Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bagaimana Jika ‘Biru Laut’ dan Kawan Kawan  Hidup di Rezim Sekarang?

Sanchia Vaneka • Minggu, 10 Maret 2024 | 20:50 WIB

Novel Laut Bercerita versi Soft Cover
Novel Laut Bercerita versi Soft Cover
  

LombokPost-Novel berjudul Laut Bercerita karya Leila Salikha Chudori yang menceritakan pergerakan mahasiswa pada tragedi tak terlupakan 1998 silam. Leila, menelurkan novel ini pada 2017 lalu.

Novel ini adalah karya kesekiannya yang terinspirasi dari kejadian politik tanah air. Sayangnya, penulis baru membacanya pada cetakan ke-53 Februari lalu.

Perkenalan penulis dengan karya seorang penulis ulung ini akhirnya baru dimulai lewat novel ini.

Laut Bercerita mengisahkan tentang organisasi bernama Winatra dan Wirasena yang berisi sekelompok aktivis mahasiswa bermarkas di Seyegan, Yogyakarta. Ada Sunu, Alex, Daniel, Gala, Ahmad, Coki, dan Naratama.

Sesuai dengan judulnya, novel ini benar – benar bercerita tentang tokoh utama yang Bernama Biru Laut Wibisono, mahasiswa program studi bahasa yang gemar membaca. Berjenis historical fiction, novel ini dengan baik merepresentasikan kisah nyata dari tragedi Orde Baru 1998 yang kelam.

Disajikan dengan dua sudut pandang. Sisi pandang dari Laut dan Asmara Jati, adik perempuan Laut.

Ide menulis tentang peristiwa ini lahir pada 2008. Ketika ia meminta salah seorang aktivis yang berhasil lolos.

Nezar Patria yang dikehidupan barunya menjadi seorang jurnalis. Dan kini ditetapkan menjadi Direktur Kelembagaan PT.Pos Indonesia.

Nezar menuangkan ceritanya dalam bentuk tulisan yang kemudian dimuat pada sebuah artikel berjudul “Di Kuil Penyiksaan Orde Baru.”

Pada 2013, Leila mulai mewawancarai aktivis terkait selain Nezar.

Untuk memberikan nyawa pada karya fiktifnya, ia mewawancarai Haris Azhar, Budiman Sujatmiko, Usman Hamid, dan kawan kawan.

Kembali ke novel, sekelompok mahasiswa yang berusaha menyuarakan suara mereka dengan cita – cita menciptakan Indonesia yang lebih demokratis.

Nihil, mereka bahkan dibungkam dan dihilangkan. Jika tidak patuh dan berani mengkritik mereka akan  diinjak, ditendang, disiram dengan air es, disetrum,  dibantai dan perlakuan sadis biadab lainnya. 

Laut sapaan akrab untuk sekjen Wirasena berhasil ditangkap oleh pemerintah orde baru beserta 13 temannya dengan dan dijebloskan ke sebuah tempat yang sangat keji.

“Air sudah membasahi sekujur tubuh dan jiwa. Sebetulnya seluruh tubuhku belum waktunya untuk bersentuhan dengan air. Beberapa memar akibat gebukan dan tendangan serta luka – luka bekas injakan sepatu bergerigi mereka menyebabkan perih bukan kepalang setiap kali aku menyiramnya dengan air. Tetapi pedih perih itu tak sebanding dengan rasa hina yang masih membara," sebuah penggalan dialog Laut yang menggambarkan betapa tidak manusiawinya perbuatan oknum dengan semangat juang yang membara dari aktivis ini.

Dapat dilihat bahwa sikap Laut yang memperjuangkan hak rakyat dan negeri pada masa itu meski terus dibungkam tetapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berdiri.

Sebuah pengkhianatan juga dikisahkan dalam novel ini.

