kepala (sapuq) atau destar, leang, bebet, keris, dan kain panjang sebagai pakaian bawahan memiliki makna filosofi yang tinggi.
Sapuq atau destar yang bercorak kain batik kemerah-merahan dipadukan dengan corak hitam dan putih merupakan warna asli sejak azali. Ketika dililitkan/dikenakan di kepala, bagian warna hitam dan putih sapuq mesti terlihat di bagian samping kiri dan kanan kepala. Hal ini dapat diinterpretasi bahwa susah senang pasti dialami.
Selanjutnya, simpul sapuq yang terletak di bagian depan kepala dan berdiri di atas dahi itu, berbentuk lam alif atau laa dalam bahasa Arab, merujuk kepada makna ‘tidak’. Kata laa itu sesungguhnya adalah bentuk ringkas dari kalimat laa ilaha illallah yang berarti ‘tidak ada Tuhan selain Allah’. Artinya, masyarakat Sasak adalah masyarakat beragama Islam, yang menjunjung tinggi keyakinan adanya Allah. Keyakinan fundamental itu disematkan di tempat terhormat, yakni kepala bagian depan.
Sapuq diikatkan di kepala. Secara filosofi mengandung makna bahwa pikiran manusia harus dikendalikan. Pikiran tidak boleh liar. Pikiran mesti terkendali. Kendalinya adalah peraturan Allah. Pikiran manusia tidak boleh menyalahi dan melampaui ketentuan Allah. Pikiran manusia harus berada di dalam bentangan agama Allah.
Baju pegon berupa jas berwarna dasar hitam melambangkan nilai keagungan. Warna hitam mencerminkan nilai agung, anggun, dan berwibawa. Warna hitam mengindikasikan bahwa masyarakat Sasak adalah masyarakat yang terbuka terhadap inspirasi. Sebagaimana sifat dasar warna hitam yang identik dengan menyerap sinar matahari, demikian pula dengan sifat masyarakat Sasak yang suka menyerap isnpirasi.
Pun dengan model jas yang merupakan pengaruh Jawa dan Eropa menguatkan opini kita bahwa masyarakat Sasak adalah masyarakat yang terbuka menerima perubahan. Perlu ditambahkan di sini bahwa pegon yang berbentuk jas, biasanya dikenakan oleh para pemuka adat. Sementara, masyarakat umum mengenakan baju putih lengan panjang. Walaupun berbeda, keduanya mengandung makna sebagai lambang pemuliaan kepada para tamu, selain mengungkapkan fungsi utama untuk melindungi diri.
Keris yang diselipkan melambangkan makna kesatria. Artinya, masyarakat Sasak adalah masyarakat pemberani, berani menggulung kebatilan, siaga dengan senjata pusaka yang sewaktu-waktu terhunus di hadapan lawan. Keris yang diselipkan melambangkan kesiagaan menghadapi ancaman yang datangnya tidak diprediksi/diperkirakan sebelumnya.
Leang yang dikenakan menggambarkan sifat kasih sayang. Leang juga adalah simbol pengabdian. Diketahui bahwa masyarakat Sasak adalah masyarakat yang peduli kepada sesama, generasi muda, bahkan kepada alam sekitar. Para pemangku adat adalah pemuka masyarakat yang siap mengayomi masyarakat yang membutuhkan perhatian dan perlindungan.
Bebet adalah kain panjang yang dililitkan di pinggang. Bebet mengandung makna idiomatik, yakni ‘kesiapan berkarya’. Bebet mengisyaratkan adanya semangat dan motivasi kerja. Bahwa orang Sasak adalah pekerja ulet, memiliki etos kerja tinggi, dan pantang bermalas-malas dapat dilihat dari bebet sebagai bagian pakaian adat ini. Selain sebagai simbol spirit beraktivitas, bebet mengandung makna bahwa nafsu harus dikendalikan. Nafsu perut dan nafsu syahwat tidak boleh dituruti secara bebas.
Makan makanan yang haram, baik haram karena zatnya maupun cara mendapatkannya tidak boleh dilakukan. Makanan haram karena mengandung najis atau karena cara memperolehnya tidak benar seperti dengan merampas, mencuri, atau korupsi, tidak boleh dimakan. Semua harus dikendalikan. Pun dengan yang di bawah perut, nafsu syahwat (seksual) tidak boleh diumbar. Bebet yang dililitkan di pinggang menyiratkan makna bahwa nafsu yang bersarang di perut dan di bawah perut harus dikekang dan disalurkan pada tempatnya secara proporsional.
Berikutnya, yang merupakan kelengkapan pakaian adat pegon adalah bawahan. Pakaian bawahan ini berupa kain panjang, baik batik maupun hasil tenun. Kain batik panjang atau tenunan sebagai bawahan, ujung bagian depannya berjuntai ke tanah. Hal ini mengandung makna bahwa manusia harus rendah hati dan santun.
Selain itu, bawahan ini dapat diartikan bahwa manusia harus tahu dari mana dan ke mana setelah kehidupan ini. Manusia harus tahu bahwa mereka berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Dengan mengetahui hal itu, manusia akan tunduk dan tawaduk, tidak sombong, apalagi membanggakan diri. Manusia sadar, yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah. Tidak ada yang abadi. Semua akan mati dan kembali kepada-Nya.
Jadi, jelaslah bahwa pegon dengan segala kelengkapannya adalah bentuk ekspresi jati diri. Pegon mengusung makna bahwa masyarakat Sasak adalah masyarakat yang berbangsa dan bermartabat. Pegon membawa pesan bahwa masyarakat Sasak adalah masyarakat yang menjaga bibit, bobot, dan bebet.
Bibit mengacu kepada silsilah, trah atau keturunan. Orang yang baik akan berasal dari bibit yang baik dan menghasilkan keturunan yang baik pula. Bobot mengacu kepada mutu dan kualitas. Orang yang baik adalah orang yang berkualitas. Kualitas di sini menyangkut kemampuan pengetahuan, keterampilan, maupun kemampuan material atau kekayaan. Bebet mengacu kepada sikap, karakter atau akhlak.
Orang yang baik adalah orang mempunyai sikap, karakter atau akhlak mulia dan terpuji. Ketiga hal itu: bibit, bobot, dan bebet merupakan muruah yang melekat pada manusia ideal, insan kamil yang didambakan semua kalangan. Nah, orang Sasak, mencoba mematrikan nilai kearifan lokal itu melalui budaya. Dengan kata lain, pegon telah memproklamasikan betapa masyarakat Sasak adalah masyarakat yang bangga dengan pakaian adat yang mengandung nilai adiluhung. Semoga ulasan ini akan memantik kreativitas kita untuk menambang mutiara yang tertimbun di dalam khazanah budaya daerah dalam rangka menyukseskan pemajuan kebudayaan Indonesia. (*)
Editor : Administrator