Oleh : Dr. dr. Yusra Pintaningrum, SpJP(K),FIHA
(Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram – RSUD Provinsi NTB)
PENYAKIT kardiovaskular (PKV) atau penyakit jantung dan pembuluh darah menjadi penyebab kematian tertinggi secara global.
Sebanyak 17,9 juta orang di dunia meninggal karena PKV pada tahun 2019, yaitu sekitar 32 persen dari seluruh kematian secara global, sedangkan 85 persen kematian oleh PKV disebabkan oleh serangan jantung dan stroke.
Sebenarnya, PKV dapat dicegah, dengan cara berhenti merokok, diet sehat, memperbanyak aktifitas fisik, serta berhenti mengonsumsi alkohol.
Di Indonesia, kematian akibat rokok sekitar 619 per hari. Dibandingkan dengan orang yang bukan perokok, para perokok memiliki risiko terkena penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) 13 kali lebih tinggi, 40 persen rentan terkena diabetes, 44 persen risiko terjadi pembekuan darah, 56 persen risiko terkena stroke, dan 9 kali lebih tinggi mengalami risiko serangan jantung.
Tidak hanya efek pada individu tersebut, negara pun mengalami kerugian akibat efek rokok sekitar Rp 596,5 triliun.
Ironisnya, dalam satu dekade terakhir, pola pengeluaran sehari-hari masyarakat Indonesia bergeser dari kebutuhan pokok menjadi konsumsi rokok. Dari Pusat Kajian Jaminan sosial Universitas Indonesia tahun 2019, Dartanto dkk , studi kasus di Demak Jawa Tengah menunjukkan pengeluaran konsumsi rokok menempati urutan kedua setelah makanan.
Berdasarkan Indonesia Family Life Survey (IFLS) menunjukkan peningkatan pembelian rokok, namun terjadi penurunan pada pengeluaran untuk ikan, daging, dan karbohidrat.
Bahaya Rokok
Menurut Kemenkes, di dalam sebatang rokok terkandung lebih dari 4.000 jenis senyawa kimia, 400 zat berbahaya, dan 43 zat penyebab kanker (karsinogenik).
Rokok mengandung karbonmonoksida (CO) seperti halnya gas dari knalpot, yaitu salah satu gas beracun yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah, sehingga dapat menimbulkan penyakit berbahaya.
Tar yang dikandung dalam rokok mengandung zat penyebab kanker, dan rokok juga mengandung nikotin, merupakan zat berbahaya yang menyebabkan adiksi atau kecanduan.
Studi Witteman dkk tahun 1993 dalam jurnal Circulation, makin banyak jumlah rokok yang dikonsumsi perhari dapat meningkatkan risiko percepatan progress aterosklerosis, yaitu penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan lemak.
Studi dari Willet dkk pun menunjukkan jumlah kematian meningkat seiring dengan jumlah rokok yang dihisap perhari.
Rokok Membuat Adiksi
Ketika seseorang telah kecanduan rokok, nikotin yang terkandung dalam tembakau merangsang otak untuk melepas zat yang memberi rasa nyaman (dopamin).
Jadi Ketika orang tersebut tidak merokok, zat dopamin berkurang, mengalami gejala putus nikotin seperti rasa tidak nyaman, sulit konsentrasi, dan mudah marah.
Untuk mempertahankan rasa nyaman, seringkali timbul dorongan untuk merokok kembali. Hal tersebut merupakan gejala dari adiksi atau ketergantungan.
Ramadan adalah Momen Paling Tepat untuk Berhenti Merokok
Dijelaskan oleh Iqbal Syauqi al Ghifary dalam buku Agar Tak Hanya Lapar dan Dahaga: Panduan Puasa Ramadhan Sehat dan Berkah, Syeikh Sulaiman dari mazhab Syafii mengatakan pendapatnya soal merokok membatalkan puasa dalam kitab Hasyiyatul Jamal bahwa:
"Dan termasuk dari 'ain (hal yang membatalkan puasa) adalah asap, tetapi mesti dipilih. Jika asap/uap itu adalah yang terkenal diisap sekarang ini (maksudnya tembakau) maka puasanya batal. Tapi jika asap/uap lain seperti asap/uap masakan, maka tidak membatalkan puasa. Ini adalah pendapat yang mu'tamad (merujuk ulama karena kuat argumennya)."
Bulan Ramadan adalah saat yang tepat untuk berkomitmen berhenti merokok. Kemenkes pun menyatakan bahwa berhenti merokok memiliki manfaat dari 20 menit pertama, yaitu tekanan darah, denyut nadi, dan aliran darah tepi membaik.
Bila tidak merokok dalam 12 jam, hampir semua nikotin dalam tubuh sudah dimetabolisme, kadar karbonmonoksida dalam darah kembali normal.
Orang yang tidak merokok dalam 1-2 hari, nikotin muliai tereliminasi dari tubuh. Fungsi pengecap dan penciuman mulai membaik, sistim kardiovaskular meningkat baik.
Dan berhasil menahan rokok dalam 5 hari, Sebagian besar metabolit nikotin dalam tubuh sudah hilang. Fungsi perasa/pengecap dan pembau jauh lebih membaik. Sistim kardiovaskular pun terus meningkat.
Bila orang tersebut berhasil berhenti merokok total saat bulan Ramadan, maka fungsi silia saluran napas dan fungsi paru membaik. Napas pendek dan batuk-batuk pun berkurang. Dikatakan bahwa bila seseorang berhasil berhenti merokok dalam satu bulan penuh, maka akan lebih mudah untuk berhenti merokok selamanya.
Dalam 1 tahun berhenti merokok, maka risiko penyakit jantung koroner menurun setengahnya, dalam 5 tahun risiko stroke menurun pada level yang sama seperti orang yang tidak merokok, dan dalam 10 tahun risiko kanker paru berkurang setengahnya.
Pentingnya Motivasi Diri
Kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik karena niat. Sama halnya bila kita ingin berhenti merokok, yang paling penting adalah niat. Dukungan keluarga, kerabat, dan teman-teman sekitar adalah penting. Bila perlu mendorong para perokok di sekitar kita untuk bersama-sama berkomitmen berhenti merokok selamanya mulai Ramadan tahun ini. (*)