Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tantangan Dosen Milenial Menghadapi Mahasiswa Gen Z

Rury Anjas Andita • Selasa, 17 September 2024 | 11:27 WIB
Ilustrasi Gen Z
Ilustrasi Gen Z

PENDIDIKAN merupakan dasar utama dalam membentuk kepribadian dan karakter individu. Karena itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) sangat menentukan perkembangan atau kemunduran suatu bangsa. Manusia yang berkarakter unggul menjadi kunci kemajuan sebuah negara.

Dosen memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian dan karakter peserta didik melalui “mengajar” dan “mendidik”. Mengajar adalah memberikan pelajaran, materi, atau latihan, sedangkan mendidik lebih dari itu. Mendidik mencakup proses memelihara, membimbing, dan memberi teladan, dengan tujuan memberdayakan peserta didik.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul istilah-istilah yang mengelompokkan manusia ke dalam usia-usia tertentu seperti baby boomers, generasi X, generasi Y (milenial), dan generasi Z. Belakangan, juga muncul istilah generasi Alpha. Zaman yang berbeda menghasilkan karakter dan kepribadian manusia yang berbeda-beda. Hal ini dapat terlihat dari ciri khas masing-masing generasi.

Perbedaan Gaya Belajar Antar Generasi

Sebagai dosen milenial (generasi Y), saya merasa tantangan terbesar yang dihadapi oleh para pengajar saat ini adalah metode pengajaran yang telah kita warisi dari sistem pendidikan lama yang lebih tradisional. Sebagai contoh, ketika saya kuliah, metode pembelajaran yang umum digunakan adalah ceramah panjang yang diikuti dengan diskusi terbatas dan tugas tulis. Buku rujukan tebal yang lebih dari satu menjadi sumber untama informasi.

Namun, mahasiswa Gen Z cenderung lebih menyukai akses informasi yang cepat, seperti melalui internet, video tutorial singkat, platform daring, atau infografis. Mereka jarang mengandalkan buku teks fisik dan lebih tertarik pada sumber digital yang interaktif serta mudah diakses di mana saja.

Kebutuhan Pembelajaran Berbasis Teknologi

Mahasiswa Gen Z yang lahir tahun 1997 hingga 2012 dibesarkan di tengah maraknya teknologi digital. Mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang pesat. Mereka terbiasa dengan akses instan ke informasi melalui internet, media sosial, dan smartphone. Perbedaan Milenial dan Gen Z juga terlihat pada metode pengumpulan tugas.

Dulu, mahasiswa milenial biasanya mengumpulkan tugas dalam bentuk hard copy yang rapi dan mengikuti format formal yang ketat. Sedangkan, mahasiswa Gen Z lebih nyaman dengan pengumpulan tugas melalui e-mail, WhatsApp, atau platform digital lainnya yang lebih fleksibel. Tugas yang diberikan juga lebih mengutamakan kreativitas seperti persentasi lewat video, kemudian diunggah ke media sosial.

Hal ini memaksa dosen untuk lebih adaptif dalam metode pengajaran. Dosen perlu memadukan pendekatan digital dan tradisional agar lebih seimbang. Selain itu, ruang diskusi yang lebih aktif dan partisipatif harus disediakan. Selain mengajar, peran dosen dalam mendidik juga harus tetap berjalan. Mendidik mahasiswa Gen Z bukan hanya soal memastikan mereka lulus di mata kuliah yang diambil, tetapi juga tentang menumbuhkan kepribadian dan karakter unggul di tengah era digital yang penuh tantangan.

Tantangan dalam Menjaga Disiplin dan Etika Digital

Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran berbasis teknologi digital adalah menjaga disiplin dan etika digital. Mahasiswa Gen Z sangat akrab dengan dunia digital, tetapi sering kali belum memahami etika dalam menggunakannya di lingkungan akademis. Contohnya, plagiarisme semakin meningkat karena akses yang mudah ke informasi. Banyak mahasiswa yang tidak menyadari bahwa menyalin karya orang lain tanpa mencantumkan nama penulis asli atau sumber rujukan adalah pelanggaran akademik.

Selain itu, dalam kelas berbasis daring, masalah seperti ketidakfokusan memperhatikan materi karena peluang multitasking dengan media sosial selama kelas berlangsung, menonaktifkan kamera sehingga dosen kesulitan mengukur sejauh mana mahasiswa mendengarkan selama kelas daring berlangsung, dan tidak jarang mahasiswa makan, minum, tidur, hingga merokok di kelas daring. Dosen milenial dituntut untuk tidak hanya memberikan materi, tetapi juga mendidik mahasiswa tentang tanggung jawab etis di dunia digital. 

