Oleh :Jauza Irbah (Dokter umum RSUD Kota Mataram)
Bulan Juni diperingati sebagai Cataract Awarness Month bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan penyakit katarak. Di dunia, penyakit katarak menduduki peringkat pertama penyebab kebutaan dan juga gangguan penglihatan, dimana kasus terbanyak ditemukan pada negara berkembang.
Di NTB sendiri, angka kebutaan mencapai 4 persen, menduduki peringkat kedua nasional. Hal ini disebabkan oleh karena ketidaksadaran penderita katarak akan gejala yang dirasakan serta ketidaktahuan masyarakat bahwa penyakit katarak dapat disembuhkan. Padahal, dengan adanya gangguan penglihatan, maka pekerjaan tidak akan maksimal, sehingga akan berdampak pada kehidupan sosioekonomi.
Katarak sendiri dibagi menjadi beberapa tipe berdasarkan letak anatominya, yaitu katarak kortikal, nuclear, dan subcapsular. Serta derajat kekeruhannya, yaitu katarak insipient, imatur, matur, dan hipermatur.
Apa saja faktor resiko katarak?
Katarak dapat disebabkan oleh karena kongenital (bawaan dari lahir) karena adanya gangguan proses perkembangan embrio saat dalam kandungan atau kelainan kromosom genetic.
Proses penuaan juga dapat menyebabkan perubahan kondisi lensa mata. Lensa mata akan bertambah berat dan tebal, serta kehilangan daya akomodasi. Setiap pembentukan lapisan baru, nucleus lensa akan mengalami pengerasan. Selain itu, protein nucleus lensa juga mengalami perubahan senyawa kimia sehingga menyebabkan lensa berwarna kuning atau kecoklatan
Penyakit diabetes melitus merupakan penyakit tersering penyebab katarak. Faktor resiko lainnya, yaitu paparan sinar UV, penggunaan obat-obatan steroid dalam jangka waktu lama, trauma pada mata, infeksi pada mata, dan myopia yang tinggi. Selain itu, penggunaan hormon estrogen, konsumsi alkohol, dan obesitas pada beberapa penelitian juga menunjukkan sebagai penyebab faktor resiko.
Bagaimana gejala katarak?
Penderita umumnya merasa kabur, seperti melihat pada kaca yang buram. Kekaburan ini dirasakan bertambah perlahan-lahan. Berdasarkan letak kekeruhannya, kabur yang dirasakan penderita juga berbeda-beda. Misal, pada katarak nuclear penderita akan mengeluh kabur jika melihat jauh. Namun, pada katarak subcapsular penderita merasa kabur jika melihat jarak dekat.
Selain itu, penderita juga akan merasa silau. Hal ini disebabkan adanya gangguan pembiasan pada lensa.
Penderita juga akan mengalami gangguan diskriminasi warna karena adanya perubahan warna kuning atau kecoklatan pada lensa.
Bagaimana mengobati katarak ?
Pada katarak derajat rendah (yang dinilai oleh dokter melalui pemeriksaan visus dan pemeriksaan slit lamp) penderita akan diberi kacamata untuk mengoreksi visus. Obat-obatan dan multivitamin, seperti vitamin E, vitamin C, beta carotene, zinc, dan copper tidak mempunyai efek yang signifikan dalam mengobati dan mencegah katarak.
Pada katarak derajat berat akan dilakukan operasi untuk mengurangi kekaburan. Operasi katarak pembedahan dengan mengangkat lensa mata yang keruh akibat katarak dan menggantinya dengan lensa buatan. Operasi katarak sendiri hanya membutuhkan waktu 15 menit hingga 1 jam.
Ada beberapa metode dalam operasi katarak, bergantung dari letak kekeruhan dan derajat kekeruhan penderita, yaitu fakoemulsifikasi, opersi katarak ekstrakapsular, dan intracapsular.
Pada fakoemulsifikasi, dokter akan membuat sayatan kecil untuk memasukkan alat untuk menghancurkan dan menarik lensa yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan, sehingga teknik ini tidak membutuhkan jahitan
Pada operasi katarak ektrakapsular, dokter membuat sayatan yang lebih besar dan mengambil lensa mata yang keruh secara utuh dengan meninggalkan kapsulnya sebagai tempat untuk lensa buatan, setelah itu sayatan akan dijahit kembali. Teknik operasi ini umumnya digunakan jika katarak cukup padat.
Sedangkan pada operasi katarak intracapsular, teknik sama dengan ektrakapsular, namun kapsul lensa juga ikut diambil. Teknik operasi ini telah lama ditinggalkan
Apa saja komplikasi pasca operasi ?
Komplikasi yang dapat terjadi, yaitu peradangan, infeksi, perdarahan, pembengkakan, serta bergesernya lensa buatan yang telah ditanam. Komplikasi yang paling berat, yaitu endoftalmitis atau infeksi pada seluruh bola mata. Namun, dokter akan memberikan antibiotik sebelum, saat operasi dan sesudah operasi untuk pencegahan infeksi. (*)
Editor : Baiq Farida