Ada kalimat bijak yang berkata bahwa 'pengkhianatan biasanya berasal dari orang yang paling kita percaya.' Benar saja, novel ini mengamini kalimat tersebut.

Dalam kisahnya, kerabat dekat Laut dan anggota Wirasena lainnya, Gusti namanya. Orang yang selalu ikut dalam pergerakan Winatra ternyata selama ini adalah pengkhianat.

"Tahukah kau selama ini ada ular diantara kita? Dia menyelinap dan bertengger begitu rupa mendengarkan semua rencana – rencana kita dan sekarang barulah aku paham mengapa aksi kita begitu cepat tercium apparat.” sebuah penggalan pada halaman 195.

Dalam dialog ini Laut membatin dengan perasaan kecewa yang mendalam dan enggan memberitahu kawannya yang lain.

Bagian yang tidak kalah menyayat hati adalah ketika novel ini diceritakan pada sudut pandang Asmara. Menceritakan banyak hal tentang masa kecilnya dengan sang Kakak yang begitu dekat dengan keluarga.

Bagaimana Laut selalu bercerita tentang gadis yang ia kagumi dan cintai, Anjani.

Bagian ini juga menggambarkan lebih dalam tentang para aktivis yang diculik, ada yang kembali dan tidak, pencarian jawaban keluarga yang terus menerus sampai sekarang.

Berawal dari tahun 2000, akhir dari perjuangan Laut dengan 13 temannya yang ditenggelamkan bersama cerita yang belum sempat mereka ceritakan ke Indonesia.

Memilukan, dalam bagian ini penuh dengan harapan, mencari kepastian dan jawaban dari keluarga, Asmara, dan Anjani, dan kerabat yang berhasil diloloskan.

Ayah dan Ibu Laut yang selalu berharap anaknya akan tiba – tiba pulang dan sarapan bersama di Minggu pagi. Anjani yang seperti jasad kehilangan nyawa, entah sampai kapan.

“Dari alam manapun kau berada, berilah tanda, kode morse atau pesan apapun agar aku tahu kau tenang dan bahagia," penutup surat dari Asmara untuk kakaknya yang entah ke mana akan dikirimnya.

Setelah membaca tuntas novel ini, penulis berpikir dan membandingkannya dengan keadaan saat ini. Indonesia yang sudah tidak lagi dibungkam jika bersuara dan memiliki banyak ruang untuk berpendapat.

Mahasiswa menggelar demo besar besar an, mengarak pengeras suara sambil berorasi dengan semangat yang membara, melontarkan kritik kritik pedas bahkan solutif, aspirasi resah hingga kepada pemerintah melalui postingan linimasa, dan wujud kebebasan bersuara lainnya.

Namun, apakah Indonesia sudah se ideal demokrasi yang dimimpikan para Wirasena? Bukankah dengan semakin banyaknya dengungan dari masyarakat dan mahasiswa itu sudah menjadi alarm bagi demokrasi yang sedang tertidur lelap?

Bagaimana  jika kita ada pada zaman yang dialami Biru Laut dan kawan kawan? Atau bahkan sebaliknya, bagaimana jika Biru Laut yang ada pada zaman ini? Bisa dibayangkan, ia akan berteriak lantang bersama anggota Wirasena yang lain dan mengkultuskan setiap benak yang disorakkannya.

Ini menjadi kritik sosial berbentuk retorika indah bagi pemerintah yang terlibat pada zaman itu untuk memberikan keadilan dan tanggungjawab kepada aktivis yang sengaja dihilangkan.

Itu adalah jawaban yang keluarga mereka tunggu, sepanjang hidup.

“Aku yakin kita akan berjumpa suatu hari, secepatnya. Di dalam Indonesia yang lain, yang lahir kembali,” potongan kalimat dalam surat cinta Laut untuk  Anjani yang dititipkannya melalui Alex. (chi)

 

 

 

Editor : Kimda Farida
#LAUT BERCERITA #LEILA S CHUDORI #novel