Dosen milenial harus tetap menciptakan keseimbangan antara memberikan pembelajaran yang menarik dan menjaga disiplin akademis. Mahasiswa Gen Z mungkin merasa cepat bosan dengan metode tradisional, tetapi menjaga substansi dan kedalaman materi tetap menjadi prioritas untuk memastikan kualitas pemahaman mahasiswa bukan hanya sekedar kecepatan akses informasi. Sebagai dosen milenial tugas kita adalah mengubah metode ini agar lebih relevan tanpa mengorbankan esensi dari pendidikan itu sendiri.

Tren “Healing” di Kalangan Mahasiswa

Tren ini dimulai dari munculnya video-video rekreasi yang disebut healing beredar di media sosial akhir tahun 2021 dan booming di tahun 2022. Istilah healing menjadi populer dan sering diidentikkan dengan aktivitas seperti bepergian bersama teman, pasangan, atau keluarga untuk menghindari tekanan dari rutinitas sehari-hari.

Namun, healing dalam terminologi psikologi memiliki arti penyembuhan yang sebenarnya mengacu pada proses pemulihan psikologis, terutama setelah mengalami trauma. Misalnya, trauma akibat musibah, bencana alam, atau gangguan kecemasan.

Cerita unik saat mengajar di kelas seakan tidak ada habisnya. Ketika saya meminta mahasiswa untuk menuliskan hobi mereka, hampir semua mahasiswa yang ada di kelas menyebut “healing” sebagai kegiatan favorit.

Sebagai dosen, saya merasa perlu meluruskan pemahaman ini agar mahasiswa tidak salah kaprah dalam menjadikan healing sebagai hobi. Bagaimanapun juga healing menandakan kondisi individu yang membutuhkan pemulihan dari gangguan psikologis. Jika mahasiswa merasa penat terhadap kegiatan kampus, tugas akademik, atau praktikum, akan lebih tepat jika mereka menggunakan istilah seperti traveling, yang secara semantik lebih sesuai dengan konteks kegiatan positif dan rekreatif.  

Sebagai dosen, peran kami sangat penting dalam meluruskan pemahaman yang kurang tepat terkait penggunaan istilah-istilah dalam keseharian, sepertihealing sebagai sebuah hobi. Hobi idealnya merupakan aktivitas yang positif dan konstruktif yang memberikan nilai tambah bagi pengembangan diri, bukan sekadar pelarian dari masalah atau tekanan hidup.

Selain memberikan pengetahuan akademis, tugas dosen mencakup tanggung jawab untuk membimbing mahasiswa dalam memahami dan menjalani kehidupan dengan cara yang sehat dan produktif. Terlebih mahasiswa Gen Z mudah latah terhadap tren yang sedang viral atau trending di media sosial. Penting bagi dosen untuk memastikan bahwa mahasiswa mengidentifikasi hobi sebagai kegiatan yang membangun, sehingga dapat berkontribusi terhadap pencapaian kesuksesan mahasiswa di masa depan.

Pada akhirnya, perbedaan gaya belajar dan mengajar antara dosen milenial dan mahasiswa Gen Z bukanlah hambatan, melainkan peluang. Dengan memahami kebutuhan dan karakteristik Gen Z, kita bisa menjadi dosen yang tidak hanya relevan dengan zaman, tetapi juga mampu membekali generasi baru ini dengan keterampilan yang mereka butuhkan di masa depan.

Di sinilah pentingnya memadukan antara peran mengajar dan mendidik, seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantara, proses pendidikan harus memerdekakan manusia dari belenggu baik fisik maupun mental. Mahasiswa harus dipersiapkan untuk menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan beretika. Menjadi dosen milenial di tengah mahasiswa Gen Z adalah tantangan sekaligus kesempatan untuk berkembang. Semoga kita mampu menyesuaikan diri dan terus memberikan pendidikan yang berkualitas. (*)

 


*) Anisa Purwa Ningrum, S.I.Kom.,M.A., Dosen Ilmu Komunikasi, FISIPOL, Universitas 45 Mataram

Editor : Rury Anjas Andita
#Mahasiswa #dosen #Gen Z #mileneal