PEMILIH muda (berusia 17-39 tahun) menjadi pemilik saham mayoritas pemilih pada Pilkada NTB 2024. Angkanya mencapai sekitar 54,4 persen bahkan berpotensi bertambah hingga 60 persen dari total pemilih setelah proses Coklit rampung. Keberadaan pemilih muda ini menjadi kunci yang dapat menentukan arah politik di Bumi Gora.
Sebagai pemegang saham mayoritas, maka pemilih muda ini bisa menjadi faktor penentu dalam pemilihan gubernur-wakil gubernur NTB. Meskipun tidak bisa pula mengabaikan faktor lainnya.
Dengan jumlah yang besar ini, pemilih muda jelas bisa menjadi gerbong utama yang dapat menarik pemenang Pilkada NTB 2024. Calon kepala daerah yang mampu merangkul dan memahami kebutuhan serta aspirasi kaum muda berpotensi untuk memenangi hati kaum muda. Dengan demikian, kontestan Pilkada perlu menyusun strategi yang cermat, baik dalam kampanye maupun program-program yang ditawarkan, agar relevan dengan kebutuhan generasi muda. Terlebih lagi, partisipasi aktif pemilih muda ini juga menandakan perubahan pola politik di NTB. Suara politik anak muda tak lagi dapat diabaikan, justru bisa menjadi elemen kunci dalam membentuk masa depan daerah ini.
Karl Mannheim (1928) seorang Sosiolog asal Jerman mengungkapkan bahwa kaum muda adalah penggerak utama perubahan sosial. Dalam konteks Pilkada 2024, pemilih muda juga memiliki potensi serupa dalam pergeseran electoral. Pada kontestasi Pilkada 2024 ini, kelompok muda berpotensi sebagai aktor yang dapat mengubah peta politik melalui preferensi mereka yang dinamis. Dengan potensi besar untuk mempengaruhi hasil pemilihan, generasi milenial dan generasi Z memiliki perspektif yang berbeda dari generasi sebelumnya, dengan fokus pada isu-isu yang lebih relevan bagi mereka.
Generasi ini juga lebih kritis terhadap janji-janji politik dan cenderung memilih pemimpin yang dapat menawarkan solusi nyata terhadap tantangan-tantangan yang mereka hadapi. Sehingga penting bagi para calon untuk beradaptasi dan menyusun strategi yang kreatif untuk mendulang dukungan dari pemilih muda.
Mudah Berubah dan Moody
Meskipun suara kaum muda dipandang sebagai faktor penentu dalam pemilihan calon pemimpin, karakter pemilih muda yang mayoritas berasal dari generasi milenial dan generasi Z cenderung mudah berubah. Mereka sering kali mengalihkan dukungan berdasarkan suasana hati, pemikiran, dan perasaan mereka saat itu, sehingga dikenal sebagai pemilih yang "moody".
Pakar Politik UGM, Mada Sukmajati menjelaskan bahwa meskipun pemilih muda cenderung mudah mengubah pilihan, namun mereka juga sering mengalami kesulitan dalam menentukan calon yang akan mereka dukung. Sehingga besar pula potensi untuk tidak menggunakan hak pilihnya.
Preferensi pemilih muda sangat bergantung dari konsumsi informasi yang mereka terima. Paparan informasi dari berbagai platform yang cepat berubah menjadi alasan mudah berubahnya keputusan politik kaum muda. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tren terbaru, berita viral, atau kampanye digital yang kreatif. Pengalaman Pilpres 2024 tentu bisa menjadi contoh. Bagaimana serangan udara yang dijalankan Prabowo-Gibran dengan gimik gemoy yang mampu merebut hati pemilih muda.
Hal ini menuntut calon kepala daerah untuk tidak hanya hadir dalam kampanye tradisional tetapi juga aktif dan inovatif dalam memanfaatkan media sosial dan teknologi untuk menjangkau pemilih muda. Calon pemimpin perlu menyusun strategi yang dapat menarik perhatian pemilih muda melalui kampanye digital yang menarik dan relevan. Pendekatan ini harus mencakup penggunaan media sosial untuk berinteraksi langsung dengan kaum muda, penyampaian pesan yang sesuai dengan tren dan bahasa generasi muda, serta penyediaan konten yang menarik dan mudah diakses.
Selain itu, penting bagi calon kepala daerah untuk membangun hubungan yang autentik dengan pemilih muda. Ini bisa dilakukan dengan cara menyelenggarakan diskusi terbuka, forum interaktif, atau acara komunitas yang memungkinkan pemilih muda untuk menyampaikan aspirasi dan berdialog langsung dengan calon. Melibatkan mereka dalam pembuatan kebijakan atau program-program yang berkaitan dengan isu-isu yang mereka pedulikan juga akan meningkatkan rasa keterlibatan dan kepemilikan terhadap proses politik yang diperjuangkan.
Memenangkan Hati Pemilih Muda
Kampanye yang efektif untuk pemilih muda harus mencerminkan komitmen nyata terhadap isu-isu yang penting bagi mereka, seperti pendidikan, lapangan pekerjaan, kesehatan mental, dan keberlanjutan lingkungan. Program-program yang menawarkan solusi konkret dan berkelanjutan untuk masalah-masalah ini akan lebih resonan dengan kaum muda dan meningkatkan peluang untuk mendapatkan dukungan mereka. Kampanye dan penyampaian program yang ditawarkan tentu harus dikemas dengan bahasa anak muda. Bahasa yang sederhana, mudah dipahami dan terkadang tidak perlu terlalu detail.
Mengingat karakteristik pemilih muda yang cenderung mudah berubah dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, calon kepala daerah harus mampu menyesuaikan strategi mereka secara fleksibel dan responsif. Mereka harus siap untuk merespons perubahan dalam opini publik dengan cepat dan efektif, serta terus-menerus memperbarui pesan kampanye mereka untuk tetap relevan dengan kebutuhan dan harapan pemilih muda.
Kita ingat, bagaimana kesalahan pengucapan asam sulfat oleh Gibran saat kampanye Pilpres bisa direspons dengan baik dengan menggubah menjadi Samsul. Strategi ini justru mampu menguatkan dukungan kepada Prabowo-Gibran dan memenangkan kontestasi Pilpres 2024.
Pada akhirnya, tulisan ini bukanlah sebuah resep untuk memenangkan Pilkada. Melainkan hanya sebatas deteksi dini agar para calon kepala daerah dapat mendengarkan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan generasi muda, tanpa harus menghilangkan esensi dari visi dan misi yang mereka tawarkan. (*)
*) Isnan Nursalim, Mahasiswa Magister Politik dan Pemerintahan UGM, Peneliti Political Research and Marketing (POLRAM)
Editor : Rury Anjas Andita